Minggu, 24 Januari 2021 | 09:42 WIB

Kejati Tangani Dugaan Korupsi Puluhan Miliar Rapid Tes Pada Dinkes Jabar

foto

 

Kejati Tangani Dugaan Korupsi Puluhan Miliar Rapid Tes Pada Dinkes Jabar.

Bandung – www.transaktual.com

Manggala Garuda Putih (MGP) telah melaporkan secara resmi dugaan penyimpangan dalam pengadaan rapid tes di Dinas Kesehatan Jawa Barat ke Kejaksaan Tinggi Jabar.

Laporan ke Kejati Jabar tersebut dilakukan pada Rabu 23 Desember 2020 dan diterima surat nya oleh PTSP Kejati Jabar No. 012/SP/DUMAS/DPP MGP/XII/2020.

Atas laporan tersebut diharapkan Kejati Jabar segera menindaklanjutinya karena itu termasuk pengadaan alat yang terkait dengan penanganan Covid-19. Karena sangat diperlukan oleh masyarakat yang sedang dalam masa sulit karena dilanda wabah pandemi Covid-19.

Penanganan dugaan korupsi tersebut disampaikan oleh pihak Kejati Jabar hari ini (29/12/2020). Kasi Penkum Kejati Jabar, Abdul Muis Ali, SH., MH mengatakan, "Telaahan sdh naik bang. Materinya telaahan tidak (bisa) saya publikasi," tulisnya.

Dugaan tindak pidana korupsi dilaporkan oleh Ormas Manggala Garuda Putih (MGP). Melalui Biro Hukum, H. Ijudin Rahmat, SH dan Biro Investigasi Agus Satria, MGP telah melaporkan secara resmi dugaan tindak pidana korupsi Pengadaan RAPID TEST Dinas Kesehatan Jabar ke Kejati Jabar pada hari ;

Rabu 23 Desember 2020, Perihal : Laporan Pengaduan Penyimpangan Pengadaan Rapid Tes Covid-19 Dengan Nilai Anggaran Rp56.000.000.000 Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat Tahun Anggaran 2020.

Realisasi pengadaan dengan nilai anggaran Rp52.082.000.000, untuk 29.5000 Rapid Tes dengan menentukan 10 (sepuluh) perusahaan penyedia dari 22 perusahaan yang tercantum dalam Usulan Penyedia dan dari sepuluh Perusahaan penyedia terdapat 3 perusahan yang tidak tercantum dalam Usulan Penyedia, dengan 5 (lima) merk Rapid Tes dan dengan harga yang berbeda-beda.

Masih menurut Ormas MGP, yang disampaikan open Agus Datria dari Biro Investigasi, "Rapid Tes merek GENBODY pada harga yang kami survei di lapangan adalah Rp 180.000,- tetapi dalam harga pengadaan yang dilakukan Dinkes Jabar adalah Rp 218.000,- per pcs, dalam pengadaan Rapid Tes merek GENBODY, Dinkes Jabar mengadakan 50.000 (lima puluh ribu) pcs dengan nilai anggaran Rp10.945.000.000,- Bilamana kita hitung kali dengan harga survei di lapangan Rp180.000,- X 50.000 pcs = Rp9.000.000.000,- kalau harga survei kami tepat maka Rp 10.945.000.000 – Rp9.000.000.000 = Rp1.945.000.000,-

Rapid Tes merk ZYBIO pada harga yang kami survei dilapangan adalah harga Rp115.00,- tetapi dalam harga pengadaan yang dilakukan Dinkes Jabar adalah Rp165.000 – per pcs, dalam pengadaan Rapid Tes merek ZYBIO, Dinkes Jabar mengadakan 6.5000 (Enam puluh lima ribu) pcs dengan nilai Rp10.725.000.000,- Bilamana kita hitung dengan harga survei di lapangan Rp115.000 X 65.000 pcs = Rp7.475.000.000,- kalau harga survei tepat Rp10.725.000.000 – Rp7.475.000.000 = Rp3.250.000.000,-

