Senin, 9 Desember 2019 | 07:44 WIB

Muda Mudi Pacaran Di Tempat Yang Tidak Wajar, Jadi Masalah Keluarga

foto

Tapteng, www.transaktual.com

Sabtu, pukul 22:30 malam ada seorang warga gonting melihat Orang yang merusak kesopanan di muka umum diduga bermesraan di dalam semak-semak di tempat yang tidak wajar, lokasi kejadian di panjaringan,Desa ute Mungkur lll Dusun gonting ll,kec.kolang, Kab.Tapteng.

Karena warga mengenal keluarga perempuan yang sedang bermesraan dengan kekasih nya ditempat yang tidak wajar, dia memberitahukan kepada saudara perempuan ini mengatakan bahwa adiknya sedang bermesraan kepada laki-laki di tempat yang tidak wajar, “memang saya sudah tegur mereka supaya mereka cepat keluar dari situ”ujar si Abangnya.

Soal kegiatan mereka saya tidak tahu, bahwa karena bermesraan di tempat yang tidak wajar maka dari situ saya larang mereka, ujar abang si perempuan.

Keluarga perempuan menahan laki-laki pacar saudaranya dengan tujuan, bahwa orang tua laki-laki yang datang di rumah mereka agar Febriawan Zendato ini bertanggung jawab, atas perbuatan yang diduga tentang tindak pidana KUHP  pasal 281 merusak kesopanan didepan umum.

Minggu, pada pukul, 07 wib orang tua laki-laki menyuruh anaknya Febriawan memberikan HPnya kepada orang tua pacarnya supaya mereka bisa konfirmasi.

Orang tua laki-laki yang bernam Febriawan Zendato mengatakan bahwa karena jarak tempat yang jauh, maka tidak bisa datang hari ini, tetapi akan suruh saudara yg dekat di kampung sana supaya mendatangi rumah kalian, melalui telepon seluler.

Orang tua perempuan mengatakan bahwa mereka menahan anak tersebut bukan bermaksud jahat, tapi karena perilaku mereka diduga merusak kesopanan di muka umum, kami pihak perempuan merasa malu, maka dari kami memanggil kalian selaku orang tua Febriawan ini supaya kita bisa berkoordinasi dan kita selesaikan secara kekeluargaan perbuatan mereka ini dan apa bila ada kesepakatan kita nanti kita jadikan saja mereka secara adat yang baik kata pihak perempuan melalui telepon seluler.

Pukul 15 wib diduga Dua oknum anggota TNI AD yang bernama Najar Efendi pangkat Sertu dan Situmeang, mendatangi rumah pihak perempuan dengan tujuan menjemput Febriawan zendato.

Najar Efendi mengatakan kepada keluarga perempuan, bahwa kedatangan mereka disini suruhan Danramil atasan kami untuk menjemput laki - laki ini, ingin bertunangan tapi kenapa kalian tahan ujar Najar Efendi.  

Sementara itu pihak perempuan juga bertanya, dengan siapa Febriawan Zendato ini bertunangan ?....ya sama pacarnya itu kata mereka, tapi karena kalian tahan dia disini, makanya pak Dandim menelepon pak Danramil minta tolong untuk menjemput Febriawan Zendato ini Kata Najar Efendi.

Apa permasalahan ini sebenarnya, menurut informasi yang didengar bahwa gara-gara pertunangan “tapi kalian tahan laki-laki ini, jadi saya bingung mendengar masalah ini, Danramil menyuruh kami di sini untuk mengamankan dan membawa Febriawan ini di kantor “ ujar Najar Efendi

Ini bukan masalah pertunangan pak, tapi karena mereka diduga berpacaran di tempat yang tidak wajar makanya kami tahan dia pak, supaya dia bisa bertanggung jawab atas perbuatan nya, ujar keluarga si wanita.

Tadi pagi kami mendengar bahwa orang tua Febriawan ini mengatakan karena jarak tempat kami jauh mereka tidak bisa datang hari ini,tapi pasti dia suruh Famili atau saudaranya dari batang toru datang kesini, tapi kenapa jadi bapak yang datang?..ukapan Rudi waruwu.

“Kami menuruti perintah atasan kami pak, karena laki-laki yang kalian tahan ini keponakan Dandim kami, Dandim menelepon pak Danramil, pak Danramil menyuruh kami disini mengamankan & membawakan Febriawan ini “ Kata Najar Efendi.

Apa yang di amankan orang bapak di sini, tapi tidak ada yang berkelahi dan sedangkan pada kejadian ini semalam pemukulan & pengeroyokan tidak ada terjadi, malahan Febriawan kami kasih tempat tidur dan makan. Kami anggap seperti keluarga kami sendiri dan lagi saudara keluarga orang tua Febriawan ini mau datang di sini.ucap keluarga wanita.

Najar Efendi tetap bersikeras membawa Febriawan Zendato karena itu perintah atasannya, dan beliau wajib menuruti perintah, sehingga semua keluhan masyarakat tidak dipedulikan karena Febriawan harus dibawa ke kantor polisi.

Sebelum Najar Efendi dan Situmeang membawa Febriawan ke kantor Kapolsek kolang, Warga meminta kepada Najar Efendi agar masalah ini di selesaikan secara kekeluargaan, masalah sedikit kenapa begitu cepat di angkat di kantor Kapolsek?. ujar warga.

Keluarga saudara perempuan itu mengatakan kepada warga bahwasanya saudara orang tua Febriawan ini dari batang toru akan datang sekarang di rumah ini, tapi karena perjalanan jauh makanya masih belum sampai di sini, tapi saya heran diduga oknum TNI AD yang bernama Najar Efendi ini tidak mempedulikan ucapan kita, hanya dengan alasan perintah atasannya.

Orang tua perempuan menahan kunci sepeda motor Febriawan dengan tujuan agar Najar Efendi tidak jadi membawakan Febriawan Zendato di kantor Kapolsek supaya bisa di damaikan secara kekeluargaan tetapi Najar Efendi tetap bersikeras harus membawakan Febriawan Zendato di kantor Kapolsek karena itu perintah pak Dandim dan Danramil atasan mereka ujarnya.

Setelah sampai di kantor Polsek, Najar Efendi meninggalkan kantor Polsek tersebut dengan meninggalkan pesan kepada saudara perempuannya bahwa anggota Polsek  yang menangani masalah ini.  “ Saya duluan pulang ya ”kata Najar Efendi

Setelah pak polisi mendengar pokok permasalahan itu dia mengungkapkan bahwa itu masalah kecil, “kenapa kalian bawa kemari, apakah kalian tidak bisa mendamaikan secara kekeluargaan ?, ujar pak polisi.

Pihak perempuan menjawab bahwa sebenarnya bukan mereka tidak mau medamaikan secara kekeluargaan tetapi Najar Efendi yang buru-buru membawa sampai kemari, itu diduga  perintah dari Dandim dan danramil atasan mereka.

Sedangkan kami dan warga tadi mengatakan agae didamaikan secara kekeluargaan dulu tapi tidak diperbolehkan, dia hanya melaksanakan tugas, kalau begitu permasalahan damaikan kalian secara kekeluargaan dulu, jika mereka berdua sama-sama cocok terserah kalian bagai mana kesepakatan kalian kedua belah pihak, ujar Pak Polisi menutup pembicaraan.

(Asarudi Waruwu. transaktual.com.)