Senin, 25 Mei 2020 | 20:53 WIB

Mengapa Perlu Knowledge dan Know how, Kontroversi TKA di Dalam Negeri

foto

 

Mengapa Perlu Knowledge dan Know how, Kontroversi TKA di Dalam Negeri.

www.transaktual.com

Pembicaraan santai yang akhirnya bisa jadi serius, di Sosial Media.

Toto Sugiarto (bertanya...)

Tanya : apakah TKI memiliki /diberi sejenis KTP di negaranya bekerja ?, apakah TKI di LN gajinya lebih tinggi daripada gaji tenaga lokal?

Tanya : Kalo hanya kuli bangunan kenapa harus tenaga luar?/import?

Edi Haryadi (menjawab...)

Mengapa perlu TKA?

Kalau anda pernah ke pabrik. Anda akan melihat proses produksi. Dari suasana itu anda akan melihat orang bekerja yang diatur by system melalui ban berjalan. Di setiap lini proses produksi itu ada mesin yang bekerja. Sehebat apapun mesin pada akhirnya yang menentukan produktifitas bukanlah mesinnya tetapi orang yang menjalankan mesin itu.

Teman saya beli mesin dari China. Sesuai kontrak bahwa kapasitas mesin itu sebesar katakanlah 100.000 krat. Tapi nyatanya setelah mesin diinstal hanya mencapai produksi setengahnya. Dia protes kepada penjual mesin di China. Pihak china mendatangkan pekerja inti ke Pabrikan tersebut. Apa yang terjadi? mesin mampu bekerja sesuai spec yaitu 100.000 krat perhari.

Perbedaan itulah yang disebut dengan know how. Jadi know how itu adalah pemahaman yang kita dapat atas suatu knowledge setelah melalui praktek. Mengapa? knowledge yang kita dapat dari sekolah, kuliah atau kursus tidak bisa setara dengan know how? Padahal untuk mendapatkan knowledge anda butuh bertahun tahun sekolah. Ya knowledge yang anda miliki hanya 40% untuk anda bisa memahami. Orang bayar anda kerja bukan karena knowledge tapi knowhow.

Nah, kata kuncinya adalah praktek. Mengapa? 80% tingkat pemahaman itu kita dapat dari praktek dan bisa mencapai 90% apabila kita mengajarkan orang bagaimana praktek. Saya menjelaskan soal ekonomi itu bukan knowledge lagi tapi know how. Makanya berbeda dengan akademisi.

Makanya kalau investasi di bidang Industri, yang rumit itu adalah transfer dari knowledge ke know how. Ini berhubungan langsung dengan produktifitas. Sehebat apapun mesin, tidak akan bisa menghasilkan output sesuai spec kalau SDM-nya tidak menguasai know how.

Bayangkan tanur Blast Furnace untuk mengeringkan lump cutter 1200 ton perhari pada smelter nikel, kalau operator mesin tidak punya know how, target output tidak tercapai dan ini berdampak kepada lini produksi lainnya yang juga melambat. Ujungnya kepada pemborosan investasi. Karena investasi tungku tidak sesuai dengan output. Tentu berdampak harga pokok tidak kompetitif.

Bagaimana tranfer knowledge ke know how ? biasanya calon pekerja lokal yang punya knowledge akan mendapatkan pelajaran dasar proses produksi dan aspek teknis mesin. Itu hanya 10% saja.

Selebihnya mereka hanya melihat langsung tenaga akhli asing ( expat ) bekerja. Dari melihat ini mereka bisa memahami mengapa begitu dan mengapa begini. Kemudian mereka diarahkan untuk praktek di bawah pengawasan tenaga ahli asing yang ada. Proses ini bisa tiga bulan, bisa setahun atau lebih. Tergantung tingkat kerumitan dari tekhnologi mesin.

Awalnya industri China itu masih tradisional. Tetapi sejak Deng membuka diri, arus investasi asing masuk. Orang China cepat sekali melakukan transformasi dari knowledge ke know how. Mereka mendapat trasfer know how tekhnologi alat berat dari Jerman.

Electronika dari Jepang dan Korea, Pertambangan dari Israel dan otomotif dari AS. Tadinya AS juga belajar dari Inggris mendapatkan know how industri. Semua negara berproses seperti itu dan kehadiran tenaga kerja asing adalah keniscayaan kalau kita mau bergerak maju. Walau kadang tenaga ahli itu tidak S3 namun know how mereka itulah yang mahal.

 Edi Haryadi / transaktual.