Jumat, 25 Sepember 2020 | 20:25 WIB

Anak Butuh Biaya, Para Pekerja Hiburan Malam di Kota Bandung Unjuk Rasa

foto

 

Bila Pekerja Hiburan Malam di Kota Bandung Unjuk Rasa.

www.transaktual.com

Ratusan pekerja hiburan malam menggelar aksi damai di depan Balai Kota Bandung, Jawa Barat, Senin (3/8). Massa mendesak Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung membuka kembali lahan pencarian nafkah mereka yakni tempat hiburan malam seperti karaoke dan spa di masa Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB).

Berdasarkan pantauan di lokasi sekitar pukul 12.00 WIB, tampak massa berkerumun di depan pintu masuk Balai Kota Bandung. Mereka menggelar orasi dan membawa sejumlah spanduk dan poster berisi protes. Beberapa poster di antaranya bertuliskan, 'Buka Kembali Tempat Kami Kerja, Kami Siap Menjalankan Protokol Covid-19'. Sementara salah satu spanduk berisi, 'Jangan Tutup Ladang Rezeki Kami'.

Setelah berorasi, perwakilan massa menemui sejumlah pejabat di Pemkot Bandung. Ketua Perkumpulan Pegiat Pariwisata Bandung (P3B) Jawa Barat Rully Panggabean, aksi damai pekerja hiburan malam sebagai bentuk ketidakpuasan terhadap Pemkot Bandung yang masih belum memberikan izin tempat hiburan malam untuk kembali buka.

"Pagi ini kami mengadakan aksi damai di depan Balai Kota untuk menyatakan aspirasi. Karena prosesnya sudah panjang yang kita lalu. Kita sudah menghadap, bahkan gugus tugas sudah meninjau tempat kami di mana kami siap jalankan protokol kesehatan," ucapnya.

Rully menuturkan, para pekerja hiburan malam sudah cukup lama menanti kejelasan akan dibukanya tempat hiburan. Namun sampai saat ini belum diberikan izin.

"Saya mewakili mereka karena ingin cari solusi. Kalau tidak bisa buka, enggak apa-apa, ya kasih bansos (bantuan sosial). Saya juga sudah enggak tahan beberapa bulan ini pegawai kasbon, pinjam uang," ujarnya.

Menurut Rully Panggabean, bahwa saat ini kondisi di masa pandemi membuat para pekerja kesulitan ekonomi. Oleh karena itu, ia berharap Pemkot Bandung segera memberi solusi untuk membuka kembali tempat hiburan malam.

"Kita sudah berkali-kali ke sini, sama sekda direspon baik. Tapi, kan kita butuh kepastian kapan," ucapnya. Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung Dewi Kaniasari telah menerima aspirasi dari sejumlah pengunjuk rasa. Pihaknya pun berjanji akan mencari solusi atas kondisi saat ini.

"Sekarang kita apresiasi dulu mereka ingin komunikasi dengan pemerintah. Karena kita juga harus perhatikan kesehatan warga yang lain, kita perhatikan juga ekonominya maka harus ada jalan tengah," ujar Kenny, panggilan Dewi Kaniasari.

Menurut Kenny, pihaknya sudah melakukan pengecekan kesiapan tempat hiburan sejak tiga pekan lalu. Sekitar 80 persen tempat hiburan, kata dia, sudah siap menjalankan protokol kesehatan.

"Tapi kan tidak hanya kesiapan di lapangan saja, secara keseluruhan Kota Bandung seperti apa. Pada saat kita usulkan juga ada kejadian (kasus Covid-19) di Secapa dan sekarang Gedung Sate," ucapnya.

Secara umum, Kenny menjelaskan, tempat hiburan memberikan kontribusi untuk Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Bandung sebesar 30 persen.

"Jadi PAD sektor pariwisata hampir 30% salah satunya dari hiburan makanya kami perhatikan aspirasinya. Tapi tetap harus dicari jalan tengah antara kesehatan dan ekonomi. Makanya dialog dulu," katanya.

