Minggu, 5 April 2020 | 20:00 WIB

The Great Asia Africa, Diresmikan Gubernur dan Bupati, Ditutup Kabid Tata Ruang Bina Marga Jabar

foto

 

The Great Asia Afrika, Diresmikan Oleh Gubernur dan Bupati, dan Ditutup Kabid Tata Ruang Bina Marga Jawa Barat.

www.transaktual.com

Mengusung konsep wisata edukasi budaya, pengunjung diajak melihat keragaman budaya di tujuh negara di benua Asia dan Afrika lengkap dengan kuliner tradisionalnya. Destinasi wisata baru ini berada tepat berhadapan dengan objek wisata Farmhouse Susu Lembang, Jalan Raya Bandung-Lembang, Desa Gudangkahuripan, Lembang, Kabupaten Bandung Barat.

The Great Asia-Afrika diprediksi akan menjadi tujuan wisata pilihan pada liburan akhir pekan maupun libur tahun baru 2020. Berdiri diatas lahan seluas 5 hektare tepat berada di dasar lembah, objek wisata ini menawarkan pemandangan alam yang mempesona. "Di sini ada tujuh arsitektur rumah tradisional dari Korea, Thailand, India, Jepang, Indonesia, Afrika, dan Timur Tengah," ungkap Corporate Secretary & PR The Great Asia Afrika, Selasa (26/11/2019).

Dia menjelaskan, wisatawan diajak berswafoto ke wahana yang disulap menjadi perkampungan tradisional dari berbagai belahan dunia. Dilengkapi rumah tradisional, bangunan ikonik, mini zoo, lift, dan fasilitas penunjang lainnya, objek wisata ditata nyaman bagi wisata keluarga. Pengelola mulai melakukan trial opening sejak 22 November 2019, sebelum melakukan grand opening pengelola memberi diskon 50% bagi pengunjung hingga 5 Desember 2019. "Untuk tiket masuk Rp50.000, trial opening diskon 50% hingga tanggal 5 Desember 2019," katanya.

Bupati Umbara Dampingi Gubernur Emil Kendarai Motor, Resmikan The Great Asia Africa Lembang.

Gubernur Jabar Ridwan Kamil yang datang ditemani sang istri Atalia Praratya menggunakan sepeda motor, secara remi membuka The Great Asia Africa didampingi oleh Bupati KBB AA Umbara Sutisna, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) KBB Sri Dustirawati, Kapolsek Lembang Sutarman, serta pemilik tempat Perry Tristianto, Minggu (08/12/2019).

The Great Asia Africa, sebuah destinasi wisata baru hadir di Provinsi Jawa Barat (Jabar), tepatnya Jalan Raya Lembang, No71, Gudangkahuripan, Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

“Saya hari ini sangat gembira, karena dulu pernah punya cita-cita. Tahun 1955 ada Konferensi Asia Afrika, sekarang di KBB ada kampung Asia Afrika” ungkap Ridwan Kamil dalam sambutannya.

Ia menambahkan, bahwa kehadiran The Great Asia Africa ini menunjukan bahwa wilayah Bandung merupakan simbol persatuan Asia Afrika. Dan ini menunjukan Jabar selalu punya inovasi baru dalam berpariwisata.

Hal ini juga diamini sang pemilik Perry Tristianto dalam sambutannya, dengan harapan adanya wisata baru ini dapat menaikan jumlah wisatawan di Jawa Barat.

“Tujuan dari destinasi wisata ini adalah agar pariwisata di Jabar bisa lebih semarak dan mudah-mudahan bisa menaikan wisatawan di Jabar dan KBB khususnya. Saat ini baru rampung 80%, semoga di akhir Desember ini bisa rampung semuanya”, jelasnya.

The Great Asia Africa yang proses pembangunannya menghabiskan waktu kurang lebih 1,5 tahun sendiri merupakan wisata yang menyajikan destinasi miniatur berbagai macam Landmark dari 7 negara Asia dan Afrika, seperti landmark Thailand, Korea, Jepang, India, Afrika, Timur Tengah dan tentunya Indonesia.

