Kamis, 1 Oktober 2020 | 18:53 WIB

Tatan Daniel ; " KERAS BATU LEBIH KERAS LAGI ‘TAK ADA "

foto

 

Tatan Daniel ; " KERAS BATU LEBIH KERAS LAGI ‘TAK ADA "

www.transaktual.com

**"Pesan solidaritas untuk berbagi"**

Tajuk di atas, adalah ungkapan yang lazim di Medan. Menggambarkan dengan tandas, bahwa sudah tak ada apa pun lagi yang dimiliki. Situasi ini amat menyesakkan. Semua orang, tanpa kecuali, tanpa memandang ras, kebangsaan, status sosial, juga agama, telah ‘terpapar’ efek mengerikan Covid-19. Aktivitas sosial, politik, ekonomi, dan budaya berhenti. Bermilyar manusia harus berkurung di rumah. Sebagian lainnya, dikurung di rumah sakit. Sebagian lagi, dilarung ke balik tanah, ke dalam kuburan.

Kelompok profesi yang paling parah, didera oleh pandemi ini adalah kalangan seniman. Kelompok manusia idealis yang hidupnya semata diabdikan untuk keindahan. Dan gagasan tentang kemaslahatan manusia dan alam. Tak pernah berpikir tentang laba dan kekayaan. Kelompok orang yang mengandalkan daya kreatif berkesenian, untuk menghidupi diri dan keluarganya, bertarung di medan penghidupan yang keras. Yang sebelum pandemi ini merajalela pun, selalu terabaikan, kurang dipedulikan, bahkan kerap dipandang sebelah mata. Mereka terbiasa dirundung situasi yang pelik..

Mereka adalah kelompok orang yang tak dilindungi oleh lembaga apa pun! Tak ada bantuan hukum, tak ada koperasi, tak ada serikat seniman yang menjamin nasib mereka.

Kaum seniman adalah kelompok orang yang memilih jalan sunyi. Ada memang pujian dan tepuk tangan untuk mereka, dari para pengagum yang bertebaran. Tapi tak selalu diiringi dengan kesejahteraan yang memadai.

Kadang-kadang terasa, bagi mereka, seperti kata penyair Chairil Anwar: *“Hidup hanya menunda kekalahan..” *Tapi agaknya, berkesenian adalah jalan takdir yang harus diterima. Ditunaikan. Dengan gembira. Berkesenian adalah martabat yang harus dijunjung. Mereka terus ada, mereka terus saja berkarya. Bahkan dihari-hari yang menyedihkan ini. Mereka tetap menghadirkan ketulusan hati. Keriangan. Menawarkan kebaikan.

Lihatlah. Tatkala kita semua dicekam risau, terpenjara di dalam kamar, berpekan-pekan, mereka datang menyapa. Di televisi, di media sosial, di radio. Bernyanyi, bermusik, menari, menyampaikan puisi, berteater, membuat video motivasi, dan sebagainya. Tanpa dibayar. Membesarkan hati kita untuk terus kuat, bersemangat, berpengharapan. Lagu-lagu lama diperdengarkan. Lagu-lagu baru dibuat dengan kesungguhan. Itulah bahasa yang mampu mereka bagi. Asupan untuk jiwa kita agar tetap sehat dan bahagia.

Kita sudah menyaksikan kebaikan yang dikumandangkan oleh seorang **Didi Kempot**, *Godfather of Broken Heart, *yang kita sayangi itu. Sebelumnya oleh seorang **Glenn Fredly**, anak muda yang kiprahnya selalu menyentuh hati itu. Mereka, dua seniman rendah hati yang menyedekahkan tahun-tahun hidup mereka untuk kemuliaan hidup sesama. Menerima, tapi tak lupa memberi dan berbagi. Tapi mereka, rasanya, memberi lebih banyak dari yang mereka mampu. Sampai keduanya wafat, gugur dalam memperjuangkan cita-cita kemanusiaan. Anumerta, di tengah dunia yang sedang sunyi. Kita kehilangan..