Untuk diketahui, Wali Kota Bandung telah mengeluarkan Peraturan Wali Kota (Perwal) Nomor 43 Tahun 2020 tentang pedoman pelaksanaan adaptasi kebiasaan baru (AKB) dalam rangka pencegahan dan pengendalian virus corona (Covid-19).

Pada Pasal 23 disebutkan kegiatan/aktivitas yang masih dilarang di antaranya, usaha sektor hiburan meliputi pub/klab malam/bar, karaoke, diskotik, bioskop, salon kecantikan, klinik kecantikan, panti pijat, refleksi, mandi uap, spa/massage, arena bermain anak dan arena permainan.

Untuk kegiatan usaha lokasi wisata meliputi destinasi wisata luar ruangan untuk anak-anak seperti taman lalu lintas dan taman bertema. Termasuk kegiatan usaha gelanggang seni, event, dan konser musik.

Para pengunjuk rasa melakukan aksi sambil membawa spanduk dan karton berukuran besar, bertuliskan berbagai tuntutan kepada pemerintah Kota Bandung. Satu per satu peserta aksi bergantian menjadi orator.

Salah seorang peserta aksi, Winni, 32, mengaku tidak mendapatkan kompensasi selama pandemi covid-19 dari tempatnya berkerja. Dia berharap pemerintah bisa kembali membuka tempat hiburan malam.

"Gaji enggak dapat, enggak ada kompensasi apapun. Mereka menjanjikan memberi per bulan Rp600 ribu itu per tiga bulan, tapi sampai sekarang tidak ada," ucap Winni. Senin, 3 Agustus 2020.
Ketua P3B (Perkumpulan Penggiat Pariwisata Bandung), Rully Panggabean, mengatakan aksi dilakukan lantaran kebingungan para pekerja di tempat hiburan malam. Dia menuturkan, banyak orang yang menggantungkan nasibnya di tempat hiburan malam.

"Kalau memang tidak bisa dibuka kasih bansos atuh, saya juga enggak tahan pegawai minta kasbon. Mohon dimengerti, ini bukan sesuatu yang menantang jago, ingin menyampaikan aspirasi saya tidak ingin mengadakan aksi tapi enggak tahan lagi, mudah-mudahan ada solusi," kata Rully.

Sebelumnya, Pemerintah Kota Bandung telah melakukan peninjauan ke 80 tempat hiburan di Kota Bandung. Dari hasil peninjauan tersebut, para pemilik tempat hiburan sebenarnya telah menerapkan standar protokol kesehatan.

"Kami minta keadilan. Pasar buka, mall buka, kami juga minta (tempat hiburan) buka. Anak istri kami butuh makan," teriak salah seorang orator dalam aksi tersebut.

Salah seorang peserta aksi demo, Winni, yang bekerja di Addict Karaoke menuturkan selama tempat ia bekerja ditutup, ia tidak mendapat kompensasi apa pun dari pemerintah.

"Anak juga kan di rumah walaupun enggak (belajar) di sekolah, tapi kan tetap pihak sekolah itu meminta untuk biaya apa gitu kan," kata Winni.

"Walaupun mereka di rumah, pihak sekolah tetap telepon meminta pembayaran tiap bulan untuk daftar ulang. Kita dapat uang darimana kalau gak dari tempat hiburan ini?" tambahnya.

Ia berharap agar tempat hiburan malam di Bandung segera dapat dibuka dan ia dapat bekerja kembali.

"Pengennya sih dibuka kembali di Kota Bandung ini, biar kita bisa bekerja kembali untuk memberi anak-anak kita makan, hanya itu harapan kami. Ingin dibuka, hanya itu harapan kami," ucapnya.

Di lokasi aksi demo turut digelar pelaksanaan rapid test bagi yang mau. Dari informasi yang dihimpun, ada 19 peserta demo, dua diantaranya menunjukkan hasil reaktif. Namun belum ada yang dapat dikonfirmasi terkait dengan kebenaran informasi tersebut.

 

(Cesar Yudistira/transakt)