Sabtu, 21 Sepember 2019 | 22:19 WIB

KPK Operasi Tangkap Tangan Dirut PTPN III

foto

 

KPK Operasi Tangkap Tangan Dirut PTPN III.

www.transaktual.com

Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) melakukan operasi tangkap tangan (OTT) terhadap Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara (PTPN) III (Persero) Dolly Pulungan dan Direktur Pemasaran I Kadek Kertha Laksana pada Selasa, (3/9/2019).

Dolly Pulungan ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait distribusi gula. Dia diduga menerima suap SGD 345 ribu dari pihak swasta.

Tiga orang yang jadi tersangka di kasus ini yakni pemilik PT Fakar Mulia Transindo Pioeko Nyotosetiadi (PNO) sebagai pemberi. Sedangkan sebagai penerima yakni Dirut PTPN III (Persero) Dolly Pulungan (DPO) dan Direktur Pemasaran PTPN III (Persero) I Kadek Kertha Laksana (IKL).

Merespons kasus tersebut, PTPN III angkat bicara mengenai prosedur hukum, operasional, dan pengisi jabatan yang kosong.

Dirut Kena OTT KPK, PTPN III : Kita Ikuti Proses Hukum

 Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara (PTPN) III (Persero) Dolly Pulungan, dan Direktur Pemasaran I Kadek Kertha Laksana terjerat operasi tangkap tangan (OTT) KPK malam ini, Selasa (3/9/2019). Kedua direksi tersebut ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait distribusi gula.

Mengenai hal tersebut, detik.com menghubungi Corporate Secretary PTPN III Irwan Perangin-Angin terkait keterangan lebih lanjut mengenai kasus distribusi gula.

"Jadi gini, ini kami sedang ditangani oleh KPK. Kita ikuti dulu proses hukumnya, nanti kita akan sampaikan lebih lanjut, saya kira begitu saja ya," kata Irwan kepada detik.com, Rabu (4/9/2019). Perlu diketahui, bahwa Dolly Pulungan ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait distribusi gula. Dia diduga menerima suap SGD 345 ribu dari pihak swasta.

Tiga orang yang jadi tersangka di kasus ini yakni pemilik PT Fakar Mulia Transindo Pioeko Nyotosetiadi (PNO) sebagai pemberi. Sedangkan sebagai penerima yakni Dirut PTPN III (Persero) Dolly Pulungan (DPO) dan Direktur Pemasaran PTPN III (Persero) I Kadek Kertha Laksana (IKL).

PT Fajar Mulia Transindo merupakan pihak swasta dalam skema long term contract dengan PTPN III yang mendapat kuota untuk mengimpor gula secara rutin setiap bulan selama kontrak.

Terdapat aturan internal di PTPN III mengenai kajian penetapan harga gula bulanan. Penetapan harga gula disepakati oleh tiga komponen yaitu PTPN III, Pengusaha Gula (PNO) dan ASB selaku Ketua Asosiasi Petani Tebu Republik Indonesia (APTRI).

"Pada 31 Agustus 2019 terjadi pertemuan antara PNO, DPU dan ASB Ketua Umum Dewan Pembina Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia di Hotel Shangrila. Terdapat permintaan DPU ke PNO karena DPU membutuhkan uang terkait persoalan pribadinya untuk menyelesaikannya melalui ASB," Wakil Ketua KPK Laode M Syarif di gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Selasa (3/9/2019).

Dolly kemudian meminta Kadek menindaklanjuti pemberian uang itu. Pieko diduga menyerahkan uang itu lewat orang kepercayaannya kepada Kertha Laksana yang kemudian diamankan KPK.

PTPN III Usulkan Plt Dirut ke Kementerian BUMN

Seperti diketahui sebelumnya bahwa Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) semalam melakukan operasi tangkap tangan (OTT) terhadap Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara (PTPN) III (Persero) Dolly Pulungan dan Direktur Pemasaran I Kadek Kertha Laksana.

