Rabu, 14 April 2021 | 15:51 WIB

Covid-19 Dalam Angka Sejak PPKM Diberlakukan di Kabupaten Banyumas

foto

 

Covid-19 Dalam Angka Sejak PPKM Diberlakukan di Kabupaten Banyumas.

www.transaktual.com

Banyumas- Untuk mengurangi penyebaran virus, pola bekerja masyarakat pun berubah jadi "bekerja-dari-rumah" dan "belajar-dari-rumah". Pemerintah juga semakin serius menangani pandemi, di antaranya memberlakukan PPKM, sebab pembatasan mobilitas adalah pilar penting untuk pencegahan meluasnya penularan. Masa pandemi seperti sekarang tentu saja sangat membatasi siapa pun untuk bepergian terlalu jauh. Usahakan tetap di rumah, dan jika terpaksa keluar rumah mesti jaga jarak serta pakai masker, ungkap Koordinator Sistem Informasi Unsoed Ir.Alief Einstein,M.Hum.

Dosen Fakultas Kedokteran Unsoed dr.Yudhi Wibowo,M.PH. memaparkan bahwa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dilaksanakan mulai dari PPKM jilid 1 (11-25 Januari 2021), PPKM jilid 2 (26 Januari – 08 Februari 2021) dan PPKM Mikro (09 – 22 Februari 2021). Jawa Tengah khususnya Banyumas Raya masuk daerah yang harus menerapkan PPKM tersebut. Lalu bagaimana efektif kebijakan tersebut dalam rangka menekan laju penambahan kasus Covid-19 dan terhadap indikator pengendalian pandemi Covid-19 di Kab. Banyumas?.

1. Jumlah Kasus Terkonfirmasi dan Kumulatif
Ahli Epidemiologi Lapangan (Field Epidemiology) Fakultas Kedokteran Unsoed dr.Yudhi Wibowo,M.PH. menjelaskan jumlah kasus terkonfirmasi Covid-19 sejak diterapkan PPKM fluktuatif cenderung menurun yaitu 383 kasus (minggu pertama PPKM), 406 (minggu ke-2), 445 (minggu ke-3), 412 (minggu ke-4) dan 233 (minggu ke-5). Jumlah kumulatif kasus terkonfirmasi juga menunjukkan tren menurun yaitu 2.730 kasus (Des 2020), 2.044 (Jan 2021) dan 978 (per tanggal 20 Feb 2021).

2. Jumlah Kesembuhan dan Kematian
Selanjutnya Tim Ahli Satgas Covid-19 PemKab.Banyumas dr.Yudhi Wibowo,M.PH. mengatakan bahwa jumlah kasus yang sembuh secara berurutan dari minggu pertama – kelima PPKM adalah 366, 474, 505, 356, dan 338, menunjukkan tren fluktuatif cenderung menurun. Sedangkan jumlah kasus kematian cenderung menurun yaitu dari minggu pertama – kelima PPKM tercatat 35, 35, 23, 16, dan 16. Kumulatif kasus kematian per bulan juga menunjukkan tren menurun yaitu dari 138 (Des 2020), 135 (Jan 2021) dan 51 (per tanggal 20 Februari 2021).
Dari data tersebut, secara jumlah absolut menunjukkan tren penurunan baik jumlah kasus terkonfirmasi, jumlah kumulatif kasus, jumlah kesembuhan dan jumlah kematian. Jumlah angka absolut ada keterbatasan karena tidak dapat dibandingkan antar wilayah bahkan antar negara karena belum memperhitungkan jumlah populasinya. Oleh karena itu, indikator yang dapat dibandingkan adalah berupa angka rasio atau rate.

3. Jumlah Swab, Positivity Rate (PR) dan Case Fatality Rate (CFR)
a. Jumlah swab sejak diterapkan PPKM tercatat fluktuatif cenderung menurun drastis yaitu dari minggu pertama – kelima sebagai berikut: 1.292; 1.321; 1.122; 862 dan 717.
b..PR menunjukkan fluktuatif cenderung tinggi di atas 5% yaitu berurutan dari minggu pertama – kelima PPKM adalah 29,6%; 30,7%; 39,7%; 47,8% dan 32,5%.
c. Sementara CFR sebesar 5,15% jauh melampaui CFR nasional (2,70%) dan CFR global (2,22%).
Indikator berupa rasio/rate sangat dipengaruhi oleh jumlah specimen dan jumlah orang yang diperiksa. Selama jumlah orang yang diperiksa menurun maka probabilitas untuk menemukan kasus terkonfirmasi juga menurun yang pada akhirnya mempengaruhi semua perhitungan indikator rate tersebut. Indikator tersebut akan menjadi semu atau false jika jumlah orang yang diperiksa belum memenuhi standar WHO yaitu 1/1.000 penduduk per pekan atau 1.840 orang yang diperiksa per pekan atau 262 orang yang diperiksa per hari dan rasio kasus-lacak yaitu 1:10-30 orang yang diperiksa, jelas dr.Yudhi Wibowo,M.PH.

4. Kesimpulan
Berikut kesimpulan dr.Yudhi Wibowo,M.PH. : tercatat adanya tren penurunan jumlah kasus dan kematian sejak PPKM diberlakukan, namun ada catatan sangat penting yaitu hal ini diikuti dengan penurunan jumlah swab yang sangat drastis. Hal in dapat menyebabkan penurunan tersebut merupakan penurunan semu bahkan false. Oleh karena itu, sangat urgen untuk penguatan kembali kapasitas testing dan tracing di Kabupaten Banyumas.

diki/transakt