Selain menarik untuk berswafoto (Selfie), pengunjung juga bisa melakukan wisata kuliner karena di dalam setiap Landmark disuguhkan baju, budaya dan makanan khas negara tersebut, seperti sate khas Afrika yang disajikan dengan potongan pisang.

Wisata The Great Asia Africa yang sudah trial opening sejak 22 November 2019 ini, buka setiap hari mulai pukul 08.00 WIB sampai 20.00 WIB, dengan harga tiket masuk sebesar Rp.50.000,- baik weekdays ataupun weekend.

Semoga kehadiran destinasi wisata baru ini dapat memberikan manfaat baik bagi seluruh masyarakat dan pengunjung. Seperti isi pantun yang dibacakan Ridwan Kamil di akhir sambutannya.

“Pagi-pagi Bu Cinta ke Pasar Baru Pulangnya membeli bakpia Wisata disini selalu baru, Agar banyak pengunjung selalu bahagia.” ucap Emil dalam pantunya.

Langgar 3 Aturan, The Great Asia Afrika Bandung Terancam Ditutup.   

Objek wisata terbaru di kawasan Lembang, The Great Asia Afrika, direkomedasikan ditutup sementara karena melanggar aturan tata ruang yang ditetapkan Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang Provinsi Jawa Barat. Rekomendasi penutupan sementara objek wisata tersebut diputuskan berdasarkan hasil peninjauan yang dilakukan pihaknya ke lokasi objek wisata ini. Pernyataan ini disampaikan Kepala Bidang Tata Ruang Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang Jabar, Bobby Subroto.

Dari hasil peninjauan tersebut, diketahui bahwa The Great Asia Afrika Lembang melanggar tiga aturan yang ditetapkan. Aturan yang dilanggar berkaitan dengan tata letak bangunan karena bangunan objek wisata tersebut berada di kawasan sempadan sungai. "Dia itu ada di dalamnya, harusnya tidak boleh. Dalam rekomendasi itu dilarang dan itu ada di L1 (Kawasan Bandung Utara Zona L1 yakni kawasan lindung, sempadan sungai). Kami sudah sampaikan ke teman-teman di Pemkab Bandung Barat tolong itu diperhatikan," kata dia, seperti diberitakan Republika.co.id, Sabtu (8/2/2020). Hal lain yang dilanggar ialah terkait tidak adanya bangunan untuk parkir kendaraan.

Akibatnya keberadaan kawasan objek wisata tersebut sering membuat kemacetan, khususnya saat akhir pekan atau libur panjang. "Kami merekomendasikan lahan parkir dan itu tidak tersedia," tutur Bobby. Hal ketiga yang dilanggar oleh The Great Asia Afrika Lembang adalah peletakan bangunan di kemiringan elevasi di atas 30 persen. "Seharusnya pembangunan atau bangunan tidak semasif itu kalau menurut hemat kami. Harus disesuaikan lagi. Kemudian juga ketinggian bangunan, karena kalau kita identifikasi ada di ketinggian 1.000 mdpl harusnya bangunan tidak boleh lebih dari tiga lantai," kata dia.

Oleh karena itu, solusi jangka pendek terkait pelanggaran tersebut ialah harus dilakukan semacam kegiatan penutupan sementara. "Ya harus. Karena kalau tidak dilakukan dengan cuaca seperti sekarang dan dengan bangunan-bangunan yang ada, di bawahnya bisa tergelincir, air bah. Kita enggak tahu soal fenomena alam makanya kami sudah minta untuk segera dilakukan penutupan operasional dalam diskusi dengan Pemkab Bandung Barat," katanya.

The Great Asia Afrika Bandung Direkomendasikan Ditutup.

The Great Asia Afrika direkomendasikan tutup karena langgar tata ruang. Objek wisata ini juga tidak memiliki ruang parkir yang memadai sehingga kerap menimbulkan macet.

