Sabtu, 21 Sepember 2019 | 22:25 WIB

Rute Dialihkan ke Bandara Kertajati, Penumpang Keluhkan Jarak Tempuh

foto

 

Senin, 01 Juli 2019, saat mulai diberlakukannya pengalihan rute penerbangan dari Bandara Husein Sastranegara, Bandung, Senin (1/7/2019). (Erika Lia/Ayocirebon.com).

Senin, 01 Juli 2019, saat mulai diberlakukannya pengalihan rute penerbangan dari Bandara Husein Sastranegara, Bandung, Senin (1/7/2019). (Erika Lia/Ayocirebon.com)

www.transaktual.com

Sebagian penumpang mengeluhkan jarak jauh menuju Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, Kabupaten Majalengka, menyusul mulai diberlakukannya pengalihan rute penerbangan dari Bandara Husein Sastranegara, Bandung, Senin (1/7/2019).

Hari ini, total 24 penerbangan ke 12 kota dilakukan dari Bandara Kertajati. Ke-12 kota itu di antaranya Batam, Medan, Pekanbaru, Palembang, Surabaya, Denpasar, Lombok, Pontianak, Balikpapan, dan Banjarmasin.

"Dari Bandung lumayan jauh, waktu tempuhnya sampai 2,5 jam,"

ungkap seorang calon penumpang asal Bandung, Ramdhan. Pria itu mengaku hendak terbang menuju Palembang menggunakan pesawat City Link. Perjalanan dari Bandung ke Kertajati ditempuhnya menggunakan bus Damri tujuan Bandung-Kertajati, yang menggratiskan layanannya sepanjang sekitar satu bulan ke depan.

Keluhan serupa disampaikan calon penumpang lain, Rani. Saat rute penerbangan domestik ke luar Jawa masih di Bandara Husein Sastranegara, dirinya hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit dari rumahnya. "Tapi sekarang harus menempuh jarak dengan waktu 2,5 jam," katanya.

Namun begitu, Rani yang hendak terbang ke Denpasar, Bali itu mengaku, tak keberatan dengan kebijakan pengalihan rute penerbangan tersebut. Dia bahkan memuji bangunan Bandara Kerrajati yang dinilainya bagus dan megah.

Sementara itu, Anggota Komisi V DPR RI, Bambang Haryo mengaku, mendengar keluhan dari maskapai penerbangan (airline) soal avtur atau bahan bakar penerbangan. Maskapai menilai, avtur ke BIJB belum diberi potongan harga (diskon).

"Tapi dimahalin 15% dengan selisih Rp1.478 dari total harga. Ini nggak bener," ungkapnya saat di Bandara Kertajati. Mengetahui avtur didatangkan dari Pertamina Balongan, Kabupaten Indramayu, yang jaraknya lebih dekat dengan Kabupaten Majalengka, dia menilai seharusnya harga avtur dimungkinkan lebih murah. Dia memandang, belum ada koordinasi yang baik antara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Pertamina sebagai penyedia avtur. Karena itu, dia meminta Kemenhub mengordinasikan hal ini dengan Kementerian ESDM.

Bambang juga mengaku menerima keluhan dari penumpang ihwal jarak tempuh ke Bandara Kertajati. Untuk ini, menurutnya harus ada akses transportasi yang memperpendek waktu tempuh ke bandara ini. "Tarif juga harus murah," tuturnya. Aset kan sudah terlanjur dibangun, harus dimanfaatkan," tegasnya.

(ayobdg/transakt)