Kamis, 14 November 2019 | 06:46 WIB

Sidang Kasus Sabu di PN Bandung, Terdakwa Kepemilikan Sabu 20 Kilogram Terancam Hukuman Mati

foto

 

Kasus kepemilikan sabu seberat 20 kilogram, Asep Saefulloh, sedang berbincang dengan penasihat hukumnya saat menjalani persidangan di Pengadilan Negeri Bandung, Selasa, 20 Agustus 2019.

www.transaktual.com

Terdakwa kasus kepemilikan sabu seberat 20 kg, Asep Saefulloh, terancam hukuman mati. Selain Asep, terdakwa lainnya yaitu Gilang Fatria, Lingga Gustariah, Reza Januardi didakwa dengan pasal berlapis dalam kasus yang sama.

Hal tersebut terungkap dalam sidang yang digelar di Pengadilan Negeri Bandung, Selasa, 20 Agustus 2019. Sidang tersebut dibagi dua, yakni satu persidangan yang dipimpin Sri Mumpuni menyidangkan tiga orang terdakwa, sedangkan terdakwa Asep disidangkan dalam sidang terpisah dipimpin oleh Daryanto.

Dalam dakwaan yang dibacakan Jaksa Penuntut Umum Angga, disebutkan bahwa terdakwa dikenakan pasal berlapis, yakni melanggar pasal 114 ayat 2 dan pasal 130 ayat 1 Undang Undang Narkotika. Dan dakwaan subsider pasal 112 ayat 2 dan pasal 132 ayat 1 Undang Undang Narkotika dengan ancaman hukuman mati.

Dalam dakwaan disebutkan keempat pelaku berhasil diciduk oleh petugas Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jabar di Cirenghas, Kabupaten Sukabumi. Keempat tersangka diciduk aparat bersama barang bukti seberat 20 kg.

Penangkapan para terdakwa berawal dari pengembangan kasus peredaran narkoba jenis ganja pada 2016 dengan barang bukti 2 ton ganja siap edar. Dari hasil pengembangan itu diketahui Asep berperan sebagai orang yang mendapat order dari J yang merupakan seorang napi yang ada di Lembaga Permasyarakatan Medaeng Surabaya. 

Setelah mendapat order, Asep kemudian bersama tiga terdakwa lainnya berangkat menuju Dumai, Riau, melalui jalan darat. Rute perjalanan komplotan ini, dari Sukabumi-Bogor-Jakarta-Merak (Banten)-Lampung-Sumsel-Bengkulu-Riau.

Sesampainya di Dumai, Riau, Asep dan tiga kaki tangannya menginap selama empat hari di hotel. Setelah sabu dari Taiwan diterima, mereka kembali ke Sukabumi melalui jalur darat. Petugas BNNP Jabar pun membuntuti sindikat jaringan Aceh ini sejak dari Tulangbawang Lampung sampai Sukabumi.

Sesampainya di Sukabumi, aparat kepolisian berkoordinasi dengan instansi terkait termasuk BNN RI dan Polres Sukabumi. Mereka berhasil ditangkap pada 9 Februari 2019.

Dari hasil penangkapan itu diamankan sabu yang dikemas dalam 20 bungkus dengan jumlah keseluruhan seberat 20 kilogram. Setelah dilakukan pengecekan, ternyata sabu tersebut tergolong jenis kelas 1 atau kadarnya sangat berbahaya. 

Para terdakwa dijanjikan akan mendapatkan imbalan bila sabu tersebut sampai kepada pemesannya. Akan tetapi, selama proses penjemputan barang haram tersebut, Asep bersama tiga terdakwa lainnya telah diberikan uang dengan cara ditransfer dari J sebesar Rp 55 juta ke rekening Asep. Usai pembacaan dakwaan, hakim memberikan waktu kepada pengacara dan jaksa untuk mempersiapkan saksi pada sidang berikutnya.

Sabu Seberat 20 Kilogram yang Diamankan di Sukabumi Dikendalikan Narapidana di Surabaya.

