Senin, 16 Desember 2019 | 10:49 WIB

Monang Saragih Akui Uang Lahan Kesemek Fiktif, dan Keuntungan Nasabah Bukan dari Hasil Usaha

foto

 

Monang Saragih Akui Uang Lahan Perkebu Kesemek Fiktif, dan Keuntungan Nasabah Bukan dari Hasil Usaha.

BANDUNG, - www.transaktual.com

Terdakwa yang juga Ketua Kopjaskum Monang Saragih tidak bisa mengelak ketika dicecar pertanyaan oleh majelis hakim seputar tidak ada izin, tidak ada kewenangan mengumpulkan uang dan bunga yang terlalu besar. Bahkan Monang Saragih pun mengaku kalau uang bagi hasil yang diberikan ke anggota koperasi bukan dari hasil usaha tapi uang yang diinvestasikan oleh anggota koperasi lain.

"Iya Pak Hakim, uang yang diberikan ke anggota itu bukan dari hasil keuntungan tapi uang dari investor lain," ujar Monang Saragih saat menjawab pertanyaan hakim anggota dalam sidang yang digelar di Pengadilan Negeri Bandung, Selasa 5 November 2019.

Sidang tersebut digelar di ruang utama dengan dipadati pengunjung yang juga merupakan korban investasi bodong Monang Saragih. Dalam kesempatan tersebut juga terungkap  mengenai lahan jabon dan lahan kesemek saat dipertanyakan majelis hakim ternyata fiktif. 

Awalnya sidang yang dipimpn Toga Napitupulu menggendakan pemeriksaan saksi a de charge (meringankan) dan saksi ahli dari terdakwa. Namun lantaran tidak bisa dihadirkan, sidang dilanjutkan dengan pemeriksaan terdakwa. 

Hakim Ketua Toga membuka pertanyaan soal pendirian Kopjaskum hingga kerjasama dengan PT Rastura untuk penyertaan modal. Monang pun mengaku Kopjaskum menerima keuntungan maksimal 20 persen per tahun dengan PT Rastura. 

"Karena mereka kekurangan modal maka meminta penyertaan modal. Saya kemudian mempublikasikan di radio, ternyata minat anggota banyak, maka diadakan lah investasi penyertaan modal," ujarnya. 

Investasi modal yang dijanjikan Monang, untuk buah kesemek jika anggotanya menginvestasikan Rp 7,5 juta dalam 3 tahun menjadi Rp 22,5 juta dengan pembayaran per enam bulan. Hakim pun mengaku aneh lantaran keuntungan yang diterima Kopjaskum hanya 20 persen tapi berani menawarkan ke anggota dengan kuntungan di atas 200 persen. 

”Apakah semua pembayaran tahap pertama sudah diberikan," kata hakim. Monang Saragih pun mengaku baru sebagian dan terpaksa memakai uang kas Kopjaskum dan pribadi, lantaran dari PT Rastura terus memundurkan pembayaran.  Ungkapan dari Monang sekaligus menimbulkan reaksi pengunjung sidang dan menyorakinya serta menyebutkan bohong. 

Selain usaha kesemek, Toga pun kemudian menyakan usaha jabon dan kebenaran lahan tersebut. Monang pun kemudian menjelaskan memiliki lahan ratusan hektare di Sumatera hingga Kalimantan, seperti di Sumatera di Simalungun dia memiliki lahan hingga 100 hektare lebih.

Namun kemudian hakim membacakan surat keterangan Kepala Desa di Simalungun yang menyatakan jika lahan milik Hamonangan hanya sekitar 2 hektare. ”Kata Anda tadi 100 hektare tapi kenyataannya ini cuma dua hektare,” katanya. 

Selain ketua majelis, hakim anggota pun kembali mencecar Monang. Bahkan mengingatkan Monang agar jujur dan terus terang. ”Jawab dengan jujur, jadi uang yang dibayarkan kepada anggota (bagi hasil) itu uang anggota yang investasi juga kan,” tanya. 

”Sudah jangan bohong lagi, hakim itu gak bisa dibohongi banyak ilmunya. Usaha yang anda tawarkan nggak realistis. Anda saja menerima keuntungan dari kesemek dan jabon Cuma 20 persen, ini menawarkan ke anggota dengan keuntungan lebih dari 200 persen. Ini gak masuk akal, dari mana anda membayarnya jika bukan dari uang investasi anggota,” ujarnya. 

Selain itu usaha investasi yang  terdakwa lakukan juga tidak memiliki izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Usai melakukan pemeriksaan terdakwa hakim mengundur sidang untuk digelar pada Kamis besok dengan agenda tuntutan.

(yedi/transakt)