Kamis, 1 Oktober 2020 | 18:31 WIB

Puluhan ASN Positif COVID-19, Aktivitas Rutin Disdik Jabar Tetap Normal

foto

 

Puluhan ASN Positif COVID-19, Aktivitas Rutin Disdik Jabar Tetap Normal.

Puluhan Aparatur Sipil Negara (ASN) yang bekerja di lingkungan Dinas Pendidikan Jawa Barat (Disdik Jabar) dikabarkan terpapar COVID-19. Bahkan, kabar tersebut menginformasikan bahwa kantor Disdik Jabar ditutup sementara atau lockdown.

Kadisdik Jabar Dedi Supandi membantah, dan memastikan kantornya masih buka dan pegawai bekerja seperti biasa dan tidak ada penutupan sama sekali. "Tidak ada penutupan kantor. Posisi saya saja sekarang di kantor," ujar Dedi, Rabu (19/8/2020).

Kadisdik Jabar menuturkan, bahwa pada 11 Agustus telah dilaksanakan tes swab bagi seluruh karyawan Disdik Jabar sekaligus pejabat struktural di 13 Kantor Cabang Disdik (KCD). Dari sekitar 20-an pegawai yang positif, kata Dedi, tidak seluruhnya berasal dari kantor pusat Disdik Jabar. Tetapi tersebar di sejumlah KCD, salah satunya di KCD Cianjur.

"Dari 497 hanya sekitar 5 persen yang positif, itu sudah kami berikan pilihan isolasi mandiri atau di BPSDM, sementara kontak tracing terus kami lakukan," ucapnya.

Saat ini sejumlah pekerja tersebut berangsur sembuh dan dipastikan tidak terpapar setelah menjalani tes swab lanutan. "Sampai dengan hari ini, tinggal 8 orang. kalau dites swab hari ini, bisa berkurang lagi (kasus positifnya)," ujar Kadisdik.

Sementara itu Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil mengaku tidak kaget dengan temuan terbaru mengenai kasus di Dinas Pendidikan Jabar ini. Menurut dia, meski belum ada laporan rinci, namun aparatur sipil negara (ASN) di dinas Pemerintah Provinsi Jawa Barat banyak yang terpapar dan berstatus orang tanpa gejala.

“Belum ada (laporan data) spesifiknya (yang terpapar COVID-19 di Disdik Jabar), tapi yang saya tahu ASN dari banyak dinas juga ada yang terpapar,” kata Kang Emil kepada wartawan.

Hasil temuan sementara, mayoritas kasus positif saat ini banyak yang berstatus OTG, begitu pun halnya temuan positif di lingkungan Gedung DPRD Jabar beberapa waktu lalu. Pihaknya langsung melakukan penanganan dengan menyiapkan pilihan lokasi isolasi mandiri di Badan Pelatihan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Jabar yang terletak di Kota Cimahi atau di rumah masing-masing.

“Mayoritas sama kalau ada temuan (positif Covid-19) di semua tempat hampir 80 persen OTG. Ada dua di pilihan isolasi mandiri atau di BPSDM. Mayoritas (isolasi) di rumah masing-masing,” ucap Kang Emil.

Protokol Penanganan Penyebaran Virus Corona di Area Pendidikan.

Pemerintah Indonesia telah menerbitkan protokol utama dalam penanganan kasus penyebaran virus corona (Covid-19). Protokol yang diterbikan adalah Protokol Kesehatan, Protokol Komunikasi, Protokol Pengawasan Perbatasan, Protokol Area Publik dan Transportasi serta Protokol Area Pendidikan.

Pada protokol area pendidikan, ada 15 poin yang harus diperhatikan oleh Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan di daerah serta satuan pendidikan. Berikut rinciannya:

  1. Dinas Pendidikan melakukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan setempat untuk mengetahui rencana atau kesiapan daerah setempat dalam menghadapi Covid-19.
  2. Menyediakan sarana untuk cuci tangan menggunakan air dan sabun atau pencuci tangan berbasis alkohol di berbagai lokasi strategis di sekolah sesuai jumlah yang dibutuhkan.
  3. Menginstruksikan kepada warga sekolah untuk mencuci tangan menggunakan air dan sabun pencuci tangan berbasis alkohol serta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) lainnya, seperti makan jajanan sehat dan membuang sampah pada tempatnya.
  4. Membersihkan secara rutin ruangan di lingkungan sekolah dengan desinfektan, khususnya gagang pintu, sakelar lampu, komputer, meja, keyboard, dan fasilitas lain yang sering terpegang oleh tangan. Kemudian, memonitor absensi (ketidakhadiran) warga sekolah. Jika diketahui tidak hadir karena sakit dengan gejala demam/ batuk/ pilek/sakit tenggorokan/sesak napas, disarankan segara ke fasilitas kesehatan terdekat untuk memeriksakan diri.
  5. Memberikan imbauan kepada warga sekolah yang sakit dengan gejala yang disebutkan untuk mengisolasi diri di rumah dengan tidak melakukan banyak kontak dengan orang lain.
  6. Tidak memberlakukan hukuman/sanksi bagi siswa yang tidak masuk karena sakit serta tidak memberlakukan kebijakan intensif berbasis kehadiran (jika ada).
  7. Jika terdapat ketidakhadiran dalam jumlah besar karena sakit yang berkaitan dengan pernapasan, Dinas Pendidikan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan setempat.
  8. Mengalihkan tugas pendidik dan tenaga kependidikan yang absen kepada tenaga kependidikan lain yang mampu.
  9. Pihak institusi pendidikan harus bisa melakukan skrining awal terhadap warga sekolah yang mengeluh sakit. Selanjutnya, langsung diinformasikan dan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan setempat untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
  10. Memastikan makanan yang disediakan di sekolah merupakan makanan yang sehat dan sudah dimasak sampai matang.
  11. Mengimbau seluruh warga sekolah untuk tidak berbagi makanan dan minuman. Termasuk peralatan makan, minum, dan alat musik tiup yang akan meningkatkan risiko penularan penyakit.
  12. Menginstruksikan kepada warga sekolah untuk menghindari kontak fisik langsung (bersalaman, cium tangan, berpelukan, dsb).
  13. Menunda kegiatan yang mengumpulkan banyak orang atau kegiatan di lingkungan luar sekolah (berkemah, studi wisata).
  14. Melakukan skrining awal berupa pengukuran suhu tubuh terhadap semua tamu yang datang ke institusi pendidikan.
  15. Warga sekolah dan keluarga yang berpergian ke negara dengan transmisi lokal covid-19 (informasi daftar negara dengan transmisi lokal Covid-19 dapat diakses di http://www.covid19.kemkes.go.id) dan mempunyai gejala demam atau gejala pernapasan, seperti batuk/ pilek/sakit tenggorokan/sesak napas diminta tidak melakukan pengantaran, penjemputan, dan berada di area sekolah.

 

 

Transaktual.com