Jumat, 15 November 2019 | 18:10 WIB

Protes PPDB, Puluhan Orang Tua Siswa Tabur Bunga di Balaikota Bandung

foto

 

Protes PPDB, Puluhan Orang Tua Siswa Tabur Bunga di Balaikota Bandung.

Foto: Mochamad Solehudin

www.transaktual.com

Sejumlah orang tua siswa melakukan aksi unjuk rasa di depan Balai Kota Bandung. Mereka memprotes pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tingkat SMP dengan sistem zonasi karena dinilai merugikan. 

Pantauan dilapangan, puluhan orang tua siswa yang didominasi emak-emak itu tiba di depan Balai Kota Bandung. Dalam aksinya itu, mereka membawa berbagai macam atribut dan poster berisi berbagai macam tuntutan. 

Mereka juga sempat melakukan tabur bunga di depan gerbang Balai Kota Bandung sebagai simbol matinya keadilan dunia pendidikan di Indonesia. Pasalnya PDPDB dengan sistem zonasi menyebabkan banyak calon siswa tidak bisa mengakses pendidikan terbaik. 

Salah satu peserta aksi Lilis Setiawati yang tinggal di wilayah Babakan Sari, Kota Bandung menyatakan, dari hasil PPDB tahun ini anaknya tidak diterima di SMP Negeri yang dituju. Padahal dia menyebut, alamat rumahnya tidak jauh dari sekolah yang dituju sekitar 200 meter. 
"Terus anehnya ada siswa yang masuk dan dicek sama saya pake google maps jarak rumahnya 500 meter tapi bisa masuk," kata Lilis dalam orasinya. 

Dia yang mengaku sebagai warga kurang mampu juga menuturkan, telah mencoba jalur rawan melanjutkan pendidikan saat mendaftar ke sekolah swasta. Namun upayanya kembali gagal setelah anaknya diketahui tidak diterima. 

"Coba ke sekolah swasta tetap tidak bisa karena disebut telat dan kuota jalur ini habis. Padahal saya sudah daftar anak saya dari awal," ucapnya. 

Di lokasi yang sama, Ketua Forum Masyarakat Peduli Pendidikan Jawa Barat Ila Setiawati menuturkan, PPDB dengan sistem zonasi cukup merugikan masyarakat. Pasalnya penerimaan siswa dengan sistem tersebut justru menyebabkan permasalahan baru.

Karena menurutnya, tidak semua wilayah terdapat sekolah negeri. Hal itu tentu menjadi salah satu masalah yang dihadapi para orang tua siswa ketika akan mendaftarkan anaknya ke sekolah. 
"Mereka belum tertampung di sekolah negeri maupun swasta. Banyak masyarakat yang sekarang ini jadi korban sistem zonasi. Banyak masyarakat yang diwilayahnya itu tidak memiliki sekolah," katanya. 

Dalam kesempatan itu, dia meminta Pemkot Bandung untuk bisa mengakomodir khususnya siswa RMP yang belum bisa diterima di sekolah negeri untuk masuk ke sekolah swasta tanpa pungutan biaya.

"Ke depan kami minta ada keseimbangan juga untuk yang zonasi dan jalur akademik berprestasi tapi tidak masuk zonasi dengan jarak jauh dari sekolah," ujarnya.
(mso/ern/transakt)