Kamis, 1 Oktober 2020 | 19:59 WIB

KBB Membara, Hibah Dana Cabor Memanas, Bendahara KONI Sebut Dana 10 M, Sudah Habis

foto

 

KBB Membara, Hibah Dana Cabor Memanas, Bendahara KONI Sebut Dana 10 M, Sudah Habis.

NGAMPRAH – www.transaktual.com

Sepertinya, KBB tidak habis habisnya menjadi pemberitaan setiap waktu, kali ini bola panas kasus dugaan penyelewengan dana hibah Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Bandung Barat (KBB) terus bergulir.

Dana hibah sebesar Rp 10 miliar yang seharusnya diterima cabang olahraga (cabor) di bawah naungan KONI KBB, justru menguap tak tentu juntrungannya.

Dari anggaran sebesar itu, uang senilai Rp 3 miliar sudah disalurkan ke beberapa cabor. Namun, sekitar Rp 7 miliar sisanya justru tak jelas habis tak bersisa.

Wakil Ketua Komisi IV DPRD KBB, Amung Makmun mengatakan, sejumlah pengurus cabor dan atlet di bawah kepengurusan KONI KBB mengadukan atas belum sampainya seluruh dana hibah tahun 2020 ke tangan mereka.

Dalam undangan rapat kemarin kita tidak membahas tentang penggunaan anggaran (dana hibah) melainkan aduan dari cabor-cabor, mengenai keterlambatan insentif,” kata Amung, Selasa (8/9).

Berangkat dari aduan itu, Komisi IV DPRD KBB kemudian memanggil pengurus KONI untuk menjawab aduan para pengurus Cabor. Namun, betapa mencengangkannya, Bendahara Umum KONI menjawab bahwa anggaran di kas KONI KBB kosong alias sudah habis.

“Pengurus cabor menanyakan sisa uang cabor. Namun bendahara KONI menjawab, di kas kosong. Selanjutnya dalam rapat tersebut diketahui bahwa uang tersebut ada di Ketua KONI KBB (Rian Firmansyah),” sebut Amung.

Dalam pertemuan itu, Komisi IV tidak mendalami kemana larinya anggaran miliaran tersebut. Meski demikian, Amung mengingatkan agar bendahara memiliki tanggung jawab penuh atas anggaran itu.

Ketika pimpinan rapat menganjurkan, bendahara jangan berfungsi seperti kasir, karena bendahara mengeluarkan atas sepengetahuan ketua. Secara detail, kita gak tau uang tersebut dipakai buat apa,” ujarnya.

Amung berharap Komisi IV bisa mendapat keterangan dari Ketua KONI KBB, Rian Firmansyah. Lantaran, namanya juga terseret dalam penyaluran anggaran Rp 10 miliar itu.

Menurutnya, Komisi IV sudah mengundang untuk menjawab dugaan penyelewengan dana hibah tersebut. Namun, Rian Firmansyah tak sekali pun hadir memenuhi undangan.

“Kecewa pasti ada lah, kita kan sudah ngundang tapi gak datang. Terutama kita ingin penjelasan karena kebijakan ada di ketua,” terangnya.

Sebelumnya, dua pengurus KONI sudah dipanggil oleh Unit Tipikor Polres Cimahi terkait dugaan penyalahgunaan dana hibah KONI tahun 2020. Dua pengurus itu yakni Sekretaris umum dan Bendahara umum KONI KBB. Dari dua pengurus yang diundang itu baru satu pengurus yang memenuhi undangan.

“Kasus ini masih dalam penyelidikan kita tapi belum bisa disimpulkan. Unit Tipikor masih mendalami dugaan Tindak pidana korupsi yg terjadi di KONI dengan memanggil saksi-saksi di internal KONI,” kata Kasatreskrim Polres Cimahi, Yohannes Redhoi Sigiro beberapa waktu lalu.

Polisi Periksa Dua Pengurus KONI Bandung Barat Terkait Dana Hibah Rp 10 M.

Dua pengurus Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Bandung Barat (KBB) diperiksa Unit Tindak Pidana Korupsi Polres Cimahi terkait penyalahgunaan dana hibah cabang olahraga.