Objek wisata terbaru di kawasan Lembang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat (Jabar) yakni The Great Asia Afrika direkomedasikan untuk ditutup sementara waktu. Rekomendasi ini muncul karena objek wisata tersebut melanggar aturan tata ruang yang ditetapkan oleh Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang Provinsi Jawa Barat.

Rekomendasi penutupan sementara objek wisata tersebut diputuskan berdasarkan hasil peninjauan yang dilakukan pihaknya ke lokasi objek wisata ini. Pernyataan ini disampaikan Kepala Bidang Tata Ruang Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang Jabar, Bobby Subroto.

Dari hasil peninjauan tersebut, diketahui bahwa The Great Asia Afrika Lembang melanggar tiga aturan yang ditetapkan. Aturan yang dilanggar berkaitan dengan tata letak bangunan karena bangunan objek wisata tersebut berada di kawasan sempadan sungai.

"Dia itu ada di dalamnya, harusnya tidak boleh. Dalam rekomendasi itu dilarang dan itu ada di L1 (Kawasan Bandung Utara Zona L1 yakni kawasan lindung, sempadan sungai). Kami sudah sampaikan ke teman-teman di Pemkab Bandung Barat tolong itu diperhatikan," kata dia.
Hal lain yang dilanggar ialah terkait tidak adanya bangunan untuk parkir kendaraan. Akibatnya keberadaan kawasan objek wisata tersebut sering membuat kemacetan, khususnya saat akhir pekan atau libur panjang. "Kami merekomendasikan lahan parkir dan itu tidak tersedia," jelas Bobby.

Hal ketiga yang dilanggar oleh The Great Asia Afrika Lembang adalah peletakan bangunan di kemiringan elevasi di atas 30 persen. "Seharusnya pembangunan atau bangunan tidak semasif itu kalau menurut hemat kami. Harus disesuaikan lagi. Kemudian juga ketinggian bangunan, karena kalau kita identifikasi ada di ketinggian 1.000 mdpl harusnya bangunan tidak boleh lebih dari tiga lantai," kata dia.

Oleh karena itu, solusi jangka pendek terkait pelanggaran tersebut ialah harus dilakukan semacam kegiatan penutupan sementara. "Ya harus. Karena kalau tidak dilakukan dengan cuaca seperti sekarang dan dengan bangunan-bangunan yang ada, di bawahnya bisa tergelincir, air bah. Kita enggak tahu soal fenomena alam makanya kami sudah minta untuk segera dilakukan penutupan operasional dalam diskusi dengan Pemkab Bandung Barat," katanya.

Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang (DBMPR) Jabar menemukan sejumlah pelanggaran tata ruang dalam kawasan wisata baru The Great Asia Africa di Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Pemkab Bandung Barat disarankan menutup sementara operasional kawasan wisata tersebut hingga perizinan selesai.

Kepala Bidang Penataan Ruang DBMPR Jabar, Bobby Subroto, menuturkan The Great Asia Africa dibangun di Kawasan Bandung Utara Zona L-1. Zona itu meliputi kawasan konservasi kawasan lindung, sempadan sungai dan situ, radius 50 meter dari mata air, serta lahan dengan kelerengan 40 persen atau lebih.

Selain itu, kata dia, Zona L-1 juga meliputi Taman Hutan Raya Ir H Djuanda, TWA Tangkuban Parahu, Cagar Alam Tangkuban Parahu, kawasan Observatorium Bosscha, koridor 250 meter kiri kanan Sesar Lembang, Kawasan Rawan Bencana III Gunung Api Tangkuban Parahu, hutan produksi, dan ruang terbuka hijau. "Zona L-1 ini menjadi daerah kawasan lindung atau zona kawasan khusus dan mempunyai risiko bencana tinggi," ucap Bobby di kantor DBMPR, Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Jumat (7/2/2020).

"Dia itu ada di dalamnya (sempadan sungai), harusnya itu tidak boleh. Kan kami di dalam rekomendasi, itu dilarang. Kami sudah sampaikan ke teman-teman dinas Kabupaten Bandung Barat tolong itu diperhatikan," kata Bobby menambahkan.

