Sabtu, 11 Juli 2020 | 05:15 WIB

TIDAK USAH MEMPREDIKSI COVID–19 SAMPAI TAHUN 2022

foto

 

Ketua Umum Ormas Generasi Penggerak Anak Bangsa, Elfin’S. BE.

www.transaktual.com

Tidak semua masyarakat Indonesia yang tahu dan mengenal siapa Siti Fadilah, seorang wanita yang lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 6 November 1949 ini hingga kini dipenjara, mantan menteri kesehatan di tahun 2004-2009, dan Siti Fadilah juga seorang dokter jantung di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, lulus S1 dari Universitas Gadjah Mada (Yogyakarta) pada tahun 1972. Dia mendapat gelar master pada 1987 untuk penyakit jantung dan pembuluh darah dari Universitas Indonesia (UI) pada 1987. Kemudian ia menerima gelar doktor (S-3) dari Universitas Indonesia. Selain menjadi dokter, dia juga menjadi dosen tamu di UI.

Siti Fadilah merilis buku pada 6 Januari 2008 bertajuk 'Saatnya Dunia Berubah! Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung'. Buku itu membongkar konspirasi Barat tentang sampel virus flu burung. Buku itu membuat marah World Health Organization (WHO). Akibatnya buku-buku edisi bahasa Inggris ditarik. Namun yang versi Indonesia tidak.

Siti Fadilah pernah membuktikan virus flu burung tidak menular, dan protes ke PBB setelah itu stop vaksin. Saya stop flu burung tidak pakai vaksin tapi pakai politik. Pada saat itu vaksinnya dijual ke Indonesia. Kalau dijual ke Indonesia mahal dan kita harus ngutang.

Ketua Umum Ormas Generasi Penggerak Anak Bangsa, Elfin’S. BE, mengatkan, bahwa virus corona juga ada kemungkinan permainan politik bisnis dan politik ingin merebut kekuasaan, hal ini dicermatinya dari perkataan Siti Fadilah dalam wawancaranya dengan Dedi Corbusir Dan mengenai Virus Corona, dimana Virus Flu Burung lebih ganas dari virus corona, tetapi viris flu burung tidak menjadi Pandemi, sedangkan virus corona heboh dan menjadi bencana dunia, ada apa dengan virus corona ini ?.

Elfin juga berharap, agar ahli jantung lainnya, dokter – dokter senior, mengupas tuntas tentang virus corona ini, sampai sejauh mana keganasan virus corona, dan sampai sejauh mana keberadaannya di Indonesia, agar masyarakat tahu dan tidak termakan issu – issue yang menyesatkan, bangsa ini telah lelah, ujar Elfin.

Disatu Sisi, Joko W mengatakan berdampingan dengan Covid - 19 ( dan tetap menjaga Protokol Kesehatan ), tetapi sisi lain, masih tetus meneriakkan perangi virus corona, terserah, suka – suka, dan PSBB diperketat, hal semacam ini membuat masyarakat bingung dan nervous, dan tidak tahu harus bersikap apa, dan pada akhirnya,di beberapa daerah, dimana masyarakatnya berbuat masa bodo dengan si covid-19, dan berbondong – bondong keluar rumah, berbelanja dan beraktifitas lain, gerakan ini didukung pengaruh lapar yang semakin mendera, akibat beberapa hari masyarakat diam di rumah ( Stay At Home ), sedangkan persedian pangan sudah sebatas leher.

Dan yang membuat ketua Umum Generasi Penggerak Anak Bangsa ( GPAB) ini prihatin, dimana bantuan dana untuk masyarakat yang terkena dampak Covid – 19, masih banyak yang tidak menerima, sedangkan dana yang dikucurkan, cukup fantastis, ratusan triliun rupiah.

Elfin juga berharap kepada pemerintah dan wakil rakyat yang mulia, yang duduk di singgasana Senayan, agar menganulir PERPU ( Dewan Perwakilan Rakyat RI mengesahkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 1 Tahun 2020 tentang "Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan untuk Penanganan Pandemi COVID-19" alias "Perppu Corona" menjadi Undang-Undang (UU), walaupun Fraksi PKS berkeberatan. Red. )

Ironisnya, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) telah menyiapkan anggaran penanganan virus corona hingga 2021. Bahkan, pemerintah membuka peluang untuk mengalokasikan dana untuk mengatasi pandemi corona hingga 2022. "Dana penanganan Covid-19 ini bukan hanya untuk antisipasi 2020, tapi 2021 dan kemungkinan bisa sampai 2022," ujar Direktur Jenderal Anggaran Askolani saat video conference di Jakarta, Selasa (21/4).

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati berharap produk hukum ini bisa menjadi landasan hukum yang kuat bagi pemerintah dalam menanggulangi dampak COVID-19, terutama di bidang kesehatan, ancaman sosial, dan ancaman perekonomian dan stabilitas sistem keuangan.

"COVID-19 terus berlanjut dan kami akan terus memperbaiki response policy agar masyarakat dari sisi kesehatan dan sosial ekonomi mendapat perlindungan melalui pelaksanaan Perppu," kata Sri Mulyani usai rapat paripurna di DPR RI, Jakarta, Selasa (12/05).

Seharusnya Kementerian Keuangan dan DPR RI, tanggap dan menindaklanjuti apa yang dikatakan seorang ahli jantung Siti Fadilah, yang telah berprestasi menggagalkan pandemi, dengan konsepnya, dan pemerintah tidak usah memprediksikan covid – 19 sampat tahun 2022, tetapi duduk bareng dengan dokter – dokter ahli dan dengan para ahli kesehatan, ( jangan dulu duduk bareng dengan ahli politik dan ahli konstruksi ),

Dan satu hal lagi, semestinya Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia, membebaskan Siti Fadilah, agar bisa mengulang keberhasilannya di era Flu Burung.

Bangkit Indonesia !. “Aku Adalah Mereka, Mereka Adalah Aku”.

Pemangsa Uang Rakyat, Jangan Berlindung di Balik Tragedi COVID-9,.

(transaktual/SB)