Dana hibah untuk cabang olahraga (cabor) 2020 sebesar Rp 10 miliar tersebut dipermasalahkan lantaran nominal yang diterima cabor tak sesuai dengan jumlah semestinya.

"Saat ini sedang kami tindaklanjuti terkait dugaan tersebut. Dua orang pengurus sudah diperiksa, tapi belum bisa kami sebutkan siapa," ungkap Kasatreskrim Polres Cimahi AKP Yohannes Redhoi Sigiro, saat dihubungi, Sabtu (5/9/2020).

Yohannes mengatakan kasus tersebut sudah diterima sejak bulan Agustus. Berdasarkan laporan dari pihak cabor yang merasa dirugikan.

"Laporan kasus itu sudah masuk sejak bulan Agustus lalu. Kami masih mengumpulkan keterangan dari para saksi. Kasus ini masih dalam tahap penyelidikan kita. Sudah dua orang saksi yang kita periksa," katanya.

Pihaknya belum bisa menyimpulkan dugaan kasus penyelewengan dana hibah tersebut sebab pengumpulan bahan keterangan (pulbaket) maupun pemeriksaan saksi masih dalam penyelidikan.

Penyidik akan melakukan pemanggilan terhadap saksi lainnya di internal kepengurusan KONI KBB sebab dari dua saksi yang dipanggil sebelumnya, satu saksi belum memenuhi pemanggilan.

"Belum bisa disimpulkan. Unit Tipikor masih mendalami dugaan Tindak pidana korupsi yg terjadi di KONI dengan memanggil saksi-saksi di internal KONI," sebutnya.

Sementara itu Sekretaris KONI KBB Lili Supriatna menyebutkan tuduhan penyelewengan dana hibah itu tidak benar. Ia menolak untuk memberikan keterangan lebih dan hanya menyampaikan seluruh pengurus KONI akan menggelar rapat terlebih dahulu malam ini.

"Tuduhan itu jelas itu tidak benar. Kalau kesaksian kepada kepolisian sudah kita berikan. Yang jelas agar beritanya tidak simpang siur, tunggu saja rilis dari kami besok," tuturnya.

Kasus Dugaan Penyelewengan Dana Hibah Koni KBB Masuk Ranah Hukum.

Jajaran Satuan Reserse Kriminal Polres Cimahi melakukan pemeriksaan terhadap dua pengurus Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Bandung Barat (KBB) terkait dugaan penyelewengan dana hibah tahun 2020 sebesar Rp 10 miliar.

Pemeriksaan terhadap dua pengurus tersebut berangkat dari laporan yang diterima Unit Tipikor Polres Cimahi, yang masuk Agustus lalu. Hingga saat ini, dugaan kasus korupsi tersebut masih dalam penyelidikan dan pengumpulan sejumlah keterangan dari para saksi.

"Kasus ini masih dalam tahap penyelidikan kita. Sudah dua orang saksi yang kita periksa," kata Kasatreskrim Polres Cimahi, AKP Yohannes Redhoi Sigiro, Sabtu (5/8/2020).

Yohannes menyebutkan, polisi belum bisa menyimpulkan dugaan kasus penyelewengan dana hibah tersebut. Baik pengumpulan dokumen maupun pemeriksaan saksi masih dalam penyelidikan Unit Tipikor. Pihaknya masih akan melakukan pemanggilan terhadap saksi lainnya di internal kepengurusan KONI.

"Belum bisa disimpulkan. Unit Tipikor masih mendalami dugaan Tindak pidana korupsi yg terjadi di KONI dengan memanggil saksi-saksi di internal KONI," sebutnya.

Sementara itu, Sekertaris KONI KBB, Lili Supriatna menyebutkan, tuduhan penyelewengan dana hibah itu tidak benar. Ia menolak untuk memberikan keterangan lebih, ia menyampaikan, seluruh pengurus KONI akan menggelar rapat terlebih dahulu malam ini.

"Tuduhan itu jelas itu tidak benar. Kalau kesaksian kepada kepolisian sudah kita berikan. Yang jelas agar beritanya tidak simpang siur, tunggu saja rilis dari kami besok," bantahnya.

