Jumat, 25 Sepember 2020 | 21:09 WIB

Mister "Demang" Dadang Suganda Akui Pinjamkan Uang Hasil RTH Ke Mantan Sekda Kota Bandung

foto

 

Mister "Demang" Dadang Suganda Akui Pinjamkan Uang Hasil RTH Ke Mantan Sekda Kota Bandung.

Masih mengenai pinjaman uang ke mantan Sekda Kota Bandung Edi Siswadi, Demang saat memberi keterangan ditemani Penasehat Hukumnya, Anwar Djamaluddin, SH.,MH yang duduk di kursi pengunjung sidang, menjelaskan bahwa maksud Edi Siswadi meminjam uang adalah untuk mengikuti proses Pilkada Kota Bandung. Edi Siswadi sering datang ke rumahnya secara mendadak pinjam uang. Kadang-kadang seperti panik. Demang tidak tahu untuk apa saja digunakan oleh Edi Siswadi uang sebanyak Rp 10 miliar, tahunya cuma untuk Pilkada, untuk biaya para pendukungnya.

Pada sidang yang baru berakhir jam 21.35 itu, selain Demang, saksi yang dicecar Penuntut Umum KPK Haerudin dan Budi Nugraha adalah Tatang Sumpena dan Adang Saefudin. Keduanya kenal dengan Kadar Slamet melalui Dedi Setiadi (alm) pada tahun 2012. Menurut keduanya ada informasi dari Dedi bahwa ada proyek pembebasan tanah dari kadar sebesar Rp 20 miliar.

Tatang lalu mengajak Dedi untuk menemui para pemilik tanah dan memperoleh 32 bidang tanah. Saran Kadar Slamet agar harga tanah harus di bawah Nilai Jual Objek Pajak (NJOP).  Para pemilik tanah lalu diberi uang tanda jadi yang jumlahnya bervariasi. Uang nya ada yang berasal dari Tatang Sumpena, "tidak banyak  cuma Rp 500 ribu," ujarnya. Tanah lalu dijual ke DPKAD Kota Bandung dengan harga NJOP Plus 75%. Untuk merealisasikannya, Tatang dan Adang sering bertemu dengan Wagiyo di kantor DPKAD dan melakukan 3 kali musyawarah. Kadar memerintahkan harus ada Kuasa dan tolong dicari dan dicari oleh Tatang.

Lalu, pencairan dilakukan dalam 2 tahap. Tahap 1 untuk tahun  2012 dicairkan sebanyak 31 bidang tanah dengan jumlah uang Rp 14,4 miliar. Tatang menerima cek dari Pupung (Hadijah). Uang tersebut diberikan ke pemilik tanah sebesar Rp 5,7 miliar. Sisanya Rp 8,8 miliar dibawa ke rumah Kadar Slamet dan dibagi-bagi oleh Dedi dihadapan Kadar. Untuk biaya operasional Rp 1,8 miliar dan Rp 700 juta dibagikan Tatang kepada Tim nya. Sisa uang Rp 6,3 miliar diserahkan ke Kadar Slamet. Pada tahap 2 dicairkan uang Rp 6,5 miliar untuk 15 bidang tanah.

Diserahkan kepemilik tanah Rp 3,1 miliar, tersisa uang Rp 3,4 miliar. Lalu diserahkan kepada Putra dan Adit/anak Herry Nurhayat sebesar Rp 2,5 miliar. Dari urusan tanah tersebut, Tatang memperoleh Rp 400 juta. Dalam hal lain, adalah uang dipotong oleh Pupung Hadijah dan buktinya ada pada Dedi (alm). Pemotongan itu disuruh oleh Kadar Slamet. Hal ini pernah dikonfrontir oleh Penyidik KPK di rutan Kebon Waru Bandung karena adanya bantahan dari Pupung. Tentang rendahnya harga beli dan tingginya harga jual akhirnya diketahui para pemilik tapi tidak ada protes, kata Tatang Sumpena dan Adang.

Saksi berikutnya adalah Iwan Permana yang mengetahui sebatas tahu adanya uang dari Pemkot Bandung. Dirinya hanya menyupir mobil. Awalnya Iwan menemui Tatang mau pinjam uang Rp 10 juta. Selama menjadi supir, Iwan terkadang diberi Rp 2 juta dan terakhir Rp 10 juta.