Merespons hal tersebut, PTPN III siang ini akan mengusulkan ke Kementerian BUMN terkait pelaksana tugas (Plt) untuk mengisi jabatan direksinya yang kena OTT KPK.

"Kami masih menunggu keputusan dari pemegang saham. Akan diputuskan semuanya (terkait Plt) hari ini. Itu (Plt) yang akan dibicarakan siang ini," kata Corporate Secretary PTPN III (Persero) Irwan Perangin-Angin kepada detikcom, Rabu (4/9/2019).

Irwan mengatakan, pihaknya akan mengambil keputusan tercepat sesuai dengan hasil rapat pemegang saham dan mengumumkannya hari ini juga. "Kami akan infokan kemudian, hari ini," tutur Irwan.

Kemungkinan besar, Plt Direktur Utama PTPN III berasal dari direksi perseroan. Ada beberapa nama yang berpeluang menjadi Plt Dirut, antara lain Direktur Keuangan Mohammad Yudayat, Direktur Produksi dan Pengembangan Ahmad Haslan Saragih, dan Direktur SDM dan Umum Seger Budiarjo.

Mengenai keputusan Deputi Bidang Usaha Industri Agro dan Farmasi Kementerian BUMN Wahyu Kuncoro yang akan berkonsultasi dengan Biro Hukum Kementerian BUMN, Irwan mengatakan pihaknya tetap akan menjalankan sesuai rencana.

"Kalau itu mungkin nanti langsung beliau (Wahyu), tetapi kalau yang Anda tanyakan tadi, siang ini akan dilakukan sesuai dengan yang sudah direncanakan," jelas dia.

Sebagai informasi, Dolly Pulungan ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait distribusi gula. Dia diduga menerima suap SGD 345 ribu dari pihak swasta.

Dalam kasus suap distribusi gula ini, tiga orang yang jadi tersangka itu yakni pemilik PT Fakar Mulia Transindo Pioeko Nyotosetiadi (PNO) sebagai pemberi. Sedangkan sebagai penerima yakni Dirut PTPN III (Persero) Dolly Pulungan (DPO) dan Direktur Pemasaran PTPN III (Persero) I Kadek Kertha Laksana (IKL).

Dirut PTPN III Kena OTT KPK, Kementerian BUMN Bicara.

Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara (PTPN) III (Persero) Dolly Pulungan, dan Direktur Pemasaran I Kadek Kertha Laksana semalam terjerat operasi tangkap tangan (OTT) KPK.

Menanggapi hal tersebut, Deputi Bidang Usaha Industri Agro dan Farmasi Kementerian BUMN Wahyu Kuncoro mengatakan, pihaknya akan bekerja sama dengan KPK dalam menangani kasus ini.

"Kementerian BUMN bersama PTPN III siap bekerja sama dengan KPK dalam menangani kasus ini," tutur Wahyu dalam keterangan resminya, Rabu (4/9/2019).

Untuk status kedua tersangka tersebut, Wahyu mengatakan pihaknya akan melakukan konsultasi dengan Biro Hukum Kementerian BUMN untuk mencopot keduanya dari direksi PTPN III.

"Kementerian BUMN menghormati dan menjunjung asas praduga tidak bersalah, termasuk mengenai non aktif Dirut dan Direksi akan dikonsultasikan pada Biro Hukum Kementerian BUMN," terang Wahyu.

Sementara itu, Wahyu meminta seluruh jajaran PTPN III untuk tetap menjalankan operasional perusahaan sebaik mungkin.

"Kementerian BUMN meminta manajemen PTPN III untuk melaksanakan dan memastikan operasional perusahaan tetap berjalan dengan baik, terutama terus memberikan pelayanan yang optimal," kata dia.

Sebagai informasi, Dolly Pulungan ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait distribusi gula. Dia diduga menerima suap SGD 345 ribu dari pihak swasta.

Dalam kasus suap distribusi gula ini, tiga orang yang jadi tersangka itu yakni pemilik PT Fakar Mulia Transindo Pioeko Nyotosetiadi (PNO) sebagai pemberi. Sedangkan sebagai penerima yakni Dirut PTPN III (Persero) Dolly Pulungan (DPO) dan Direktur Pemasaran PTPN III (Persero) I Kadek Kertha Laksana (IKL).