Rapid Tes merek CLUNGENE pada harga yang kami survey di lapangan adalah Rp 80.000,- tetapi dalam harga pengadaan yang dilakukan Dinkes Jabar adalah Rp132.000,- per lcd, dalam pengadaan Rapid Tes merek CLUNGENE, Dinkes Jabar mengadakan 65000 (Enam puluh lima ribu) pcs dengan nilai anggaran Rp8.580.000.000,- Bilamana kita hitung dengan harga survei di lapangan Rp 80.000 X 65.000 pcs = Rp5.200.000.000,- dan kalau harga survei kami tepat, Rp8.580.000.000 – Rp5.200.000.000 = Rp3.380.000.000,-

Rapid Tes merk LIVZON pada harga yang kami survei di lapangan adalah Rp115.000,- tetapi dalam harga pengadaan yang dilakukan Dinkes Jabar adalah Rp125.500,,- per pcs, dalam pengadaan Rapid Tes merk LIVZON, Dinkes Jabar mengadakan 65.000 (enam puluh lima ribu) pcs dengan nilai anggaran Rp7.842.500.000,- Bilamana kita hitung dengan harga hasil survei Rp115.000 X 65000 pcs = Rp7.200.000.000,- dan kalau harga survei kami tepat Rp 7.842.000.000 – Rp 7.200.000.000 = Rp642.500.000,-

Rapid Tes merek PCI kami tidak mendapatkan kan harga survei di lapangan yang kami temukan dengan kata PCI adalah Prosedur intervensi non bedah dengan menggunakan kateter untuk melebarkan atau membuka pembuluh darah koroner yang menyempit dengan balon atau stent tetapi Dinkes Jabar untuk merek PCI memberikan harga Rp280.00,- per pcs, pengadaan Rapid Tes merek PCI, Dinkes Jabar mengadakan berjumlah 50000 (Lima puluh ribu) pcs dengan nilai Rp14.000.000.000,-".

Dari kelima merek Rapid Tes yang diadakan Dinkes Jabar diduga sudah ditentukan kepada 10 perusahaan penyedia Rapid Tes diantaranya :

  1. PT GENBODY mendapatkan kontrak senilai Rp10.945.000.000 rupiah dengan jumlah 50.000 Rapid Tes
  2. PT MEDIS METROPOLITAN mendapatkan kontrak senilai 7.425.000.000 dengan jumlah 45.000 Rapid Tes
  3. PT TAWADA HEALTH CARE, mendapatkan kontrak senilai Rp1.650.000.000 dengan jumlah 10000 Rapid Tes
  4. CV PRASETYA UTAMA mendapatkan kontrak senilai Rp1.650.000.000 dengan jumlah 10.000 Rapid Tes (CV PRASETYA UTAMA tidak terdaftar sebagai usulan penyedia).
  5. PT PESONA SCIENTIFIC mendapatkan kontrak senilai Rp 1.320.000.000 dengan jumlah 10.000 Rapid Tes
  6. PT TAHTA DJAGA INTERNASIONAL mendapatkan kontrak senilai Rp 5.940.000.000 dengan jumlah 45.000 pcs Rapid Tes
  7. PT MIGNON SISTA INTERNASIONAL mendapatkan kontrak senilai Rp 1.320.000.000 dengan jumlah 1.000 pcs Rapid Tes. (PT MIGNON SOETA INTERNASIOONAL (tidak terdaftar sebagai usulan penyedia.)
  8. PT SURGICA ALKESINDO mendapatkan kontrak senilai Rp6.627.500.000 dengan jumlah 55.000 pcs Rapid Tes. (PT SURGICA ALKESINDO tidak terdaftar sebagai perusahaan usulan penyedia.)
  9. PT INTERGASTRA NUSANTARA mendapatkan kontrak Rp1.205.000.000 dengan jumlah 10.000 pcs Rapid Tes
  10. PT MULTI GUNA CIPTA PESONA mendapatkan nilai kontrak Rp14.000.000.000 dengan jumlah 50.000 pcs Rapid Tes.

Dalam hal ini Dinkes Jabar diduga melakukan pengkondisian pengadaan RAPID TEST demi kepentingan perorangan ataupun kelompok dengan cara mengatur pengkondisian pengadaan Rapid Tes dengan pihak perusahaan penyedia untuk mendapatkan CASH BACK dengan cara MARK UP harga atau dengan cara lainnya. "Untuk itu sudah sewajarnya Kejati Jabar mengusut sampai tuntas kasus dugaan korupsi tersebut," pungkas Agus Satria.

 

(yan ch/transakt).