Bobby mengatakan pelanggaran lainnya yaitu peletakan bangunan di atas tanah dengan kemiringan lebih dari 30 persen. Kemudian juga ketinggian bangunan dianggap melanggar ketentuan karena didirikan di ketinggian 1.000 mdpl.

"Solusinya harus dilakukan semacam kegiatan penutupan sementara kawasan wisata tersebut. Ya harus, karena kalau tidak, dengan cuaca seperti sekarang, dengan bangunan-bangunan yang ada di bawahnya, bisa ada kecelakaan, bisa ada air bah," tuturnya.

"Kita tidak tahu juga kan soal fenomena alam. Makanya kami sudah minta untuk segera dilakukan penutupan operasional dalam diskusi dengan Pemkab Bandung Barat," Bobby menambahkan.

Bangunan di kawasan tersebut, menurut dia, belum mengantongi Sertifikat Layak Fungsi (SLF). "Dari situ kita baru bicara lagi, negatif list yang harus diselesaikan itu apa. Itu harus disampaikan pada pengembang. Itu yang harus dipenuhi sebelum mengurus izin. Amdal lalin juga belum kan. Dalam izin menggunakan jalan provinsi juga belum," ujar Bobby.

Kepala DBMPR Jabar A Koswara mengakui The Great Asia Africa didirikan di lahan yang bisa dimanfaatkan untuk pariwisata. Hanya saja, pembangunan berbagai sarana dan prasarana di kawasan tersebut belum memenuhi peraturan mengenai KBU.

"Mereka tidak siapkan parkir, Amdal Lalin belum siap, tapi sudah operasional. Caranya salah. Makanya kami rapat dengan KBB untuk menertibkan itu. Seharusnya sebelum operasional buatkan jalur lambatnya dulu, buat jembatan penyeberangan orang, supaya yang menyeberang tertib," tutur Koswara.

Kepala Bidang Tata Ruang Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang Jabar, Bobby Subroto menjelaskan rekomendasi penutupan sementara objek wisata tersebut diputuskan berdasarkan dari hasil peninjauan yang dilakukan pihaknya ke lokasi objek wisata ini.

Dari hasil peninjauan tersebut, diketahui bahwa The Great Asia Afrika Lembang melanggar tiga aturan yang ditetapkan yakni berkaitan dengan tata letak bangunan yang mana bangunan objek wisata tersebut berada di kawasan sempadan sungai.

"Dia itu ada di dalamnya, harusnya itu tidak boleh kan. Kami itu di dalam rekomendasi itu dilarang dan itu ada di L1 (Kawasan Bandung Utara Zona L1 yakni kawasan lindung, sempadan sungai), kami sudah sampaikan ke teman-teman di Pemkab Bandung Barat tolong itu diperhatikan," kata dia di Kota Bandung, Jumat, 7 Februari 2020.

Hal lain yang dilanggar ialah terkait tidak adanya bangunan untuk parkir kendaraan sehingga keberadaan kawasan objek wisata tersebut sering membuat kemacetan, khususnya saat akhir pekan atau libur panjang. "Kami merekomendasikan lahan parkir dan itu tidak tersedia," ungkapnya.

Hal ketiga yang dilanggar oleh The Great Asia Afrika Lembang adalah peletakan bangunan di kemiringan elevasi di atas 30 persen. "Seharusnya pembangunan atau bangunan tidak semasif itu kalau menurut hemat kami. Harus disesuaikan lagi. Kemudian juga ketinggian bangunan, karena kalau kita identifikasi ada di ketinggian 1.000 mdpl harusnya bangunan tidak boleh lebih dari tiga lantai," jelasnya.

"Ya harus karena kalau tidak dilakukan, dengan cuaca seperti sekarang dan dengan bangunan-bangunan yang ada, di bawahnya bisa tergelincir, air bah. Kita enggak tahu soal fenomena alam makanya kami sudah minta untuk segera dilakukan penutupan operasional dalam diskusi dengan Pemkab Bandung Barat," ujar dia.

Berbagai sumber/KIE/transakt)