Sebelumnya, Ketua Cabang Olahraga (Cabor) Gantole, Dadang Kardus menyebutkan, KONI KBB menjanjikan bahwa pencairan dana hibah tahap II akan diberikan pada bulan Juli 2020. Akan tetapi, hingga saat ini anggaran tidak kunjung cair.

"Dari anggaran Rp 10 miliar dana hibah Pemkab Bandung Barat, sejauh ini anggaran yang sudah dicairkan baru sekitar Rp 3 miliar. Sementara sisa dana hibah tidak diketahui kejelasannya," bebernya.

Anggaran yang sudah cair, terang dia, digunakan untuk pembayaran tahap pertama insentif khusus (insus) sebesar Rp 825 juta, pembayaran insentif Pelatkab dan Pelatda PON sebesar Rp 970 juta, dan Dana Operasional Cabang Olahraga (DOP) sebesar Rp1,2 miliar.

Anggaran Dikuras, Miliaran Dana Hibah KONI KBB Hilang, Penyelewengan dana hibah KONI KBB semakin Jelas.

Kasus dugaan penyelewengan dana hibah Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Bandung Barat (KBB) masih berlanjut. Bukan kepada atlet, dana hibah tahun 2020 senilai Rp10 miliar itu hingga saat ini masih tak jelas larinya.

Dari anggaran sebesar itu, hibah sebesar Rp3 miliar sudah disalurkan ke beberapa cabang olahraga (Cabor). Namun, sekitar Rp7 miliar sisanya masih mengundang tanda tanya para pengurus cabor dan para atlet. Lantas, kemanakah anggaran miliaran itu disalurkan?

Wakil Ketua Komisi IV DPRD KBB, Amung Makmun mengatakan, sejumlah pengurus cabor dan atlet di bawah kepengurusan KONI KBB mengadukan atas belum sampainya seluruh dana hibah tahun 2020 ke tangan mereka.

"Dalam undangan rapat kemarin kita tidak membahas tentang penggunaan anggaran (dana hibah) melainkan aduan dari Cabor-cabor, mengenai keterlambatan insentif," kata Amung, Selasa (8/9/2020).

1. Bendahara menyebut kas KONI KBB kosong.

Berangkat dari aduan itu, Komisi IV DPRD KBB kemudian memanggil pengurus KONI untuk menjawab aduan para cabor. Namun, betapa mencengangkannya, Bendahara Umum KONI menjawab bahwa anggaran di kas KONI KBB kosong alias sudah habis.

"Pengurus Cabor menanyakan sisa-sisa uang Cabor. Namun bendahara KONI menjawab, di kas kosong. Selanjutnya dalam rapat tersebut diketahui bahwa uang tersebut ada di ketua KONI KBB (Rian Firmansyah)," sebut Amung.

2. Penggunaan anggaran belum diketahui lebih detail.

Amung sadar betul dirinya tidak bisa melakukan intervensi terhadap KONI. Dalam pertemuan itu, Komisi IV tidak mendalami kemana larinya anggaran miliaran tersebut. Meski demikian, Amung mengingatkan agar Bendahara memiliki tanggung jawab penuh atas anggaran itu.

"Waktu pimpinan rapat menganjurkan, bendahara jangan berfungsi seperti kasir, karena bendahara mengeluarkan atas sepengetahuan ketua. Secara detail, kita gak tau uang tersebut dipakai apa," ujarnya.

3. Ketua KONI KBB mangkir saat diundang DPRD.

Amung berharap, Komisi IV bisa mendapat keterangan dari Ketua KONI KBB, Rian Firmansyah. Lantaran, namanya juga terseret dalam penyaluran anggaran Rp10 miliar itu. Menurutnya, Komisi IV sudah mengundang untuk menjawab dugaan penyelewengan dana hibah tersebut. Namun, Rian Firmansyah tak sekali pun hadir memenuhi undangan.

"Kecewa pasti ada lah, kita kan sudah ngundang tapi ga datang. Terutama kita ingin penjelasan karena kebijakan ada di ketua," tandasnya.

