Senin, 25 Mei 2020 | 21:09 WIB

PHK Massal, PT Shyang Yao Fun, Relokasi Pabrik ke Brebes Jawa Tengah

foto

 

Foto: Presiden Joko Widodo (Jokowi). (BPMI Setpres/Kris)

www.transaktual.com

Pabrik Pemesan sepatu di Kota Tangerang, PT Shyang Yao Fun melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal 2.500 karyawan. Langkah ini karena perusahaan merelokasikan pabrik ke Brebes, Jawa Tengah. Pihak asosiasi menilai langkah ini lebih baik daripada mereka angkat kaki dari Indonesia pindah ke Vietnam atau Kamboja.

Direktur Asosiasi Persepatuan Indonesia (ASPRISINDO) Firman Bakri mengatakan bahwa yang melakukan PHK massal adalah PT Shyang Yao Fun. Salah satu buyer atau pemesan produk sepatu dari pabrik ini adalah sepatu Adidas. 

"Yang melakukan PHK itu adalah PT Shyang Yao Fun sementara beberapa media menyebut itu adalah pabrikan Adidas, kita harus klarifikasi bahwa bukan Adidas yang melakukan PHK tapi PT Shyang Yao Fun dimana PT Shyang Yao Fun yang merupakan salah satu buyernya adalah Adidas, " ungkap, Senin (04/05/2020).

Menurut Firman, langkah yang dilakukan oleh PT Shyang Yao Fun tak ada kaitannya dengan Pandemi Covid-19 yang sampai saat ini masih melanda tanah air. Pemutusan hubungan kerja murni karena relokasi pabrik. Mereka merelokasi pabrik dari Banten ke Jawa Tengah karena salah satunya soal upah yang tinggi di Tangerang dibandingkan di Brebes Jawa Tengah.

"Ketika kita harus bersaing secara global ternyata ketika di Provinsi banten di Tangerang kita menjadi tidak kompetitif karena faktor labour cost yang begitu tinggi, pada akhirnya selama beberapa tahun ini terjadi relokasi, relokasi dari beberapa sentra industri yang UMKM nya sudah sangat tinggi," ungkap firman. 

Upah buruh merupakan salah satu komponen yang cukup membebani perusahaan sehingga untuk memangkas jumlah pengeluaran, pihak perusahaan tentu harus melakukan efisiensi. Relokasi pabrik ke tempat dengan upah minimum yang lebih murah merupakan salah satu cara agar berdaya saing di tengah kenaikan upah minimum setiap tahun.
"Ditambah beban upah minimum sektoral, ditambah persentase pembebanan untuk BPJS, nah ini menjadi beban yang berlipat ke industri kita, sehingga secara daya saing kita kurang kompetitif dari pesaing kita di Vietnam, kemudian pilihan rasionalnya adalah melakukan relokasi dan kita masih bersyukur relokasi masih berlangsung di Indonesia bukan mereka relokasi kemudian kabur ke Vietnam atau Kamboja yang merupakan pesaing kita," kata Firman.

Presiden Jokowi Kaget Soal PHK Massal Pabrik Sepatu Buyer Adidas.

Tindakan pemutusan hubungan kerja (PHK) secara massal oleh pabrik pemesan sepatu PT Shyang Yao Fung mencuri perhatian masyarakat luas setelah videonya viral beredar di dunia maya. 

Presiden Jokowi dikabarkan menaruh perhatian terhadap kejadian PHK massal ini.

Hal ini diungkapkan oleh Ketua Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Eddy Widjanarko. Ia mengaku sempat ada kesimpangsiuran di masyarakat mengenai alasan pabrik tersebut PHK massal. Banyak yang mengira karena dampak COVID-19, termasuk di antaranya Presiden Jokowi.

"Presiden Jokowi juga melihat, disampaikan mudah-mudahan nggak ada PHK, tiba-tiba dengar ada PHK, dia kaget, dia sampaikan ke Menko Perekonomian (Airlangga Hartarto). Mungkin dikira karena COVID-19. Menko menelepon saya. Pak benar nggak PHK buat pabrik bangkrut? Saya jawab nggak, bukan karena COVID-19," kata Eddy melalui sambungan telpon, Rabu (6/5).

