Sabtu, 21 Sepember 2019 | 23:06 WIB

Penolakan Ambulans Bawa Jenazah, Kadinkes Tangerang Siap Terima Sanksi dari Walikota Tangerang

foto

 

Terkait Penolakan Ambulans Bawa Jenazah, Kadinkes Tangerang Siap terima sanksi dari Walikota Tangerang.

www.transaktual.com

Wali Kota Tangerang Arief R Wismansyah akan memberikan sanksi kepada petugas Dinas Kesehatan Kota Tangerang yang menolak membawa jenazah Muhammad Husen, bocah yang tenggelam di bantaran Sungai Cisadane Jumat (26/8/2019) lalu. Saat itu petugas puskesmas menolak membawa jenazah lantaran terbentur SOP yang ada. Inspektorat Kota Tangerag yang akan memberikan hukuman.

Arief menjelaskan saat itu alasan petugas puskesmas menolak membawa jenazah lantaran terbentur SOP yang ada. Arief meminta jajaran untuk dapat lebih memperhatikan pelayanan publik.

"Ya kan ada sanksi, saat ini juga. Saya juga sudah tugaskan inspektorat untuk evaluasi sehingga nanti dari Inspektorat sanksi apa yang kita berikan gitu," ungkapnya usai memimpin Apel di Pusat Pemerintahan Kota Tangerang Senin (26/8/2019).

"Mobil jenazah ada lima dan dilakukan oleh Perkim dan menurut saya banyak juga yang swasta. Dan ini mobil jenazah itu, udah ketauan abis kecelakaan tinggal anter doang," kata Arief lagi.

Dalam kejadian itu terdapat korban yang memang harus segera ditindaklanjuti. Dia mengaku kecewa atas kurangnya komunikasi antara petugas dengan pihak terkait.

"Yang terjadi itu anak tenggelam, dibawa, mohon maaf ya kalau kayak bencana gempa, di Palu, yang tiba-tiba komunikasi nggak bisa, apapun nggak bisa, jangan sampai nanti teman-teman birokrat kerja lihat aturan dulu. Itu yang makanya kita harus membiasakan aturan itu menjadi urat nadi pelaksanaan tata kelola, tapi makanya amanatkan, supaya nggak melanggar aturan," kata dia.

Namun demikian atas alasan adanya benturan jika melanggar SOP yang ada Arief mengaku seharusnya Dinkes melihat kepentingan terkait kegawatdaruratan yang ada.

"Artinya, tadi saya bicara masalah Permenkes 2001 misal kaitan ambulans terus ada lagi 2014, kan kita juga punya UU Otonomi Daerah yang bisa sesuaikan kondisi kebutuhan masyarakat, makanya dari situ saya harap kejadian seprrti ini bisa di perbaiki pelayanan Kota Tangerang," kata Arief.

Selain itu Arief juga tidak menerima alasan terkait dampak dari membawa jenazah dengan mobil ambulance 119 yang ada di Puskesmas Cikokol saat itu. Kata Arief, alasan sterilisasi tersebut tidak tepat.

"Ya beli alat sterilisasi, atau beli Betadine bisa. Pakai alkohol juga bisa, banyak hal hal yang sebenernya secara terknis hal itu bisa dilakukan. Jadi, makanya saya pikir sejauh mana sistem ini mampu memfasilitasi tugas pokok dan fungsi aparatur di lingkungan tanpa harus melawan aturan juga. Jadi hal.itu menurut saya bisa ditanggulangi," tandasnya.

Wali Kota dikasih 'jenazah'.

Pagi usai apel rutin, para Aparatur Sipil Negara (ASN) di Pemerintah Kota Tangerang disuguhkan dengan pemandangan dua orang masyarakat yang membopong dua boneka jenazah di gerbang halaman Pemkot Tangerag Senin (26/8/2019). Hal ini merupakan buntut panjang dari insiden tragis yang terjadi saat paman membopong jenazah ponakannya di Puskesmas Cikokol, Kota Tangerang.

Boneka jenazah tersebut diserahkan kepada Wali Kota Tangerang Arief R Wismansyah sebagai bentuk kekecewaan atas pelayanan kesehatan yang dianggap tidak berkualitas. Marcel, seorang masyarakat yang membopong jenazah ini mengatakan dirinya mengaku kecewa atas kejadian tragis yang terjadi di Puskesmas Cikokol saat itu.

