Kamis, 1 Oktober 2020 | 20:01 WIB

TATAN DANIEL ; "SILENT ACTION #23 FROM HOME"

foto

 

SILENT ACTION #23 FROM HOME.

www.transaktual.com

Jumat sore ini seyogyanya silent action masih berlangsung di teater trotoar Jl. Cikini Raya 73. Namun, meski penduduk kota masih di karantina, gerakan #saveTIM, upaya mengembalikan marwah TIM, merevisi ulang hal-hal yang selama ini terasa karut-marut dan bersilang-sengkarut, tetaplah berjalan. Tetaplah disuarakan oleh teman-teman yang bergabung dalam Forum Seniman Peduli TIM, di mana saja. Di Jakarta dan luar Jakarta.

Sampai kapankah?

Ya, sampai semua tuntutan yang dilancarkan diakomodir dengan baik, dengan cara-cara yang sehat dan terhormat. Sejauh ini, pemahaman dan iktikad baik telah ditampakkan oleh Kepala Dinas Kebudayaan DKI Jakarta yang baru. Seorang birokrat muda yang berani, terbuka, berwawasan, dan sigap mendengar dengan khidmat pelbagai usul, saran, masukan, kritik keras, dan tuntutan Forum Seniman Peduli TIM. Dari dua kali diskusi terbatas yang ia dipimpin, dan kehadiran beliau secara informal di Posko #saveTIM, mewakili Gubernur DKI Jakarta, banyak usulan revisi fisik yang disampaikan oleh FSP-TIM berkenaan dengan proyek revitalisasi TIM, dapat dibahas bersama secara intens, dan kini memasuki tahap disain ulang oleh arsitek Andra Matin.

Masih ada diskusi berikutnya. Antara lain, ikhwal mendudukkan kembali filosofi pengelolaan TIM sebagai pusat ekosistem kesenian dan lebensraum kaum seniman di Jakarta dan Indonesia. Ini pun topik yang amat krusial, yang wajib dijernihkan dan diluruskan.

Jika semuanya berjalan baik, dan mewujud dalam kesepakatan bersama yang demokratis, *legitimed,* dan saling memberi maslahat, antara pembuat kebijakan, pemangku kesenian, serta pegiat kesenian, dan ruh Taman Ismail Marzuki kembali lagi, maka, agaknya, itulah saatnya Forum Seniman Peduli TIM akan bertranformasi menjadi 'ruang' kajian kritis terhadap persoalan-persoalan kesenian dan seniman lainnya yang belum selesai. Tentu saja, ia tetaplah sebagai 'organisasi tanpa bentuk' yang bersifat gerakan moral.

Kalaupun nanti ada prosesi tabur bunga tujuh rupa, dan penyiraman air 'pesejuk', setawar sedingin, seperti yang dilakukan di tengah reruntuhan Graha Bhakti Budaya ini, tidak lagi dengan hati yang diliputi kesedihan, kecewa, masygul, dan amarah. Tapi dengan sukacita dan harapan baik, bahwa Taman Ismail Marzuki benar-benar akan menjadi rumah seniman yang lapang, tenteram, dinamis, dengan kedaulatan penuh di tangan seniman. Menjadi 'heritage' yang tak boleh diganggu gugat lagi sampai seratus-dua ratus tahun ke depan!

Tatan Daniel/Transaktual.