Minggu, 29 November 2020 | 20:39 WIB

Inovasi Infrastruktur Jadi Solusi Banjir, Peresmian Terowongan Nanjung Kab. Bandung Jabar

foto

 

Pembangunan infrakstruktur menjadi pilihan pemerintah terutama untuk solusi penanganan banjir.

www.transaktual.com

Presiden Joko Widodo meresmikan Terowongan Nanjung, di Margaasih, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Rabu (29/1/2020). Terowongan ini diklaim mampu meningkatkan kapasitas debit Citarum dari 570 meter kubik per detik menjadi 700 meter kubik per detik.

Sistem pengendalian banjir Citarum hulu yang ditargetkan pemerintah rampung tahun ini. Proyek struktural yang sedang berjalan meliputi pembangunan infrakstrukur seperti kolam retensi, sodetan dan sejumlah polder di Sungai Citarum

Selain banjir, kawasan cekungan Bandung Raya dibayangi potensi bencana alam lain yang dipicu penurunan permukaan tanah

Pembangunan infrakstruktur menjadi opsi terkini yang diambil Pemerintah, terutama untuk solusi menangani banjir. Meski biayanya tidak murah, Pemerintah nampaknya serius dengan langkah struktural berupa rekaya hidrologi itu.

Keseriusan itu terlihat dengan diresmikannya Terowongan Nanjung, di Margaasih, Kabupaten Bandung, Jawa Barat oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi), Rabu (29/1/2020). Presiden berkeyakinan dua terowongan air sepanjang 230 meter dengan diameter 8 meter dapat mengentaskan masalah di Bandung selatan yang selalu direndam banjir.

“Penanggulangan bencana ini belum efektif. Program besarnya baru menyelesaikan yang di hulu. Itu pun belum selesai. Jadi nanti yang di sini terowongan Nanjung rampung, retensi di Cieunteung, Gedebage, Andir sudah selesai 100 persen. Sodetan di Cisangkuy juga selesai, genangan (air bila terjadi hujan deras) ini akan sangat terkurangi banyak,” kata Jokowi.

Terowongan yang pengerjaannya memakan waktu 3 tahun untuk bisa beroperasi ini fungsinya memperlancar aliran Citarum ke Waduk Saguling di Kabupaten Bandung Barat. Terowongan ini diklaim mampu meningkatkan kapasitas debit Citarum dari 570 meter kubik per detik menjadi 700 meter kubik per detik. Letaknya di sekitar kawasan Curug Jompong, pada aliran Sungai Citarum lama.

Jokowi merasa senang dengan selesainya Terowongan Nanjung, karena bakal melengkapi sistem pengendalian banjir Citarum hulu yang ditargetkan pemerintah rampung tahun ini, yang diharapkan berpengaruh pada pengurangan luas genangan.

“Memang masih (ada banjir) karena beberapa (pembangunan infrastruktur) masih proses. Kolam retensinya, sodetannya, tahun ini akan kita selesaikan. Kalau ini sudah bisa selesai, banjir di cekungan Bandung dapat diminimalisir,” ujarnya.

Selain agenda struktural, Jokowi menyinggung perihal upaya non-struktural berupa rehabilitasi lahan di kawasan hulu. Dia menginginkan penanganan lahan kritis dapat dikerjakan secara paralel.

Alasannya, dalam sepekan terakhir masih terjadi banjir masih melanda tiga kecamatan di Bandung selatan akibat daerah tangkapan air yang tidak berfungsi maksimal, yaitu Baleendah, Dayeuhkolot, dan Bojongsoang. Banjir pun merendam ribuan rumah dan sejumlah ruas jalan utama.

“Namun, kita sudah berada di jalur yang betul. Semuanya dikerjakan dari hulu ke hilir, baik infrastruktur fisik maupun rehabilitasi lahan,” ucap Presiden Jokowi.

Sejauh ini, sejumlah proyek infrastruktur dibangun di hulu Citarum. Upaya rekayasa stuktural rencananya dilakukan secara bertahap. Penanganan di bagian hulu Sungai Citarum bakal berlanjut ke bagian hilir.

Menteri Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, yang menemani kunjungan Presiden Jokowi, menuturkan sebelum Terowongan Nanjung dioperasikan, aliran Citarum terhambat di Curug Jompong karena bentuk sungainya melengkung. Dengan adanya terowongan, sebagian besar debit Citarum dapat mengalir tanpa melalui Curug Jompong.