4. Kasus masih dalam penyelidikan Unit Tipikor Polres Cimahi.

Sebelumnya, dua pengurus KONI sudah dipanggil oleh Unit Tipikor Polres Cimahi terkait dugaan penyalahgunaan dana hibah KONI tahun 2020. Dua pengurus itu yakni Sekertaris Umum KONI KBB dan Bendahara Umumnya. Dari dua pengurus yang diundang itu baru satu pengurus yang memenuhi undangan.

"Kasus ini masih dalam penyelidikan kita tapi belum bisa disimpulkan. Unit Tipikor masih mendalami dugaan Tindak pidana korupsi yg terjadi di KONI dengan memanggil saksi-saksi di internal KONI," kata Kasatreskrim Polres Cimahi, Yohannes Redhoi Sigiro beberapa waktu lalu.

Cabor Cium Aroma Penyelewengan Hibah KONI KBB.

Pengurus Cabang Olah Raga (Cabor) pada Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Bandung Barat (KBB) menagih Pencairan dana hibah tahap dua yang dijanjikan pada bulan Juli 2020 yang tak kunjung diterima.

Dana hibah sebesar Rp10 miliar dari Pemkab Bandung Barat, untuk Cabor, atlet hingga pelatih baru turun Rp3 miliar. Sementara sisa dana hibah itu hingga bulan Agustus ini tidak diketahui kejelasannya.

Pengurus Cabor Gantole Dadang Kardus mengungkapkan, pada akhir bulan Agustus terjadi transaksi transfer kepada 6 Cabang Olah Raga (Cabor), berupa dana operasional cabor yang nilainya  tidak sepadan dengan anggaran yang diterima KONI. Disisi lain 53 cabor lainnya belum ada yang mendapat anggaran hibah itu.

“Kenapa hanya 6 cabor yang di transfer, sedangkan untuk cabor lainnya belum diperhatikan. Akhirnya, muncul anggapan ada hak istimewa,” kata Dadang, Rabu (2/9/2020).

Pihaknya menilai, Transferan kepada enam cabor kemungkinan untuk meredam kegaduhan, dan dianggap permasalahan akan selesai. Padahal, dengan pencairan keenam cabor itu, malah jadi bumerang pada cabor lain.

“Cabor saat ini butuh dana pembinaan, dikarenakaan rasa beban moril pembinaan saat ini berjalan dengan menggunakan uang saku masing-masing,” ucapnya.

Menurutnya, apabila terus terjadi tanpa disadari akan berdampak terhadap hasil prestasi atlet KBB yang saat ini terus berlatih untuk membawa nama baik Kabupaten Bandung Barat di Porprov tahun 2022.

“Persiapan latihan dua tahun lebih awal dilakukan untuk mencapai prestasi terbaik. Itu kita lakukan lantaran prestasi olahraga Kabupaten Bandung Barat pada Porda Jabar di Bogor peringkatnya melorot,” ungkapnya.

Menyikapi terlambatnya pembayaran insentif atlet, pelatih, mekanik dan DOP Cabor Koni KBB tahun 2020 ini, kata Dadang, diduga adanya penyalahgunaan penggunaan wewenang dan anggaran di kepengurusan.

“Pencairan dari Dispora KBB sudah 100% untuk tahun anggaran 2020, tapi sampai sekarang kok belum ada hasil,” katanya.

Mengerucutnya dugaan penyelewengan dana tersebut, lanjut dia, sesuai dengan sejumlah bukti pengeluaran keuangan yang disampaikan bendahara umum kepada salah seorang pengurus cabor yang bukan peruntukannya.

“Kalau seperti ini, psikologis atlet akan terganggu. Karena para atlet ini punya tanggungjawab kepada masyarakat kabupaten Bandung Barat dengan hasil perolehan medali di Porda Jabar tahun 2022 nanti,” pungkasnya.

Bahas Dana Hibah, DPRD KBB Punya Informasi Mencengangkan dari Bendahara KONI.

DPRD Kabupaten Bandung Barat (KBB) angkat bicara soal kasus dugaan penyelewengan dana hibah Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Bandung Barat (KBB). Sebelumnya, KONI KBB disebut sudah menerima dana hibah dari Pemkab Bandung Barat sebesar Rp 10 miliar.

