Senin, 22 Juli 2019 | 18:34 WIB

Mantan Bupati Cirebon Didakwa Terima Suap Ratusan Juta

foto

 

Mantan Bupati Cirebon Didakwa Terima Suap Ratusan Juta.

www.transaktual.com

"Mas titip ke Bapak, 100," demikian ucapan Gatot Rachmanto kepada Deni Syafrudin. Ucapan yang terdapat dalam Surat Dakwaan No. 21/TUT.01.04/24/02/2019, tertanggal 20 Februari 2019 atas nama terdakwa Sunjaya Puradisastra (53) tersebut dibacakan Penuntut Umum KPK.

Dihadapan Majelis Hakim yang diketuai Fuad Muhamadi, SH.,MH dengan agenda sidang Pembacaan Surat Dakwaan, Penuntut Umum KPK antara lain mengungkapkan bahwa mantan Bupati Cirebon periode 2014 - 2019 itu, bersama-sama dengan Deni Syafrudin pada tanggal 23 Oktober 2018 bertempat di kantor Dinas PUPR Kabupaten Cirebon, telah melakukan atau turut serta melakukan perbuatan yakni menerima hadiah berupa uang sejumlah Rp100 juta dari Gatot Rachmanto selaku Sekretaris Dinas PUPR (telah dijatuhi hukuman pidana penjara selama 1 tahun, red) melalui Deni Syafrudin padahal terdakwa mengetahui atau patut menduga bahwa uang tersebut karena terdakwa mengangkat dan melantik Gatot Rachmanto sebagai Sekretaris Dinas PUPR, yang bertentangan dengan kewajibannya selaku Bupati. 

Terdakwa selaku Bupati Cirebon telah melakukan intervensi terhadap tugas Tim Penilai Kinerja PNS sehingga kinerja Tim Penilai hanya formalitas. Dalam promosi jabatan, terdakwa sering meminta imbalan uang kepada para pejabat yang dilantik dengan besaran untuk jabatan setingkat eselon III A sebesar Rp100 juta, eselon III B sebesar Rp50 juta - 75 juta dan setingkat eselon IV sebesar Rp25 juta - 30 juta. 

Permintaan kepada Gatot Rachmanto dalam jabatan eselon III A dilakukan terdakwa sekitar bulan Juli 2018. Sebelum menyetujui usulan promosi, terdakwa menanyakan "komitmen" dan "loyalitas" kepada Gatot Rachmanto dimana Gatot menyanggupinya. 

Setelah ada kesanggupan, pada sekitar akhir bulan Juli 2018, ketika Avip Suherdian menyampaikan usulan Gatot untuk menduduki jabatan Sekretaris Dinas PUPR Kabupaten Cirebon, terdakwa langsung menyetujui usulan tersebut dan meminta Avip Suherdian mengingatkan Gatot Rachmanto perihal imbalan uang untuk terdakwa. 

Pada senin, 22 Oktober 2018 sekitar pukul 17 Gatot Rachmanto menelepon terdakwa untuk menyampaikan keinginannya untuk memberikan imbalan terkait promosi dirinya. Terdakwa pada saat itu mengatakan, "nanti yang 'itu' titip ke Deni aja ya?", kemudian terdakwa menyerahkan handphone nya kepada Deni Syafrudin untuk membuat kesepakatan. Terdakwa lalu mengingatkan Deni Syafrudin agar berkoordinasi dengan Gatot keesokan harinya. 

Deny Safrudin pada hari Selasa, 23 Oktober 2018 sekitar jam 13 menerima telepon dari Gatot dan sepakat bertemu di ruang kerjanya. Selanjutnya Gatot Rachmanto menyerahkan tas berisi uang sejumlah Rp100 juta kepada Deni Syafrudin sambil menyampaikan "Mas titip ke Bapak, 100", selanjutnya Deni Syafrudin pamit pulang. 

Setelah menerima uang dari Gatot Rachmanto, selanjutnya Deni Syafrudin melaksanakan arahan terdakwa untuk mentransfer uang sejumlah Rp250 juta guna keperluan sumbangan acara Hari Sumpah Pemuda PDIP (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan). Atas dasar arahan terdakwa tersebut, Deni Syafrudin menggabungkan uang yang berasal dari Gatot Rachmanto sejumlah Rp100 juta dengan uang milik terdakwa Rp70 juta ditambah dengan uang Rp80 juta pemberian dari Supadi Priyatna sehingga totalnya Rp250 juta. Deni Syafrudin  lalu menyetorkan nya ke Bank Mandiri Cabang Sumber dengan rekening atas nama Elvi Diana untuk sumbangan Hari Sumpah Pemuda. 

Perbuatan terdakwa merupakan tindak pidana. Penuntut Umum KPK lalu membahasnya secara alternatif yaitu sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 UU RI No. 31 Tahun 1999 Tentang PTPK (Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi) sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan UU No. 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan Atas UU No. 31 Tahun 1999 Tentang PTPK jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana

(Y CHS/transact)