Minggu, 7 Maret 2021 | 10:15 WIB

Lanjutan Sidang Kasus RTH Kota Bandung, Tentang Cek Rp 750 Juta, dan Pilkada Kota Bandung

foto

 

ikustrasi Lanjutan Sidang Kasus RTH Kota Bandung, Tentang Cek Rp 750 Juta...(tb.koko)

Bandung – www.transaktual.com

Terus menggelinding bola panas, kasus pengadaan Ruang Terbuka Hijau Kota Bandung, setelah tiga terdakwa terdahulu, Tom tom, Kadar dan Heri di Vinis 4 sampai dengan 6 tahun penjara, kini Dadang Suganda alias Demang seminggu dua kali duduk sebagai pesakitan (terdakwa...red) di depan meja hijau Pengadilan Tipikor PN Bandung. Sidang kemarin berkaitan dengan penerimaan Cek dari Bank Bukopin dari Dadang Suganda alias Demang.

Dadang Suganda menuding Asep Barlian alias Abay (47) berbohong. 3 (tiga) lembar Cek yang seluruhnya bernilai Rp 750 juta tersebut diakui berasal dari Dadang Suganda dan telah diberikan kepada Edi Siswadi untuk biaya kampanye pencalonan Walikota Bandung periode 2013-2018.

Hal tersebut disampaikan oleh Dadang Suganda di hadapan Majelis Hakim yang diketuai T. Benny Eko Supriyadi, SH., MH dalam kapasitasnya sebagai terdakwa Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Pengadaan Tanah Untuk Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dengan agenda pemeriksaan para saksi.

Menurut pengusaha dan juragan tanah itu, tidak pernah memberi cek Bank Bukopin kepada Asep Barlian. Dirinya yakin, cek diterima dari Edi Siswadi yang telah diberikan olehnya sebelumnya. Pada saat cek tersebut diterima dan dicairkan oleh Asep Barlian, Dadang Suganda sedang menjalani perawatan di rumah sakit.

Sanggahan Dadang Suganda di Pengadilan Tipikor Bandung (14-01-2021) itu disampaikan usai mendengar keterangan 7 (tujuh) orang saksi yang dihadirkan Penuntut Umum KPK. Sebelum nya menurut Abay, dirinya menerima 3 (tiga) lembar Cek Bukopin untuk dicairkan. Pertama menerima cek Bank Bukopin dari Edi Siswadi sebesar Rp 50 juta sebagai uang muka penggandaan lagu untuk kampanye sebanyak 30.000 keping dengan harga per kepingnya Rp 5000, total Rp 150 juta.

Pelunasan untuk ini dilakukan secara mencicil dan lunas. Cek kedua dari Bank Bukopin pada tanggal 16 April 2013 menurut Abay senilai Rp 300 juta yang diterimanya dari Dadang Suganda yang akan digunakan oleh Edi Siswadi untuk biaya kampanye, dan cek dari Bank Bukopin ketiga tertanggal 16 April 2013 senilai Rp 400 juta diakui Abay diterima dari Dadang Suganda.

Selain tentang cek, Asep Barlian menerangkan sudah kenal lama dengan Dadang Suganda. Kenal nya di kampus Unla. Asep Barlian juga mengenal Edi Siswadi dan menjadi relawan saat Edi Siswadi mencalonkan diri untuk jabatan Wali Kota Bandung. Suatu saat Asep Barlian dimintai tolong oleh Dadang Suganda untuk mengetik Surat Perjanjian Pinjaman antara Dadang Suganda dengan Edi Siswadi dalam hal ini Edi Siswadi meminjam uang sebesar Rp 1.750.000.000,-(satu miliar tujuh ratus lima puluh juta rupiah).

Data nya sebagian dari Dadang Suganda, sebagian lagi dari Asep Barlian dengan cara mengarang dengan mencocokkan jumlah pinjaman Rp 1,750 juta. Surat perjanjian diakui dibuat pada tanggal 1 Desember 2012. Tujuan pembuatan surat tersebut sebagai pegangan Dadang Suganda dan Edi Siswadi.

Suatu saat menurut Asep Barlian, dirinya bersama Dadang Suganda menemui Edi Siswadi di Lapas Sukamiskin Kota Bandung dengan maksud menagih pinjaman tersebut dan Edi Siswadi menolak untuk membayarnya.

Saksi lainnya terkait beralih nya cek Bank Bukopin yang dikeluarkan oleh Dadang Suganda adalah Merdi hajiji(49).  Dosen Pengajar pada  STIE itu tahu Dadang Suganda. Merdi mengaku satu kali bertemu Dadang Suganda karena disuruh Edi Siswadi di Bank Bukopin. Pertemuan tersebut terkait dengan pengambilan uang Rp 500 juta dari Dadang Suganda saat kampanye Edi Siswadi. Pada tanggal  18 Februari 2013 Edi Siswadi menyuruh Merdi untuk datang ke Bank Bukopin, ketemu dengan Sekpri Sekda Kota Bandung Yusuf dan Dadang Suganda. Menurut Merdi yang juga relawan Edi Siswadi, tindakannya terkait kampanye.

"Itu spontanitas," tidak bertanya kenapa mesti dirinya tapi terkait kampanye. Pada laun waktu yaitu Maret 2013 terjadi lagi pencairan uang di Bukopin Rp 350 juta. Perintahnya sama, ketemu dengan Yusuf yang pegang cek. Pencairan tidak menggunakan nama Yusuf mungkin karena ASN. Saat itu hanya tahu Edi siswadi kampanye, "ini keteledoran saya," ujar Merdi yang mengaku tidak ada janji-janji dari Edi Siswadi. Dalam 2 (dua) kali pencairan cek munculnya dari Yusuf. Setelah cair, uang nya langsung dibawa Yusuf untuk diberikan kepada Edi Siswadi. Merdi jadi relawan untuk Edi Siswadi karena tertarik dengan isi kampanyenya yang berhubungan dengan honor guru ngaji, rutilahu dan sebagainya.

Pengakuan bertemu Dadang Suganda di Bank Bukopin ini dibantah oleh Dadang Suganda karena dirinya sedang dirawat di rumah sakit.

Lain lagi dengan keterangan yang disampaikan Tata Sukayat (44). Dosen di UIN Bandung itu tahu Dadang Suganda alias Demang dikenalkan Edi Siswadi di ruang kerja Sekda Kota Bandung.

Tata dalam hubungannya dengan Edi Siswadi itu karena Edi Siswadi sebagai Ketua Balai Latihan Jadi (Baladi) menerima cek Bank Bukopin Rp 48 juta dari Edi Siswadi sebagai uang pengganti pembayaran 20 unit bus, uang tip supir dan keperluan lainnya dalam acara wisata religi. Sidang masih dilanjutkan pada selasa depan, menghadirkan saksi saksi lainnya.

 

 (transakt).