Ia menegaskan bahwa langkah PT Shyang Yao Fung, yang merupakan anggota Aprisindo tersebut bukan karena COVID-19, melainkan memang rencana yang sudah disiapkan sejak lama. Pabrik melakukan relokasi dari Kota Tangerang Banten ke Brebes Jawa Tengah, karena persoalan upah buruh yang tinggi di Banten dan perluasan pabrik.

"Saya tekankan, PT Shyang Yao Fung pindah bukan karena COVID-19. Namun memang strategi perusahaan yang sudah memiliki rencana sejak beberapa tahun lalu untuk pindah dan membuka perusahaan lebih besar," katanya.

Konsekuensi pindah pabrik, PT Shyang Yao Fung melakukan PHK massal terhadap 2.500 pekerja, yang dilakukan pada Mei 2020, secara bertahap.

Selain PHK Massal Pabrik Pemesan Sepatu Adidas, 300 Pabrik Juga Rumahkan Karyawan.

Industri alas kaki membuat gempar. Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal 2.500 pekerja PT Shyang Yao Fung, PHK massal dipicu karena aksi relokasi pabrik karena isu upah yang tinggi di Banten. Namun, industri alas kaki juga menyimpan bom waktu, yaitu pukulan pandemi corona juga berdampak pada permintaan pasar ekspor termasuk dari brand-brand besar seperti Adidas, Nike dan lainnya. Pelaku industri sepatu skala kecil juga kena dampak berat dari pandemi.

Ketua Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Eddy Widjanarko mengungkapkan fakta baru, banyak pabrik sepatu yang memproduksi untuk kebutuhan dalam negeri juga harus menutup pabrik. Jumlahnya mencapai 300-an perusahaan dampaknya banyak pekerja dirumahkan.

"Kalau bicara sepatu lokal banyak yang dirumahkan, hampir sebagian pabrik, karena penjualan lebaran mati. Jadi pabrik pikir nggak ada order, nggak ada yang bisa diharapkan, lebih baik dirumahkan," kata Eddy, Selasa (5/5).

Meski tidak banyak angin harapan, namun pelaku usaha di industri sepatu berharap dari meningkatnya permintaan di masa masuk sekolah tahun ajaran baru. Sehingga, pegawai bisa kembali bekerja seperti biasanya. Namun, itu pun belum pasti karena kondisi yang kian tidak menentu sampai kapan pandemi corona berakhir.

Sehingga bisa disebut, pegawai di industri sepatu untuk kebutuhan dalam negeri sangat terdampak virus korona. "Mendekati lebaran tutup emang, tapi mereka tutup nggak ada masalah. Kalau pun dirumahkan, banyak karyawan mereka berstatus kontrak kerja," sebut Eddy.

Hal ini berbeda kasus jika dibandingkan dengan pegawai pabrik untuk produksi brand kenamaan dunia seperti Adidas dan Nike. Ia menerangkan pegawainya harus berstatus karyawan tetap.

"Biasanya ada konsultan luar datang untuk periksa. Apa compliance dengan standar yang diharapkan Nike-Adidas. Salah satunya karyawan nggak boleh kontrak, tapi karyawan tetap. Kalau untuk pabrik kecil, local market ada kontrak kerja jadi kondisi seperti ini, diputuskan hubungan kontrak kerja itu," sebutnya.

Bagi pelaku usaha sepatu skala besar bukan berarti tanpa tantangan. Direktur Eksekutif Aprisindo Firman Bakri mengatakan saat ini pabrikan besar hanya menyelesaikan permintaan sampai Mei, sedangkan setelah itu belum ada kepastian order dari pemain-pemain besar dunia.

Dari surat edaran perusahaan diketahui, langkah PHK massal dilakukan untuk memulai bisnis dengan kapasitas yang lebih besar, sehingga bisa membantu dan menyerap tenaga kerja yang lebih banyak. “Memang PT Shyang Yao Fung melakukan PHK dalam rangka untuk relokasi ke Brebes dan sekaligus pengembangan usaha,” kata dia.

Lebih lanjut, perusahaan juga akan menginformasikan kepada karyawan mereka mengenai jumlah dan besaran pesangon, dimana pembayarannya akan dilakukan melalui rekening bank masing-masing karyawan.

“Pembayaran gaji akan dihitung pada hari kerja terakhir para karyawan dan slip gaji diterbitkan bersamaan dengan slip penerimaan pesangon masing-masing karyawan. THR akan diberikan sesuai ketentuan peraturan yang berlaku,” demikian bunyi surat edaran tersebut. 

(Indra DH/Transakt)