Kamis, 22 Oktober 2020 | 13:37 WIB

Anton Charliyan Prihatin Peristiwa Wisatawan Selfie di Permukaan Batu Patilasan Karang Kamulyaan

foto

 

Anton Charliyan Prihatin Peristiwa Wisatawan Selfie di Permukaan Batu Patilasan Karang Kamulyaan.

www.transaktual.com

Media social (medsos) sempat “viral”, khususnya bagi warganet di wilayah priangan timur, karena adanya unggahan dua buah foto selfie yang menunjukkan dua orang wisatawan yang menaiki batu patilahan di komplek obyek wisata sejarah karang kamulyaan kec.cijeungjing kab.ciamis. Bahkan warga “tatar galuh” kabupaten ciamis marah melihat unggahan foto yang dianggap tidak beretika.batu patilasan yang dinaiki oleh para wisatawan tersebut meruoakan batu bersejarah yang dikenal masyarakat sebagai batu tempat peribadahan pada masa kerajaan galuh tempo dulu.

Dengan adanya peristiwa wisatawan menaiki “Batu Patilasan” sebagai lambing peribadatan di situs bersejarah karang kamulyaan yang viral di medsos tersebut, maka tokoh masyarakat dan budaya jawa barat, Irjen Pol (purn) dr.h. Anton Charliyan,mpkn mengaku sangat prihatin dan gemas dengan ulah wisatawan yang selfie sambil tertawa tawa. “seharusnya kejadian itu tidak sampai terjadi,”ungkapnya

Abah anton melanjutkan,dengan  terjadinya peristiwa viral ini mari kita jadikan pembelajaran bersama, untuk lebih menggali lagi arti bhineka tunggal ika dengan seksama, tidak hanya sekedar sebuah pemahanan sempit tentang arti :  berbeda beda tetapi tetap satu.

“karena  kita hidup di nusantara ini memang ditakdirkan sbg bangsa yang multy cultur, multy etnis dan multy agamis. Kita boleh berbeda agama, bahasa daerah, etnik, keturunan budaya tradisi, adat istiadat bahkan kepercayaan. Tapi sebagaimana kita sepakati bersama dari awal pembentukan bangsa dan negara ini, kita harus saling menghargai, kita harus saling menghormati, kita harus saling toleransi segala perbedaan perbedaan tadi. Kalau tidak ingin disebut tidak tahu adat, tidak tahu etika atau bahkan bisa saja dilabeli sebagai sebuah sikap yang intoleran.  Dalam hal ini, intoleransi bukan hanya terhadap agama saja, tetapi terhadap segala perbedaan, “paparnya

Pada intinya kita harus lebih mengedepankan sikap sikap tepi seliro, toleransi dalam setiap perbedaan, makanya ada pepatah dimana bumi di pijak disana langit dijunjung.  Kacai jadi saleuwi kadarat jadi salebak. Ciri sabumi, cara sadesa, saya mengingatkan,  mari kita jadikan perbedaan ini sebagai sebuah keindahan yang harus kita jaga bersama. Apalagi yang menyangkut adat tradisi agama dan kepercayaan. Hal tsb sangat  sensitive, karena akan menyakiti bukan hanya satu individu,  tapi bisa menyakiti dan menyulut emosi satu komunitas, suku bangsa bahkan satu negara.. Karena didalamnya ada terkandung nilai nilai luhur. Kesucian , sakralisme kepercayaan, bahkan  kebanggan, kehormatan  harga diri dll.  Sekali lagi kita ingatkan, akan sangat sensitif bila hal tsb terganggu dan ternodai..” Pungkasnya.

 

 

(redi mulyadi/MR/transakt).