Senin, 16 Desember 2019 | 10:08 WIB

Hakim Meminta Monang Saragih Jual Aset untuk Ganti Kerugian 152 Korbannya

foto

 

Hakim memanggil tiga koordinator pelapor kasus penipuan investasi dengan terdakwa Monang Saragih.*/YEDI SUPRIADI

www.transaktual.com

Majelis hakim Pengadilan Negeri Bandung memanggil tiga koordinator pelapor penipuan investasi bodong Koperasi Jasa Hukum (Kopjaskum) Monang Saragih ke ruang sidang. Di depan terdakwa Monang Saragih, meminta untuk segera menjual aset Monang untuk dibagikan kepada 152 korban.

Demikian terungkap dalam sidang yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Klas 1A Bandung, Jalan RE Martadinata, Kamis 14 November 2019. Sidang yang beragendakan tuntutan tersebut ditunda dan akan kembali digelar Kamis pekan depan. 

Sidang sempat dibuka ketua majelis Toga Napitupulu. Namun sebelum dimulai, majelis pun memanggil tiga orang koordinator sesuai permintaan terdakwa Monang Saragih yang akan membayar uang ganti rugi dengan menjual sertifikat tanah yang sebagian sudah ada di salah seorang koordinator para korban. 

Dihadapan para korban yang hadir di persidangan, Toga menyebutkan jika ketiga orang koordinator tengah mengurus surat kuasa untuk penjualan sertifikat milik terdakwa. 

Ketiga kordinator pelaporan tersebut yakni Erik Victora, Jayusman dan shinta. "Nanti hasil penjualan aset (terdakwa) akan dibayarkan untuk melunasi investasi korban," katanya. 

Toga melanjutkan, jika hasil penjualan aset tersebut mencukupi untuk dibayarkan total investasi korban itu bagus, jika tidak pun semua terbagi rata dipersentasekan. 

"Tapi ini khusus yang 152 saja. Nanti kalau ada kelebihannya diberikan kepada terdakwa. Kami tidak menekan saudara (terdakwa). Karena ini kemauan saudara sendiri," ujarnya. 

Toga pun kemudian menunda persidangan pekan depan. Apa yang diungkapkan Toga di persidangan disambut ucapan terimakasih dan tepuk tangan oleh para korban.  

Pelunasan tidak menghapus pidana.

Jaksa Penuntut Umum Kejati Jabar Angga Insana Husri menegaskan adanya itikad baik dari Monang Sinaga untuk membayar uang kerugian nasabah KJH tidak serta merta menghapus perbuatan pidananya. 

Demikian dikatakan jaksa penuntut umum, Angga menanggapi akan dibayarnya dana investasi Koperasi Jasa Hukum oleh Monang Saragih. Pembayaran tersebut dilakukan dengan cara akan menjual tiga buah bidang tanah milik Monang Saragih.

Menurutnya, langkah ini merupakan upaya kejaksaan untuk memberikan aspek keadialan dalam segi kemanfaatan bagi para korban investasi KJH Monang Saragih. "Bagaimana ada itikad baik terdakwa untuk membuat surat kuasa penjualan (aset) sehingga tidak ada lagi izin ahli waris untuk melakukan jual beli," katanya saat ditemui wartawan usai sidang. 

Dengan demikian, lanjutnya, aset berupa sertifikat yang ada di para koordinator korban bisa dijual dan hasilnya bisa dimanfaatkan untuk membayar kerugian investasi dari para korban yang totalnya 152 orang ini. 

"Itu dari segi kemanfaatannya. Namun ini juga tentunya tidak menghilangkan dari segi pidananya juga," ujarnya. Disinggung berapa nominal yang diterima para korban, Angga menegaskan semua korban yang sudah melapor dan masuk dalam 152 orang sebagaimana dalam dakwaan harus kebagian. Jangan sampai ada kelompok ini dapat semuanya, sementara yang lain hanya sebagian. 

"Makanya semua korban harus memonitor. Jangan mentang-mentang koordinatornya yang megang kelompok dia kebagian besar. Jadi peradilan ini bukan hanya berikan efek jera, tapi kemanfaatan juga bagi para korban," katanya.

(pr/transakt)