Kepemilikan sabu seberat 20 kg yang setara nominal Rp20 miliar tidak lepas dari peran narapidana di Surabaya yang bernama Zulfadli. Sebelum dipenjara, Zul menyuruh terdakwa Asep Saefulloh untuk mengambil narkotika golongan satu tersebut di Dumai Riau. Asep sendiri dijanjikan akan mendapatkan imbalan Rp100 juta bila barang haram tersebut sudah sampai ke tangan Dede Mulyana.

Demikian hal tersebut terungkap dalam sidang kepemilikan sabu 20 kg yang digelar di Pengadilan Negeri Bandung Selasa, 24 September 2019.

Kepada majelis hakim, terdakwa Asep menceritakan bahwa pada November 2018, ia bertemu Zulfadli yang menyuruh dirinya untuk membawa sabu dari Dumai ke Sukabumi. Tidak lama kemudian, Zulfadli ditahan karena kasus narkotika.

Selang dua bulan, pada Januari 2019, Zulfadli menelepon kepada Asep untuk mengambil sabu tersebut dengan dijanjikan imbalan Rp 100 juta. Zulfadli pun memberikan uang transport dan akomodasi selama perjalanan.

Pada 8 Februari 2019, Asep bersama tiga temannya yang juga jadi terdakwa dalam kasus yang sama, yakni Gilang Fatria, Lingga Gustariah, dan Reza Januardi, berangkat dengan menggunakan kendaraan dari Bogor menuju Dumai Riau. “Untuk rental mobil, bensin, penginapan dan lain-lain saya mendapatkan dana dari Zulfadli dengan cara ditransfer ke rekening istri saya,” ujar Asep.

Menurut dia, seluruh uang yang ditransfer dari Zulfadli sebesar Rp55 juta. Uang sebesar itu dipakai selama perjalanan dan sisanya dibagi-bagi.

Dua hari kemudian, sabu tersebut berhasil dibawa. Namun saat perjalanan pulang menuju sukabumi, di sekitar wilayah Jambi, Asep mengaku merasa dibuntuti oleh aparat sehingga dia pun ketakutan dan memarkir kendaraan yang membawa sabu itu di pinggir jalan. Asep kemudian kabur ke hutan dan keesokan harinya dia naik kendaraan umum menuju Sukabumi. Namun, Asep akhirnya ditangkap petugas BNN.

Terdakwa didakwa pasal berlapis dan terancam hukuman mati.

Hakim Daryanto sempat menanyakan mengenai status terdakwa yang juga sempat menjadi DPO anggota kepolisian karena membawa kendaraan yang mengangkut 2.5 ton ganja. “Waktu itu saya tidak tahu bahwa yang dibawa itu ganja, tapi saya waktu itu disuruh membawa mobil saja,” ujarnya berkilah.

Seperti diberitakan sebelumnya, Asep Saefulloh, terdakwa kasus kepemilikan sabu seberat 20 kg terancam hukuman mati. Selain Asep, terdakwa lainnya didakwa dengan pasal berlapis dalam kasus yang sama.

Dalam dakwaan yang dibacakan jaksa penuntut umum, Angga disebutkan terdakwa  dikenakan pasal berlapis, yakni melanggar pasal 114 ayat 2 dan pasal 130 ayat 1 Undang Undang Narkotika. Dan dakwaan subsider pasal 112 ayat 2 dan pasal 132 ayat 1 Undang Undang Narkotika dengan ancaman hukuman mati.

Dalam dakwaan disebutkan, keempat pelaku berhasil diciduk oleh petugas Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jabar di Cirenghas, Kabupaten Sukabumi. Keempat tersangka diciduk aparat bersama barang bukti sabu seberat 20 kg.

Penangkapan para terdakwa berawal dari pengembangan kasus peredaran narkoba jenis ganja pada 2016 dengan barang bukti 2.5 ton ganja siap edar. Dari hasil pengembangan itu diketahui Asep berperan sebagai orang yang mendapat order dari Zul yang merupakan seorang narapidana yang ada di Lembaga Permasyarakatan Medaeng Surabaya.

(transakt).