Senin, 20 Januari 2020 | 19:37 WIB

Tersandung Kasus Meikarta, Sekda Jabar Non Aktif, Iwa Karniwa Jalani Sidang Perdana

foto

 

Iwa Karniwa menjalani pemeriksaan lanjutan terkait kasus dugaan suap proyek Meikarta. (Foto: Antara)

www.transaktual.com

Sekretaris Daerah Jawa Barat (Jabar) nonaktif, Iwa Karniwa hari ini menjalani sidang perdana kasus dugaan penerimaan suap. Semua berkas perkara sudah diterima Pengadilan Negeri (PN) Bandung dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). 

Mantan Sekda Jabar, Iwa Karniwa harus kembali menjalani persidangan di Pengadilan Tipikor Bandung. Ia diduga tersandung kasus suap Meikarta. 

Agenda sidang hari ini pembacaan dakwaan dari penuntut umum KPK. Iwa diduga melakukan korupsi dengan menerima uang Rp900 juta dari Meikarta melalui anggota DPRD Jawa Barat Waras Wasisto. 

Iwa didakwa pasal 12 huruf a Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana KorupsiJuncto Pasal 64 ayat (1) KUHPidana. 

Iwa Karniwa mulai menjalani sidang dalam perkara dugaan suap pengurusan perizinan proyek Meikarta. Persidangan digelar di Pengadilan Tipikor Bandung, Jln. L.L.R.E Martadinata, Senin (13/1/2020). Sidang perdana ini mengagendakan pembacaan berkas dakwaan dari Penuntut Umum Komisi Pemberantasan Korupsi (PU KPK).

Iwa yang ditahan oleh KPK sejak 30 Agustus 2019 ini hadir di persidangan dengan mengenakan kemeja warna putih dan celana cokelat. Namun bagian atas tetap mengenakan rompi tahanan KPK. Selama sidang berlangsung, Sekda di era Ahmad Heryawan-Deddy Mizwar ini duduk tegap di kursi terdakwa, di hadapan Majelis Hakim yang dipimpin oleh Daryanto.

Sementara PU KPK bergantian membacakan berkas dakwaan. Situasi di ruang sidang sendiri cukup ramai dengan kehadiran keluarga, rekan dan kerabat Iwa. Seperi diketahui, Iwa menjadi terdakwa berkat hasil pengembangan kasus OTT suap Meikarta terhadap mantan Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin cs. Dia didakwa menerima uang Rp 900 juta dari Neneng Rahmi untuk mengurus pembahasan Raperda Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) pembangunan Meikarta di Bekasi yang membutuhkan rekomendasi dari Pemprov Jabar. Editor: Kiki Kurnia

Petugas KPK Borgol Dua Lengan Sekda Jabar Non Aktif Usai Sidang Kasus Suap di PN Bandung. Sekda Jabar non aktif Iwa Karniwa saat dikawal petugas KPK ketika keluar dari sidang kasus korupsi di Pengadilan Negeri Bandung 

Sekda Jabar non aktif Iwa Karniwa sudah mendengar pembacaan dakwaan oleh jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam kasus penerimaan uang Rp 900 juta. Uang itu untuk pengurusan persetujuan substantif Pemprov Jabar terhadap Raperda RDTR Pemkab Bekasi.

Sidang pembacaan dakwaan digelar di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Kelas I A Khusus Bandung, Jalan LLRE Martadinata. Pantauan wartawan, usai sidang, pengawal tahanan KPK kemudian memasangkan borgol di kedua pergelangan tangan Iwa‎ di ruang tahanan di ruang sidang 1. Lalu, pria dengan pendidikan akhir doktor itu memegang map plastik merah untuk menutup borgol di tangannya. Iwa tidak menanggapi sejumlah pertanyaan wartawan termasuk soal peran anggota DPRD Jabar Waras Wasisto yang berperan dominan dalam pemberian uang itu.

‎Kemudian, masih dengan memegang map merah untuk menutupi borgol di lengannya, Iwa meninggalkan Pengadilan Negeri Kelas I A Khusus Bandung dengan menaiki kendaraan tahanan Kejari Bandung. Kasus yang menjerat Iwa merupakan pengembangan dari perkara suap perizinan proyek Meikarta oleh PT Lippo Cikarang.

Pemberi dan penerima suap dalam kasus itu sudah divonis bersalah.

Sidang selanjutnya akan digelar pekan depan dengan agenda pemeriksaan saksi. Jaksa KPK, Yadyn mengatakan‎, banyak saksi yang akan dihadirkan.

