Kamis, 17 Oktober 2019 | 04:40 WIB

Proyek Puluhan Milyar Amburadul, diduga ada Nepotisme di PDAM Tirtawening Kota Bandung

foto

Proyek Puluhan Milyar Amburadul, diduga ada Nepotisme di PDAM Tirtawening Kota Bandung.

www.transaktual.com

Proyek Instalasi Pengolahan Air milik PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) Tirta wening Kota Bandung, di Cikalong, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung amburadul. Proyek yang di bangun di 3 titik bernilai Rp. 63 miliar itu kini dibiarkan terlantar dalam progres fisik 50%.

Kontraktornya PT KP disebut-sebut tak mampu meneruskan pengerjaan. Bahkan upah para pekerja yang rata-rata warga setempat tak dibayar selama 2 bulan sehingga warga melakukan unjuk rasa. Anehnya di lokasi proyek masih terpasang papan nama proyek yang tidak mencantumkan nilai dan sumber anggarannya, juga terpampang plang diawasi oleh Jaksa Pengacara Negara Kejaksaan Tinggi Jawa Barat.

Tersungkurnya kontraktor dalam melaksanakan proyek tersebut karena memang digerogoti sejak awal. “Proyek itu diduga sudah menjadi bancakan dari awalnya. Oknum PDAM Tirtawening diduga sudah meminta fee 20%. Bahkan saat sebelum kontraktor meninggalkan pekerjaan yang baru 50%, direksi memerintahkan agar dibayar 80%. Termen I dibayar 40% kepada kontraktor jelang keberangkatan direksi, walikota, dan anggota DPRD ke Jepang. Termen II sebesar 40% dicairkan menjelang pensiunnya Direktur Air Minum Desember 2018.

Khusus pembayaran termen II ini tidak untuk kontraktor. Uang sekitar sebesar Rp. 25 miliar itu dengan nekatnya diduga dibagikan kepada orang-orang yang terlibat proyek. Bahkan keberangkatan umroh walikota  Bandung  beserta keluarga dan keluarga direksi diduga menggunakan SPJ atas nama karyawan PDAM Tirtawening. Jumlah rombongan umroh 60 orang berangkat tanggal 12 Februari 2019 lalu. Berangkatnya walikota dan rombongan ke Jepang juga diduga menggunakan SPJ atas nama karyawan,” ungkap sumber baru-baru ini.

Kendati proyek vital ini di supervisi Jaksa Pengacara Negara (plang spanduk....red),  Kejati Jabar, tapi seakan tak pernah dimonitor. Menurut informasi yang diperoleh bahwa personil Kepolisiaan dari Pengamanan Objek Vital Polda Jabar  yang berhasil ditemui di lokasi proyek mengaku belum pernah melihat ada orang kejaksaan yang mengontrol proyek tersebut, termasuk ucapan dari salah seorang tim teknis PDAM Tirta Wening.

Lebih jauh diungkap sumber, bahwa adik (keluarga....red), Direktur Utama, Soni Salimi ini juga diduga memonopoli pengadaan PAC (Penjernih Air) termasuk untuk belanja barang dan pengadaan proyek Cikalong. Bahkan, imbuh sumber itu, untuk mengeksekusi fee 20% itu Soni Salimi mempercayakan kepada adik dan saudara lainnya yang memang juga karyawan di PDAM Tirtawening.

“Tidak hanya untuk proyek tapi juga memotong 20% dari uang swakelola di 14 bagian. Masing-masing bagian mendapatkan Rp. 100 juta/bulannya. Uang hasil pemotongan baik dari proyek maupun dari uang swakelola dengan jumlah miliaran rupiah itu di simpan dalam bentuk tunai di 2 safety room di kantor PDAM Tirtawening,” urainya.

Dugaan praktik korupsi sistematis dalam nepotisme kekerabatan oleh Dirut PDAM Tirtawening, Soni Salimi sudah lama menjadi buah bibir karyawannya sendiri. Betapa tidak, banyak karyawan PDAM Tirtawening mengeluh merasa sakit hati akibat tindakan-tindakan yang dianggap tidak berkeadilan.

Ada satu lagi adik Soni Salimi yang mendapat sorotan karyawan PDAM Tirtawening. Dikatakan sumber, adik bungsunya ini diduga saat menjabat Kepala Seksi Kesejahteraan Pegawai ditugasi Soni untuk melaksanakan pengadaan seragam untuk 900 karyawan.

“Bahan pakain seragam itu dibeli di Sentra Tekstil Kiloan Sisa Pabrik Cigondewah. Pemborong yang ditunjuk untuk melaksanakan pengadaan sekitar Rp. 1 miliar itu adalah oknum anggota DPRD Kota Bandung. Banyak karyawan kecewa karena selain kualitas bahannya juga kualitas jahitannya rendah. Tidak sesuai spek,” urainya.

Tidak hanya proyek, diduga untuk penerimaan pegawai baru pun PDAM Tirtawening mengutip (baca: pungli...red) sejumlah uang kesetiap calon pegawai. “Untuk semua calon pegawai maupun tenaga kontrak harus setor minimal Rp. 2 juta dengan dalih  infaq untuk mesjid Maimaskuub yang terletak di lingkungan PDAM Tirtawening. Jumlah yang diterima sebagai pegawai maupun tenaga kontrak semuanya 420 orang. Semua kutipan ini adalah ide Soni Salimi. Bahkan terakhir dia menekankan saat rapat di kantor Sistem Pengolahan Air Minum, Gedebage, Bandung,” ujar sumber lainnya.

Kabar miring lainnya adalah pemberian bea siswa kepada karyawan PDAM Tirtawening. Pasalnya, bea siswa diberikan kepada karyawan yang masih berstatus tenaga kerja kontrak bahkan calon pegawai. Bila ini dibiarkan akan menimbulkan gejolak dan kecemburuan karyawan yang masa kerjanya sudah lama.

“Ini kalau dibiarkan bisa menimbulkan gejolak dan perpecahan karena kecemburuan karyawan tetap dengan masa kerja sudah lama tidak diberi kesempatan untuk mendapatkan bea siswa. Walikota Oded wajib tau karena lucu sekali International Woman University (IWU) tempat karyawan PDAM Tirtawening mendapatkan beasiswa kuliah menempati aset bekas rumah dinas  Direktur Utama di Jalan Pasirkaliki. Ini juga diduga hasil konspirasi antara oknum penguasa,” pungkas sumber tersebut.

(sumber,;..@lf/transakt)