Kamis, 14 November 2019 | 05:09 WIB

Bandara Husein Sastranegara Ditutup, Bandung Bakal Ditinggalkan Wisman

foto

 

Bandara Husein Sastranegara Ditutup, Bandung Bakal Ditinggalkan Wisman.

BANDUNG – www.transaktual.com

Munculnya wacana penutupan Bandara Husein Sastranegara dari kegiatan komersial dinilai keputusan tidak bijaksana. Pemkot Bandung khawatir, bila rencana itu terealisasi, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Bandung raya bakal menurun.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bandung Kenny Dewi Kaniasari mengatakan, Bandara Husein Sastranegara Bandung saat ini masih menjadi satu-satunya pintu masuk wisman, terutama dari Singapura dan Malaysia. Pergerakan wisman yang melalui bandara ini rata-rata 4.000 per hari. Bahkan, jumlahnya lebih banyak dibanding Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, Majalengka, yang hanya 2.000 orang per hari.

Masih tingginya jumlah wisman yang masuk ke Husien Sastranegara dibandingkan BIJB menunjukkan Bandung masih memilki daya tawar. Saat ini 13 penerbangan telah dialihkan ke BIJB, sehingga Bandara Husein hanya melayani penerbangan internasional, antarpulau Jawa, dan pesawat propeller.

"Kalau sampai ditutup, ya sayang sekali. Dampaknya tidak hanya ke pariwisata, tapi ekonomi juga. Tidak hanya ke Kota Bandung, tapi mungkin Jabar juga akan kena imbasnya juga," kata Kenny, Kamis (31/10/2019).

Menurut Kenny, data UN WTO sebanyak 52% wisatawan dunia bepergian atau berwisata menggunakan moda transportasi udara. Artinya, penutupan Bandara Husein dari bandara komersial akan menutup direct flight Bandung dengan dunia luar.

"Sebenarnya saya sudah tidak mau banyak komentar soal ini, karena sudah banyak sekali industri yang bicara soal kekhawatiran kalau Husein ditutup. Ada Asita, asosiasi, dan lainnya. Umumnya mereka ingin pertahankan Bandara Husein Sastranegara," beber Kenny.

Lebih lanjut dia menyebut, pemindahan 13 rute ternyata tidak memindahkan penumpang yang selama ini melalui Husein ke BIJB. Hal itu terlihat pada turunnya volume penumpang di Husein dan BIJB.

Data yang dia peroleh, volume penumpang melalui Husein sebelum beroperasinya BIJB mencapai 300.000 per bulan (Juni). Sementara pada Juli, volume penumpang tinggal 114.000-an. Saat ini, volume penumpang harian di BIJB pun sekitar 1.500 orang. Penurunan juga terjadi pada volume bagasi dan kargo. "Artinya, lebih dari setengah penumpang hilang setelah pemindahan flight ini," ujarnya.

Mencuatnya wacana penutupan Bandara Husein Sastranegara dari penerbangan komersial pertama kali dilontarkan DPRD Provinsi Jabar. Alasannya, untuk menggerakkan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) di Majalengka.

Penerbangan Langsung ke Bandung Masih Jadi Favorit Wisman.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat Doddy Herlando, mengatakan bahwa Direct flight atau penerbangan langsung internasional ke Bandara Husein Sastranegara Bandung dinilai masih menjadi favorit wisatawan mancanegara (wisman). Tanpa ada direct flight, wisman masuk ke Bandung dikhawatirkan bakal berkurang.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat Doddy Herlando mengakui, bila dilihat dari periode Agustus ke September 2019, memang terjadi penurunan jumlah wisman sekitar 2,7%. Turun dari 14.034 orang menjadi 12.917 orang.

"Tetapi secara kumulatif selama periode Januari hingga September 2019, kami mencatat kenaikan 4,36% atau menjadi 115.000 orang. Artinya, penerbangan langsung ke Bandung masih menjadi favorit wisatawan datang ke Jawa Barat," kata Doddy di kantor BPS Jabar, Jalan PHH Mustofa, Kota Bandung, Jumat (1/11/2019).

Menurut dia, wisman asal Singapura dan Malaysia masih mendominasi penerbangan langsung ke Bandung pada periode September 2019. Masing-masing 18,81% atau 2.450 WNA Singapura dan 62,07% atau 8.087 WNA Malaysia. Sementara sisanya dari Tiongkok, India, Jepang, Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Thailand.

Menurut Doddy, penutupan Bandara Husein Sastranegara dari penerbangan komersial mestinya mempertimbangkan beberapa faktor. Pertama, akses Cisumdawu harus diselesaikan, sehingga jarak tempuh dari Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, Majalengka, bisa dikalkulasi.

"Biasanya mereka juga pertimbangkan efisiensi waktu. Biasanya jadwal berkunjung wisman sangat padat. Nah, kalau waktu mereka habis untuk menempuh jarak dari satu tempat ke lainnya, jadi mereka akan berpikir dua kali. Di Bali aja mereka ambil yang dekat-dekat," jelas dia.

Faktor lainnya, bagaimana membuat daya tarik wisata di kawasan pantura sehingga wisman dapat memaksimalkan waktu sebaik mungkin untuk berkunjung di kawasan sekitar bandara. Karena itu, mesti dipikirkan objek daya tarik, kalender event, dan insentif lainnya.

Ketiga, pertimbangkan dinamika bisnis, karena biasanya tak sedikit wisman yang melakukan kunjungan bisnis, kemudian dilanjutkan berwisata. "Nah, apakah iklim bisnis di sana sudah menarik. Jadi harus ada sinergitas. Juga bagaimana membuat  paket (wisata) yang menarik."

(transact)