"Saksi yang akan dihadirkan sebanyak 28 sampai 31 orang," ujar Yadyn. Dalam dakwaan jaksa, penerimaan untuk Iwa dari Neneng Rahmi Nurlaili dan Henry Lincoln senilai Rp 900 juta pada kurun waktu Juli dan Desember 2017 melalui perantara anggota DPRD Bekasi dan anggota DPRD Jabar Waras Wasisto, digunakan untuk pembelian spanduk karena Iwa berencana maju di Pilgub Jabar 2018.

Dalam dakwaan jaksa, diuraikan bahwa uang diterima oleh Waras kemudian Waras menggunakannya untuk pembelian spanduk. "Nanti kami hadirkan pihak pembuat banner dan spanduk," ujar Yadyn.

Kronologi ; Iwa Karniwa Buat Banner Pilgub Jabar Pakai Duit Suap Meikarta.

Mantan Sekretaris Daerah (Sekda) Jawa Barat didakwa menerima duit Rp 900 juta dari PT Lippo Cikarang berkaitan dengan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Bekasi guna kepentingan proyek Meikarta. Uang diduga digunakan Iwa untuk membuat banner pencalonan gubernur Jabar. 

Proses pengajuan raperda RDTR itu berbarengan dengan momen Pilgub Jabar. Saat itu, Iwa sendiri memang mendaftarkan diri sebagai bakal calon gubernur Jabar melalui PDIP.

Di saat bersamaan, Pemkab Bekasi tengah mengurus proses RDTR untuk kepentingan Meikarta. Pemkab Bekasi melalui Kabid Penataan Ruang Dinas PUPR Neneng dan Sekretaris Dinas PUPR Bekasi menemui Iwa dengan difasilitasi anggota DPRD Bekasi Soleman dan anggota DPRD Jabar Waras Wasisto. 

Pemberian kepada Iwa tersebut dilakukan secara tiga tahap. Mereka awalnya bertemu terlebih dahulu di sebuah rest area di Kilometer 72 Cipularang. Saat itu, mereka menyampaikan permintaan bantuan penyelesaian dalam hal persetujuan substansi Pemprov Jabar atas raperda RDTR. 
"Setelah pertemuan itu, terdakwa meminta kepada Waras Wasisto (anggota DPRD Jabar) menyampaikan kepada Henri Lincoln dan Neneng Rahmi Nurlaili agar menyediakan uang Rp 1 miliar guna persiapan terdakwa maju sebagai bakal calon Gubernur Jawa Barat," ucap jaksa KPK saat membacakan surat dakwaan di Pengadilan Tipikor Bandung, Jalan LLRE Martadinata, Kota Bandung, Senin (13/1/2020).

Persiapan yang dimaksud, kata jaksa, berupa operasional Iwa saat mencalonkan sebagai bakal calon gubernur hingga pembelian banner atau spanduk. 

Permintaan Iwa itu lantas dilanjutkan Waras kepada Henri dan Neneng Rahmi. Kepada mereka, Waras menyebut permintaan Rp 1 miliar masih murah ketimbang biasanya yang mencapai Rp 3 miliar.

Permintaan Iwa melalui Waras diamini oleh Neneng Rahmi dan Henri Lincoln. Uang Rp 100 juta tahap pertama kemudian diberikan kepada Iwa melalui Soleman dan Waras. Setelah uang diterima oleh Waras, uang tersebut kemudian diberikan kepada Iwa di rumahmya.

"Waras kemudian menyampaikan bahwa ada titipan dari Henri Lincoln dan Neneng Rahmi Nurlaili melalui Soleman. Atas penyampaian itu, terdakwa kemudian menyampaikan 'Iya mas itu sumbangan banner, langsung eksekusi saja tapi ratain ya mas di lima kabupaten'. Mendengar penyampaian tersebut, Waras Wasisto kemudian memerintahkan Jamed Yehezkiel membuat banner," kata jaksa.

Banner kemudian dibuat dan dipasang di lima kabupaten kota di Jabar yaitu di Depok, Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Karawang dan Kabupaten Purwakarta. Kelima wilayah itu dipilih karena elektabilitas Iwa masih rendah. Banner tersebut berisi wajah Iwa Karniwa dengan tulisan 'Berdoa dengan Hati Ikhlas untuk Jawa Barat Lebih Baik'.

(dir/ern/transakt)