Saksi terakhir adalah Dedi Supriadi. Dirinya adalah karyawan Dadang Suganda untuk beres-beres di tempat Dadang. Dirinya disuruh Demang untuk menandatangani Surat Kuasa di kantor Notaris. Selain itu disuruh hadir dan menandatangani kwitansi pembayaran uang RTH di Pemkot Bandung dan diberi Dadang uang Rp 20 jt. Kwitansi yang ditandatangani Rp 437 juta dan Rp 48 juta pada 8 Agustus 2012. Uangnya diserahkan ke Dadang Suganda alias Demang.

H.Anwar Djamaludin,SH (PH) : Mantan Sekda Pinjam Uang Pribadi, Demang Jual Tanah Ke RTH Sesuai Prosedur.

 Uang yang diberikan oleh Dadang Suganda kepada Edi Siswadi sebesar Rp 10 miliar adalah berbentuk  pinjaman dan uang tersebut adalah uang pribadi Dadang Suganda. Begitu juga dengan uang yang berjumlah Rp 1,750 miliar adalah pinjaman sesuai dengan bukti perjanjian dan kuitansi.

Demikian disampaikan oleh H. Anwar Djamaludin, SH., MH. Melalui rilis yang diterima, dan sebagai Penasehat Hukum Dadang Suganda alias Demang itu selanjutnya menjelaskan, bahwa itu hutang pribadi mantan Sekda Kota Bandung, sebagaimana dikatakan Demang dalam persidangan kemarin (5/8/2020), Edi Siswadi telah meminjam uang tersebut sebelum dirinya mengikuti pembebasan Tanah Untuk Sarana RTH di Cisurupan dan Palasari. Oleh sebab itu, "kami akan terus menagih hutang tersebut, dan Edi Siswadi dalam BAP nya menyebutkan akan membayar dan diserahkan melalui KPK."

Hal berikut yang perlu disampaikan bahwa, Dadang Suganda (Demang) adalah pemilik lahan yang dijual ke Pemkot Bandung untuk digunakan RTH (Ruang Terbuka Hijau) hal ini dibuktikan dengan PPJB lunas dan ada Kuasa Menjual atas tanah tersebut yang diberikan oleh pemilik tanah asal.

Adapun alasan kenapa tidak dibaliknamakan sebagian tanah tersebut dari pemilik asal tanah ke Dadang Suganda karena Dadang Suganda telah memiliki tanah seluas 5 ha dan ini tidak diperbolehkan oleh UU Nomor : 56 Tahun PRP 1960 Tentang Batas Maksimum Kepemilikan Tanah.

Dadang Suganda menjual tanah mengikuti prosedur yang ditetapkan pemerintah Kota Bandung dan tidak merasa dititipkan oleh Sekda Kota Bandung

Mengenai persyaratan semua diberikan oleh Dadang Suganda ke Hermawan dan Wagiyo karena mereka adalah panitia pengadaan tanah.  Hanya yang mengherankan kenapa hanya Kuasa Jual yang diberikan oleh pemkot Bandung ke KPK (Penyidik) sementara Dadang Suganda menyerahkan semua bukti kepemilikan atas tanah tersebut Pemkot Bandung yaitu kepada Hermawan dan Wagiyo yaitu PPJB lunas dan Kuasa Menjual.

Demang saat ini sudah menjadi tersangka dan ditahan di Rutan KPK. Kedatangannya ke Pengadilan Tipikor Bandung adalah atas panggilan Penuntut Umum KPK untuk didengar keterangannya sebagai saksi terhadap 3 (tiga) terdakwa yaitu Tomtom Dabbul Qomar dan Kadar Slamet serta Herry Nurhayat (dalam berkas terpisah).

Mengingat masih banyaknya pemeriksaan saksi, sidang gabungan akan dilanjutkan pada tanggal 10 dan tanggal 12 Agustus 2020 mendatang. Hal ini atas usulan dari Penuntut Umum KPK Haerudin.

(Y CHS/transaktual).