Hasil dari pembangunan terowongan senilai Rp300 miliar ini mulai terlihat dari berkurangnya luasan banjir. Luasan banjir pada 2016 mencapai 490 hektare. Namun, tahun lalu berkurang menjadi 80 hektare. Lama waktu genangan juga berkurang.

Sebelum ada terowongan, hujan empat hari dengan curah hujan 35 – 67 milimeter membuat Dayeuhkolot terendam selama 40 jam pada April 2019. Setelah dibangun terowongan, hujan selama lima hari dengan intensitas 60 mm-72mm menggenangi kawasan yang sama selama 12 jam.

Proyek yang rencananya bakal terintegrasi dengan pembangunan infrakstukur lain seperti kolam retensi, sodetan dan sejumlah polder berpotensi mematahkan stigma buruk perihal penyelesaian masalah di Sungai Citarum yang dinilai tak kunjung tuntas. Pasalnya, dana triliunan rupiah yang dikucurkan dalam lima tahun terakhir untuk memperbaiki kerusakan di sungai terpanjang di Jawa Barat ini, belum memberi hasil memuaskan.

Kendati begitu, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menaruh optimis pada proyek penanganan banjir ini. Hal itu tidak terlepas dari menurunnya pengungsi 159 ribu, kini turun menjadi 70 ribu. Dia berharap, infrastruktur yang sedang dikerjakan dan direncanakan segera rampung agar penanganan banjir di Bandung berjalan optimal.

Presiden Joko Widodo (kanan) berbincang dengan Menteri PUPR Basuki Hadimuljono (kiri) dan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (tengah) saat peresmian Terowongan Air Nanjung di Margaasih, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Rabu (29/1/2020). Terowongan air Nanjung sepanjang 230 meter berdiameter 8 meter dibangun untuk menanggulangi banjir di kawasan Bandung Selatan.

Berharap perubahan.

Saepuloh (49), warga Dayeuhkolot, mengaku sistem pengendali banjir belum memberi hasil ideal. Walaupun diakuinya, banjir lebih cepat surut dibandingkan tahun sebelumnya.

“Tapi tiap kali banjir warga merasa ada perubahan. Semisal, rumah-rumah warga berada semakin dibawah dari aliran sungai. Belum lagi sisa sedimentasi. Banyak warga mengeluh karena akibat banjir rumah mereka kerap terkubur lumpur dan semakin dibawah saja (posisi rumahnya dari sungai) dan posisi sungai semakin tinggi,” tutur Saepuloh.

Kawasan cekungan Bandung dibayangi potensi bencana alam yang dipicu penurunan permukaan tanah akibat kondisi alam serta ulah manusia yang tinggal di sekitarnya.

Data Badan Geologi menyebutkan, sebagian kawasan cekungan Bandung berpotensi mengalami penurunan muka tanah dengan laju 15-20 sentimeter (cm) per tahun. Daerah itu meliputi Kecamatan Dayeuhkolot, Majalaya, Banjaran, dan Rancaekek di Kabupaten Bandung, serta di Kota Cimahi. Sedangkan penurunan tanah berkisar 5-10 cm per tahun terjadi di Kecamatan Gedebage (Kota Bandung) serta Kecamatan Banjaran dan Rancaekek (Kabupaten Bandung).

Cekungan Bandung merupakan daerah endapan danau purba yang memiliki formasi bebatuan muda yang cenderung lunak. Akibatnya, kawasan dengan penurunan muka tanah ini menjadi rentan banjir karena permukaannya lebih rendah daripada aliran sungai. Sejauh ini belum ada kajian komperhensif yang bisa menjelaskan penyebab fenomena tersebut.

Sejumlah warga memperhatikan Terowongan Air Nanjung setelah diresmikan oleh Presiden Joko Widodo di Margaasih, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Rabu (29/1/2020). Presiden Jokowi meresmikan terowongan air nanjung sepanjang 230 meter berdiameter 8 meter dibangun untuk menanggulangi banjir di kawasan Bandung Selatan.

Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Citarum Bob Arthur Lombogia mengatakan, penyelesaian banjir di area pemukiman membutuhkan dukungan masyarakat, salah satunya pemeliharaan drainase dan penyediaan lahan bagi normalisasi sungai.

Namun, Bob menyebut, beberapa upaya normalisasi acapkali terkendala. Satu diantaranya adalah tingginya laju sedimentasi yang mencapai 4,2 juta meter kubik per tahun. Parahnya, sedimentasi itu terakumulasi dengan sampah dan limbah. Sehingga sulit mencari area pembuangan untuk sedimentasi.

 

Yusbadar/transakt.