Serahkan Diri, Dirut PTPN III Tersangka Suap Diperiksa Intensif KPK

KPK telah menetapkan Direktur Utama (Dirut) PTPN III (Persero) Dolly Pulungan sebagai tersangka suap distribusi gula. Dolly saat ini diperiksa secara intensif oleh penyidik.

"DPU (Dolly Pulungan) Dirut PTPN III telah dibawa ke KPK dan sedang dalam proses pemeriksaan," kata Kabiro Humas KPK Febri Diansyah kepada wartawan, Rabu (4/9/2019).

"Ia menyerahkan diri dini hari tadi," imbuh Febri.

Sementara itu, untuk tersangka lainnya, yaitu Direktur Pemasaran PTPN III (Persero) I Kadek Kertha Laksana, KPK telah menahan Kadek di rutan KPK cabang Pomdam Jaya Guntur. Penahanan dilakukan selama 20 hari ke depan.

"Tersangka IKL (I Kadek Kertha Laksana) ditahan 20 hari pertama di Rutan Cab KPK di Pomdam Jaya Guntur," katanya.

Ditangkap di Soetta, Penyuap Dirut PTPN III Ditahan KPK.

KPK menahan Pieko Nyotosetiadi yang merupakan tersangka penyuap Dirut PTPN III Dolly Pulungan. Dia ditahan setelah sebelumnya ditangkap KPK di Bandara Soekarno-Hatta (Soetta).

"Tadi KPK dengan bantuan Polres Metro Bandara Soetta melakukan penangkapan terhadap tersangka PNO (Pieko Nyotosetiadi) di bandara sekitar pukul 14.15 WIB. Setelah itu kami bawa ke KPK dan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut hingga penahanan selama 20 hari pertama," kata Kabiro Humas KPK Febri Diansyah kepada wartawan, Rabu (4/9/2019).

Pieko ditahan di Polres Jakarta Pusat. Dia hanya diam saat ke mobil tahanan setelah menjalani pemeriksaan di gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan.

"Ditahan di Rutan Polres Jakarta Pusat," ujarnya. KPK sebelumnya menetapkan Pieko sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait distribusi gula. Dia diduga memberi suap SGD 345 ribu kepada Dolly.

"Uang SGD 345.000 diduga merupakan fee terkait dengan distribusi gula yang termasuk ruang lingkup pekerjaan PTPN III (Persero), di mana DPU (Dolly Pulungan) merupakan Direktur Utama di BUMN tersebut," kata Wakil Ketua KPK Laode M Syarif di gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Selasa (3/9).

Pieko merupakan pemilik PT Fakar Mulia Transindo. Selain itu, Direktur Pemasaran PTPN III (Persero) I Kadek Kertha Laksana (IKL) turut ditetapkan KPK sebagai tersangka penerima bersama Dolly.

Fakta-fakta OTT KPK Jerat Dirut PTPN III dan Bupati Muara Enim.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan dua operasi tangkap tangan (OTT) secara berturut-turut selama dua hari. OTT KPK kali ini melibatkan Bupati Muara Enim Sumatera Selatan dan Direktur Utama (Dirut) PTPN III.

KPK melakukan OTT terhahadap Dirut PTPN III Dolly Pulungan, terkait kasus suap distribusi gula di PTPN III 2019 pada Selasa (3/9/2019). Sedangkan penangkapan Bupati Muara Enim Ahmad Yani dilakukan Senin (2/9/2019), terkait kasus suap terkait proyek pembangunan jalan. 

Keduanya ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK kemarin. Selain itu, KPK juga menetapkan 3 orang sebagai tersangka di masing-masing kasus.

"KPK meningkatkan status penanganan perkara ke penyidikan dan menetapkan tiga orang sebagai tersangka," kata Wakil Ketua KPK Laode M Syarif dalam konferensi pers di gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Selasa (3/9/2019).

(detik/transakt)