Dari anggaran sebesar itu, Rp 3 miliar sudah disalurkan ke beberapa Cabang Olahraga (Cabor). Namun, sekitar Rp 7 miliar sisanya masih mengundang tanda tanya para pengurus Cabor dan para atlet.

Wakil Ketua Komisi IV DPRD KBB, Amung Makmun mengatakan, sejumlah pengurus cabor dan atlet di bawah kepengurusan KONI KBB mengadukan atas belum sampainya seluruh dana hibah tahun 2020 ke tangan mereka.

Berkat dari aduan itu, Komisi IV DPRD KBB kemudian memanggil pengurus KONI untuk menjawab aduan para cabor. Namun, betapa mencengangkannya, Bendahara Umum KONI menjawab bahwa anggaran di kas KONI KBB kosong alias sudah habis.

"Pengurus Cabor menanyakan sisa uang Cabor. Namun bendahara KONI menjawab, di kas kosong. Selanjutnya dalam rapat tersebut diketahui bahwa uang tersebut ada di Ketua KONI KBB (Rian Firmansyah)," ungkap Amung, Selasa (8/9/2020).

Dalam pertemuan itu, Komisi IV tidak mendalami kemana larinya anggaran miliaran tersebut, sebab pihaknya tidak memiliki kapasitas untuk itu. Meski demikian, Amung mengingatkan agar Bendahara memiliki tanggung jawab penuh atas anggaran itu.

"Waktu pimpinan rapat menganjurkan, bendahara jangan berfungsi seperti kasir, karena bendahara mengeluarkan atas sepengetahuan ketua. Secara detail, kita gak tau uang tersebut dipakai apa," ujarnya.

Amung berharap, Komisi IV bisa mendapat keterangan dari Ketua KONI KBB, Rian Firmansyah. Sebab, namanya juga terseret dalam penyaluran anggaran Rp 10 miliar itu. Menurutnya, Komisi IV sudah mengundang untuk menjawab dugaan penyelewengan dana hibah tersebut. Namun, Rian Firmansyah tak sekali pun hadir memenuhi undangan.

"Kecewa pasti ada lah, kita kan sudah ngundang tapi ga datang. Terutama kita ingin penjelasan karena kebijakan ada di ketua," tandasnya.

Sebelumnya, dua pengurus KONI sudah dipanggil oleh Unit Tipikor Polres Cimahi terkait dugaan penyalahgunaan dana hibah KONI tahun 2020. Dua pengurus itu yakni Sekertaris Umum KONI KBB dan Bendahara Umumnya. Dari dua pengurus yang diundang itu baru satu pengurus yang memenuhi undangan.

"Kasus ini masih dalam penyelidikan kita tapi belum bisa disimpulkan. Unit Tipikor masih mendalami dugaan Tindak pidana korupsi yg terjadi di KONI dengan memanggil saksi-saksi di internal KONI," kata Kasatreskrim Polres Cimahi, Yohannes Redhoi Sigiro beberapa waktu lalu.

Polisi Selidik Penyelewengan Dana Hibah KONI KBB.

Polres Cimahi menerima laporan dugaan penyelewengan dana hibah Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Bandung Barat (KBB). Unit Tipikor Satreskrim Polres Cimahi pun meminta keterangan Bendahara Umum untuk mengawali penyelidikan.

Kasat Reskrim Polres Cimahi, AKP Yohanes Redhoi Sigiro menerangkan, pihaknya menindaklanjuti laporan dugaan penyelewengan dan atau pemotongan dana hibah KONI KBB tahun 2020.

“Betul ada laporan masuk, dan kami tindak lanjuti,” kata Yohanes kepada Ayobandung.com, Jumat (4/9/2020).

Sementara itu, untuk melengkapi data perkara, lanjut Yohanes, pihaknya saat ini sedang melakukan penyelidikan perkara adanya dugaan pemotongan dana Pembinaan untuk cabang olahraga.

Sejauh ini, Bendahara Umum telah memenuhi pemanggilan Polisi pada Kamis (27/9/2020), ia masih berstatus sebagai saksi. "Polres Cimahi sekarang melakukan penyelidikan sekaligus pendalaman. Sementara untuk saksi baru seorang yang dipanggil,” katanya.

 

(berbagai sumber/transaktual)