Tapi kepergian mereka meninggalkan pesan yang kuat. Bahwa kebaikan bisa dilakukan oleh siapa pun, kapan pun, di mana pun. Keluhuran nurani dan rasa kemanusiaan di dalam jiwa kita harus terus ditumbuhkan, dirawat, dan dihidupkan. Kemanusiaan kita tak boleh mampus, dan kita tak boleh menjadi zombie egois, yang mengabaikan derita manusia lain disekitar kita.

Sebagian dari para seniman itu, ada pula yang turun sebagai relawan. Bergerak di luar rumah, dengan berbekal nyali siap mati, serta sekepal empati dan kepedulian, menghidupkan spirit kemanusiaan, kebersamaan, pembebasan, yang selama ini menjadi ruh dalam karya-karya mereka. Bahwa setiap orang memiliki hak untuk hidup. Berhak untuk dibela.

Tapi, kita pun tahu, tak semua mereka masih mampu tersenyum, seperti yang tampak di televisi itu. Banyak sekali yang tengah termangu pilu, terdiam mendekam, bingung, murung, risau, galau, karena sudah sampai pada titik nadir: **Keras batu, keras lagi ‘tak ada’.**

Di sisi lain, kaum seniman adalah kaum yang amat menjaga dan menghormati harga diri. Mereka tak ingin menjadi peminta-minta. Keberadaan mereka tak ingin disederhanakan, sebagai orang yang tak berdaya sama sekali. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang berkarakter mandiri. Mereka tak pernah berunjuk rasa menuntut kenaikan UMR, menuntut bantuan ini-itu, menuntut subsidi ini-itu, menuntut penghargaan atas segala prestasi mereka, menuntut jalan lapang bagi mereka untuk berproses dan berekspresi. Mereka adalah orang-orang yang berpikir dan bekerja dalam diam. Mereka juga adalah orang-orang yang menanggung sedih dalam diam. Dalam diam.., yang di hari-hari kelam ini, bagi saya, sungguh menakutkan.

Saya menuliskan ini sambil mengenangkan pesan-pesan kritis yang terbaca di grup wa: *“Saya sudah pasrah, Bang..” *atau *“Saya dan keluarga harus segera keluar dari rumah kontrakan, Pak..”,* atau *“Saya tak sanggup lagi membayangkan apa yang akan terjadi besok, lusa, Dik..”*, atau *“Berhutang pun sudah tak mungkin lagi, Tuan..”*

Saya seakan mendengar seruan: ***“Mayday! Mayday.. Save Our Soul” ***dari para pelaut di kapal yang sedang terombang-ambing dihantam badai dan gelombang.

Benar. Tak ada yang boleh menderita. Tak ada yang boleh sakit. Tak ada yang boleh terlunta. Tak ada yang boleh menangis. Sementara sebagian kita masih mampu menakar-nakar hidup dua tiga bulan ke depan. Dengan kulkas dan lemari penuh berisi cadangan makanan. Dengan tabungan yang masih cukup untuk melancong setelah pandemi ini. Tapi ada sebagian dari kita untuk esok lusa pun tak tahu akan mengunyah apa. Mungkin hanya dengan segelas air hangat, dan sebungkus mie instan yang diperbanyak kuahnya, agar cukup dibagi bersama anak isteri; kala berbuka puasa. Ah. Tentulah kita tak berharap mendapat kabar, ada sahabat dan sejawat yang kita kenal, meninggal dunia karena lapar, seperti berita yang viral beberapa hari lalu.

Inilah saat mengulurkan tangan, Saudaraku. Saat solidaritas harus dibangun sekuat hati. Bahwa kita masih ada di tengah sesama yang membutuhkan. Bahwa kita tak boleh membiarkan kawan seperjalanan, terhuyung dan terjerembab, tertinggal sekarat tanpa pertolongan.

