Jumat, 25 Sepember 2020 | 20:07 WIB

Jalani Pemeriksaan Di Gedung KPK, Dadang Tegaskan Pinjamkan Uang Ke Edi Siswadi dan Herry Nurhayat

foto

 

Jalani Pemeriksaan Di Gedung KPK, Dadang Tegaskan Pinjamkan Uang Ke Edi Siswadi dan Herry Nurhayat.

www.transaktual.com

Dadang Suganda alias Demang kembali diperiksa oleh Penyidik KPK (7/8/2020). Dalam pemeriksaan tersebut, Demang menegaskan bahwa Edi Siswadi meminjam uang secara pribadi miliknya dan memberikan hewan kurban berupa kambing 250 ekor dan sapi 200 ekor senilai Rp 4,5 miliar. Herry Nurhayat juga melakukan hal yang sama, meminjam Rp 2 miliar dari Demang.

Pemeriksaan Demang di KPK didampingi oleh H. Anwar Djamaludin, SH., MH selaku Penasehat Hukumnya. Anwar lalu membeberkan sebagian hasil pemeriksaan tersebut kepada indofakta khususnya terkait peminjaman uang secara pribadi kepada mantan Sekda Kota Bandung, Edi Siswadi dan mantan Kepala Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah (DPKAD) Kota Bandung Herry Nurhayat.

Melalui rilisnya, Anwar mengutip Berita Acara Pemeriksaan) Demang sebagai berikut, "Selain pinjaman Rp1,75 miliar Dadang Suganda juga memberikan hewan berupa 250 ekor kambing (dengan harga 1 ekor Rp 3,5 juta) kemudian 200 ekor sapi (dengan harga 1 ekor nya Rp 18 juta) sehingga total yang diberikannya kurang lebih sebesar Rp 4,5 miliar. Pemberian hewan kambing dan sapi ini atas permintaan Edi Siswadi untuk dibagikan ke Dewan Keluarga Mesjid (DKM) Kota Bandung dalam rangka Hari Raya Idul Adha antara tahun 2011 atau 2012," paparnya.
Dadang Suganda juga memberikan pinjaman  dengan total kurang lebih Rp 10 miliar yang diberikan secara bertahap sesuai dengan permintaan Edi Siswadi. Uang diberikan setiap Edi Siswadi datang ke rumah Dadang Suganda,  terkadang sebelumnya Edi Siswadi menghubungi Dadang untuk permintaan uang tersebut. Ada juga datang langsung secara tiba-tiba ke rumah Dadang. Pada saat Edi Siswadi   datang selalu didampingi oleh ajudan yang bernama Luffan dan Ayi serta pengawalnya bernama Deden. Pemberian pinjaman tersebut untuk kepentingan Edi Siswadi mengikuti pemilihan Walikota Bandung."

Masih menurut Anwar, selain kepada Edi Siswadi, Demang juga meminjamkan uangnya kepada terdakwa Herry Nurhayat. "Mengenai uang Rp 2 miliar seingat Dadang sekitar tanggal 20 Desember 2012. Klien saya dihubungi beberapa kali oleh Herry Nurhayat melalui sambungan telepon. Herry Nurhayat mengatakan mau pinjam uang Rp 2 miliar. Permintaan tersebut beberapa kali ditolak. Tanpa jemu kemudian Dadang di telepon lagi oleh Herry Nurhayat dengan mengatakan, "Kang tolong saya, kan baru dapat uang, saya penting sekali dan pinjam tak akan lama dikembalikan." Akhirnya Dadang saya menyetujui dan menyuruh Herry Nurhayat datang ke rumah.  Pada saat itu Herry Nurhayat datang sekitar jam 4 sore (jam 16). Setelah sampai, Herry Nurhayat mengobrol dengan Dadang. Karena tidak ada uang tunai Rp 2 miliar maka Dadang Suganda memberikan cek BRI senilai Rp 2 miliar.  Herry Nurhayat menyampaikan kepada Dadang, "cek ini harus cair besok". Pada hari berikutnya Dadang Suganda dikonfirmasi oleh Bank BRI Cabang Naripan ada konfirmasi pencairan cek 2 miliar dan mengiyakan pencairan tersebut."

Mengenai maksud dari perkataan Herry Nurhayat yang mengatakan, "Kang tolong saya kan baru dapat uang, saya penting sekali dan pinjam tidak lama dikembalikan," adalah Herry Nurhayat mengetahui saya baru menerima pencairan atas ganti rugi tanah RTH yang diajukannya ke Pemkot (Bandung) untuk dibebaskan, kemudian Herry Nurhayat mau meminjam uang Dadang Suganda."

Selanjutnya menurut Anwar, waktu sidang Rabu lalu (5/8/2020) sudah dijelaskan oleh Dadang Suganda bahwa tanah yang  di lokasi RTH sudah ada sebahagian tanahnya terlebih dahulu, lalu Dadang Suganda membeli tanah-tanah tersebut sesuai prosedur dengan penjual asal tanah dihadapan Notaris/PPAT Yudi Priadi, SH dan menjual tanah tersebut lagi ke Pemkot Bandung, sesuai juga prosedur yang dibuat oleh Pemkot sendiri, NJOP sesuai dengan prosedurnya, dan semua berkas atas tanah sudah diserahkan ke panitia Pengadaan Untuk RTH yang dibentuk oleh Pemkot Bandung (DPKAD). Jadi Dadang Suganda tidak  mengetahui kalau ada harga kenaikan di NJOP karena begitu persyaratan semua terpenuhi maka diterima oleh panitia. Harga ganti rugi sesuai dengan kesepakatan antara pemilik tanah dgn panitia RTH. Dan dalam hal ini Dadang Suganda mewakili diri sendiri selaku pemilik tanah yang telah dibeli dari pemilik asal tanah sesuai bukti PPJB lunas dan setelahnya, oleh pemilik asal diberikan Surat Kuasa Menjual yang dibuat oleh Notaris/PPAT Yudi Priadi, SH," pungkasnya.

Status Dadang Suganda sampai saat ini adalah sebagai tersangka dalam perkara tindak pidana korupsi Pengadaan Tanah Untuk Sarana Ruang Terbuka Hijau (RTH) dengan kerugian negara lebih dari Rp 69 miliar. Tiga Terdakwa lainnya adalah Tomtom Dabbul Qomar, Kadar Slamet dan Herry Nurhayat yang masih menjalani persidangan di Pengadilan Tipikor Bandung. Masa tahanan Dadang Suganda akan berakhir tanggal 24 Agustus 2020. Sejauh ini belum diketahui apakah KPK segera melimpahkan berkas perkaranya ke Pengadilan atau masih memperpanjang masa penahanan makelar tanah itu.

 (CHS/Rls-AD/transakt).