Kamis, 17 Oktober 2019 | 04:59 WIB

Kasus Pembangunan Patung Rp. 8,1milyar Oleh BUMD TGJ Tapteng Belum Ada Tindak Lanjut

foto

 

Kasus Pembangunan Patung Rp. 8,1milyar Oleh BUMD TGJ Tapteng Belum Ada Tindak Lanjut.

www.transaktual.com

Tapteng.

Kasus pembangunan patung sebesar Rp. 8,1M yang dikerjakan oleh TGJ Tapteng yang keberadaannya ini telah terbuang begitu saja bagaikan harta yang tidak bertuan.

Padahal berdasarkan hasil laporan pemeriksaan BPK-RI Perwakilan Provinsi Sumatera Utara atas laporan keuangan pemerintah Kab. Tapanuli Tengah tahun 2014 No.036.B/LHP./VII.MDN/05/2015 ditemukan biaya pembuatan patung tersebut sebesar Rp.8,1M, namun hingga saat ini kasus tersebut tidak pernah terdengar lagi soal tindak lanjutnya.

Pembuatan Patung yang ditangani BUMD Tapanuli Growth Jaya itu pada tahun 2011 dibangun di Labuhan  Angin Kec. Tapian Nauli semasa Drs. Tuani Lumban Tobing Bupati Kab. Tapanuli Tengah namun hingga sudah 3 kepala daerah penggantinya sampai saat ini  pemanfaatan pembangunan patung tersebut tidak pernah dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah, sehingga anggaran yang telah dibelanjakan Pemkab selama ini tampaknya sia-sia dilapangan.  

Kurang jelas diketahui TransAktual apa penyebab Bupati penerus Drs. Tuani Lumban Tobing tidak menindak lanjuti program pembuatan patung tersebut yang hingga menelan anggaran Rp.8,1M itu kurang jelas diketahui.

Dalam keterangan BPK RI perwakilan Provinsi Sumatera Utara dalam bukunya ditemukan keuangan BUMD TGJ buku kas pencatatan uang keluar tidak lengkap sehingga BPK RI sulit untuk melakukan pengujian (dalam arti diragukan keabsahan penggunaan uang sebesar Rp.8,1M).

Sumber-sumber informasi yang dihimpun wartawan Trans Aktual  bahwa dasar hokum berdirinya BUMD TGJ adalah berdasarkan Perda No.5 tahun 2007 tentang Badan Usaha Milik Daerah Kab. Tapanuli Tengah dengan modal dasarnya hanya sebesar Rp.1M, namun anehnya Pemda Tapteng ternyata dapat mengucurkan dana hingga sebesar Rp.1M yakni : Rp.4.950.290.300 untuk biaya pembuatan patung  tahun anggaran 2009 dan Rp. 3.149.910.000 untuk biaya belanja operasional pada tahun  2009, namun kenyataan dilapangan menurut pengamatan wartawan Trans Aktual selama ini bahwa pembangunan patung tersebut baru terlaksana pada tahun 2011.

Bila kita telusuri informasi tentang pembangunan patung tersebut memang cukup berliku-liku panjang jalannya pembuatan patung tersebut mungkin saja akibat hal tersebut BPK RI pun sulit menemukan untuk melakukan pengujian pengeluaran keuangannya.

Anehnya BPK RI Perwakilan Provinsi Sumatera Utara kesulitan dalam hal kasus tersebut bersamaan dengan itu pihak penegak hokum di Provinsi Sumatera Utara pun tampaknya mandul juga untuk mengungkap kasus pembangunan  patung tersebut. Apakah patung itu bernama Patung Anugerah atau patung apa juga disangsikan karena, yang dimaksud Patung Anugerah yang akan dibangun Pemda dulu adalah berdiri diatas  kapal menjulang tinggi.

Sampai dimana liku-liku kasus pembuatan patung yang diduga melebihi anggaran itu akan Trans Aktual ikuti.

(dp/transakt).

Pandan, 07 Agustus 2019

Pengirim Berita,

DAFTAR PASARIBU