Kamis, 17 Oktober 2019 | 05:13 WIB

Kadisnaker Jabar ; “Angka Pengangguran Jabar Tertinggi Nasional “

foto

 

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jabar, M. Ade Afriandi. (Nur Khansa Ranawati/ayobandung.com).

www.transaktual.com

Angka pengangguran terbuka di Jawa Barat (Jabar) pada Februari 2019 menjadi yang tertinggi se-Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Jabar pada periode tersebut mencapai 7,73%.

Sementara, angka TPT Indonesia berada di kisaran 5,01%. Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jabar, M. Ade Afriandi mengatakan terdapat sejumlah faktor yang menyebabkan provinsi ini berada di posisi paling 'bontot' pada peringkat TPT, meskipun sesungguhnya angka tersebut sudah turun dibandingkan dengan tahun lalu.

"Kalau berbicara khusus Jabar, sebetulnya posisi pengangguran kita itu turun dari 8,16% di Februari 2018 menjadi 7,73% di Februari 2019. Jabar juga kan penduduknya 20% dari jumlah nasional. Selain itu peluang kerja di Jabar banyak mengundang ketertarikan masyarakat," ungkapnya  ketika ditemui di Gedung Sate, Senin (29/7/2019).

Dia mencontohkan, Bekasi menjadi salah satu daerah yang menjadi primadona para pencari kerja di luar Jabar karena berbagai fasilitas dan besaran upah yang disediakan. "Nah kepindahan ke Bekasi itu kan enggak serta-merta merubah status mereka (jadi pekerja), sehingga saat mereka masuk belum dapat kerja akhirnya nganggur. Ini terjadi bukan hanya musim Lebaran saja, tapi setiap hari," jelasnya.

Ketika ditanya kelompok usia yang paling banyak menjadi penganggur di Jabar, Ade memaparkan bahwa usia lulusan SMA dan SMK menjadi salah satunya. Menurutnya, saat ini banyak penduduk berpendidikan menengah dan tinggi tidak dapat masuk pada sektor industri formal, baik karena kesenjangan standar kompetensi maupun karena keterbatasan industri yang dapat menyerap tenaga kerja tersebut.

"Ada yang tertunda, misalnya warga lulus sekolah dan kuliah kemudian belum dpat kerja. Kalau lulusan SMA-SMK rata-rata ada 200 ribuan se-Jabar dan yang kuliah hanya 70 ribu, 130 ribu sisanya bisa jadi menganggur," ungkapnya.

Dia juga mengatakan telah terjadi pergeseran pekerja sektor formal ke sektor-sektor informal. Untuk itu, pihaknya saat ini tengah mempersiapkan sejumlah program khusus guna memperluas penyerapan tenaga kerja sekaligus seperti Migran Juara, Milenial Juara, dan Smart Nakertrans.

"Jadi nanti warga bisa dapat sertifikasi keahlian, bukan hanya pelatihan. Ini juga tidak mungkin hanya diselesaikan Disnaker sendirian, harus ada pelibatan dinas-dinas lain," ungkapnya. 
(Fira Nursyabani/TRANSAKT)