Tuan dan Puan, saya menuliskan ini dengan mata yang basah. Saya mewakafkan waktu saya untuk menjadi penghubung, telangkai, menjadi sebiji mata rantai, untuk menautkan hati. Mengetuk pintu. Menyapa dan mengabarkan. Dan, puji Tuhan, sebuah pintu, beberapa hari lalu telah terbuka lebar, justru sebelum saya ketuk. *“Selamat siang, Pak. Selamat menjalankan ibadah puasa, ya, Pak. Semoga sehat selalu. Mohon maaf, kalau saya beranikan menyampaikan ke wa, Pak. Ada niat mau berbagi sedikit dengan para sahabat disekitar Pak Tatan, boleh saya dibantu?”*

Saya tercenung dan dicekam haru-biru membaca pesan wa itu. Datang dari seorang sejawat baik saya, seorang Ibu bermarga Silaban, yang saya tahu, suami isteri, sangat peduli pada kesenian tradisi, warisan budaya, dan situasi yang dihadapi oleh para seniman, jauh sebelum wabah Corona melanda. Subhanallah. Ternyata niat yang beberapa pekan lalu sudah menghantui saya, tentang bagaimana cara agar bisa turut membantu meringankan beban para sahabat seniman, rupanya menemukan mata air yang sejuk, bening, dan segar. Bertaut dengan gelombang frekuensi pemahaman, kesadaran, dan kerisauan hati seorang sahabat saya yang rendah hati itu. Alhamdulillah, sejumlah dana yang beliau kirim, telah saya sampaikan kepada yang berhak.

Saya yakin, sebagaimana keyakinan saya pada kebesaran Tuhan Yang Maha Pemberi, masih banyak sahabat, sejawat, kerabat, para tokoh terhormat, yang sesungguhnya berkeinginan untuk berbagi, menegaskan kehadirannya di muka bumi ini, bahwa ia tak bisa sendiri menikmati hidup yang lebih dari yang lain. Bahwa ini adalah saat yang paling berarti untuk berbagi. Apalagi di saat bulan kudus, bulan Ramadhan yang menguji integritas dan martabat kita sebagai manusia, bulan berkah dengan gerbang doa yang terbuka selebar-lebarnya.

Ini waktu untuk bergandengan tangan, mengedepankan *“hablum minannas”*, saling bergenggaman mengatasi bencana, menghadapi musibah bersama-sama, berjuang bersama, menyongsong harapan hidup yang lebih baik besok, lusa, sampai badai yang menguji keimanan dan rasa kemanusiaan kita ini mereda.

Saya, bersama sahabat saya, **Dede Rasyid Dede**, atas nama kerumitan hidup ini, perkenankan kami membuka tepak sirih penanda tali kasih. Bagi yang terketuk hati, dengan sepuluh jari kami bersembah, izinkan kami menyampaikan rekening donasi, atas nama **Tatan Daniel, No. Rekening Bank BRI: 0528-01-019925-500.** Komunikasi lebih lanjut dapat melalui inbox/messenger saya, di fb.

Tuan dan Puan. Gerakan ini semata-mata didasarkan atas *“trust”,* kepercayaan. Dan keikhlasan. Untuk ini saya pun mempertaruhkan integritas saya, atas nama Tuhan Yang Maha Mengetahui. Tak ada jalan lain. Dan kita tak bisa menunggu. Maaf, tak ada waktu untuk berdebat kusir. Atau berpolemik. Ini adalah upaya darurat, menyalakan sebatang lilin kehidupan di tengah terowongan yang tak jelas ujungnya. Menyalakan seberkas cahaya, meski tak cukup terang, tapi mampu menghidupkan harapan. Patutlah pula kita ingat petuah bijak yang menyarankan pentingnya bersikap daripada 'omdo': ***“Lebih baik kita menyalakan lilin, daripada mengutuki kegelapan”.***

Nama-nama para dermawan, besaran sumbangsih, dan penyalurannya, akan direkapitulasi dan dilaporkan via media *whatapps.* Dana yang terhimpun, sebagaimana telah saya mulai dua hari ini, akan ditransfer kepada sahabat seniman yang secara riel paling membutuhkan. Di lingkaran pertama, adalah mereka yang beraktivitas di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), dan Taman Ismail Marzuki (TIM). Jika pesan ini bersambut baik, kami pun amat berharap gerakan menyambung tali kasih ini bisa diperluas ke lingkaran berikutnya.

Semoga Tuhan memberkati niat dan upaya baik kita ini. Salam sehat, jiwa raga. Terima kasih dengan hormat seraya menjura sedalam-dalamnya, kami haturkan kepada Tuan dan Puan. Semoga panjanglah umur kebaikan! Amin! 🙏🙏🙏

Jakarta.

TATAN DANIEL.