"Kami izin sama bapak - bapak (Petugas Satpol PP) ingin menyerahkan jenazah ini ke Pak Wali Kota Tangerang," kata dia di gerbang Puspem Tangerang, Senin (26/8/2019).

Marcel mengaku kecewa atas kejadian tersebut. Menurut dia dalam hal ini Wali Kota Tangerang tidak cukup hanya dengan meminta maaf saja.

"Permintaan maaf tidak cukup atas kejadian ini. Kenapa hanya ingin meminta diantar Ambulance saja harus terbentur SOP," ucapnya.

Bahkan dirinya menyebut kejadian serupa pernah terjadi juga di wilayah puskesmas yang ada di Kota Tangerang. Atas kejadian tersebut korban di klaim meninggal dunia.

"Kejadian lambatnya pelayanan kesehatan ini juga sempat terjadi di wilayah Pusekesmas Panunggangan Barat saat itu. Bahkan akibatnya seorang anak kecil meninggal," ucapnya.

Atas kejadian ini, lanjut Mercel, dirinya meminta Wali Kota Tangerag Arief R Wismansyah bersikap tegas. Dia meminta agar Wali Kota Tangerang segera mencopot Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang Dr Liza Puspadewi.

"Wali Kota Tangerang harus tegas atas kejadian ini. Copot segera Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang, jangan sampai kejadian ini terulang kembali," tukasnya.

Pada pukul 8:42, Marcel bersama satu orang warga lainnya yakni Umar memasuki halaman Puspem Kota Tangerang. Namun begitu saat hendak menemui Wali Kota Tangerang keduanya harus menunggu kembali di depan gedung Kantor Wali Kota Tangerang.
 
Kadis Kesehatan Kota Tangerang "Pasrah".
Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang, Liza Puspadewi, menegaskan siap bila harus dicopot dari jabatannya, terkait kasus penolakan layanan ambulans untuk membawa jenazah Muhammad Husein, korban tenggelam.

"Memang nantinya, Wali Kota Tangerang (Arief R Wismansyah) akan memberikan sanksi sesuai dengan aturan yang ada, setelah mendapatkan hasil dari pemeriksaan inspektorat. Soal hal ini, saya beserta jajaran siap menerimanya dan saya juga siap bila harus dicopot dari jabatan," katanya di Gedung Dinas Kesehatan Kota Tangerang, Senin 26 Agustus 2019.

Tidak hanya itu, dengan kasus tersebut pihak Dinas Kesehatan akan meningkatkan kembali empati yang harus dimiliki oleh setiap petugas kesehatan.

"Kita juga sadari, kami (pegawai) di sini terlalu melihat SOP, sehingga rasa empati yang ada jadi berkurang. Adanya hal itu pun, saya memohon maaf dan kita akan lakukan perbaikan," ujarnya.

Menurut dia, sejauh ini setiap jajaran Dinas Kesehatan melakukan petunjuk pelaksana dan teknis sesuai, dengan standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku dalam Peraturan Menteri Kesehatan tahun 2001.

"Sejauh ini kita sudah sesuai dengan petunjuk. Namun, dengan adanya kejadian ini, aturan yang ada tersebut telah direvisi, di mana, berdasarkan Undang-Undang Otonomi Daerah tahun 2014, ambulans yang digunakan untuk pasien dapat digunakan juga untuk membawa jenazah dengan kondisi darurat," ujarnya.

Diketahui, jenazah Muhammad Husein, korban tenggelam di Sungai Cisadane terpaksa harus digendong pamannya, Supriyadi, karena tak bisa menggunakan ambulans Puskesmas Cikokol. Sebab, ambulans yang ada untuk membawa pasien yang sakit, bukan jenazah.

Petugas meminta keluarga Husein menghubungi layanan 112 yang merupakan layanan kedaruratan. Layanan itu antara lain menyediakan mobil jenazah gratis. Tapi setelah ditunggu oleh keluarga Husein, layanan mobil jenazah tersebut nyatanya tidak dapat diakses.

Kemudian, dalam perjalanan menuju rumah duka di Kampung Kelapa Indah, Tangerang, Supriyadi mendapatkan tumpangan dari salah seorang warga setempat yang membantunya mengantarkan jenazah Husein hingga di kediaman.

Diketahui, sekarang ini, jenazah Muhammad Husein telah dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Cikokol, Tangerang. (ren)

(transakt)