Minggu, 24 Januari 2021 | 10:07 WIB

CUCU KH.HASYIM ASY'ARI ANGKAT BICARA VIDIO VIRAL DI MEDIA SOSIAL TENTANG ADZAN

foto

 

CUCU KH.HASYIM AS'ARY ANGKAT BICARA VIDIO VIRAL DI MEDIA SOSIAL TENTANG ADZAN.

Jombang- www.transaktual.com

Viral di media sosial tentang lafad adzan yang di ganti Ayyalah Solat di ganti Ayalah Jihad. Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng dan Cucu KH Hasyim Asy'ari adalah KH Fahmi Amrulloh (Gus Fahmi )mengatakan bahwa lafad ayyala solat di ganti dengan ayyala jihad itu dilarang dan dosa besar karena tidak ditemukan satupun yang menjelaskan tentang hal tersebut.

Adzan adalah panggilan untuk solat bukan panggilan untuk jihad.kalau emang panggilan adzan digantikan dengan ayyala jihad itu sudah menyimpang dari tujuan adzan tersebut yang berfungsi sebagai panggilan umat Islam untuk menjalankan solat apalagi kalau tujuan tersebut memprovokasi dan sebagainya lebih-lebih lagi niat untuk jihad.

KH.Fahmi Amrulloh Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng dan Cucu KH Hasyim Asy'ari menjelaskan pada waktu dulu KH.Hasyim Asary mengeluarkan Revolusi Jihad tidak serta Merta.Karena KH.Hasyim As'ary  mengundang para ulama untuk meminta pendapat yang sepakat dan barulah keluar revolusi jihad tersebut.karena pada waktu itu terjadi peperangan,harus jelas lawannya, tujuan apa jadi panggilan jihad tersebut kepada siapa, Jadi KH.Fahmi Amrulloh mengatakan harus pikir sebaik baiknya untuk umat Islam khususnya warga Nahdiyin tidak terpancing atau terprovokasi, kita serahkan ke Aparat Kepolisian yang menangani dan kita kembalikan kepada Allah SWT supaya Indonesia aman, tentram dan damai.

Sudah di amankan pihak berwajib.

Pelaku azan hayya alal jihad yang berasal dari Kabupaten Majalengka, telah menyampaikan permohonan maafnya. Azan itu sebelumnya viral di media sosial.

Ada tujuh orang warga Kabupaten Majalengka yang terekam dalam salah satu video azan hayya alal jihad yang viral. Pemkab Majalengka pun langsung bergerak cepat menyikapi viralnya video yang melibatkan warganya tersebut.
 
Bupati Majalengka, Karna Sobahi, langsung mengintruksikan camat Argapura untuk menyelidiki kebenaran video tersebut. Sejumlah langkah pun telah diambil untuk menyelesaikan persoalan itu.
 
‘’Ya, betul, dari laporan Pak Camat Argapura, salah satu video viral azan jihad itu salah satunya warga kami,’’ ujar Karna, melalui pesan singkatnya kepada wartawan, Rabu (2/12).
 
Enam dari tujuh orang yang terlibat dalam azan hayya alal jihad di salah satu video yang viral itu, diketahui berasal dari Desa Sadasari, Kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka. Sedangkan satu orang lainnya berasal dari Desa Kumbung, Kecamatan Rajagaluh.
 
Karna mengatakan, ketujuh orang warganya tersebut telah diberikan pengarahan. Mereka pun sudah menyadari kesalahannya.
 
‘’Dan malam tadi, secara sadar dan sukarela, mereka telah membuat pernyataan permohonan maaf secara tertulis dan lisan melalui visual video,’’ terang Karna.
 
Dari video permohonan maaf itu, terlihat tujuh orang yang melakukan azan hayya alal jihad mengungkapkan permohonan maaf di Balai Desa Sadasari, Kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka.
 
Mereka juga menandatangani surat pernyataan di atas materai, dan disaksikan Plt Kepala Desa Sadasari, Abdul Miskad, serta saksi-saksi lainnya.
 
‘’Melalui surat pernyataan ini, kami tujuh orang memohon maaf kepada semua pihak, atas video kami yang sempat viral sebelumnya. Permohonan maaf ini kami sampaikan kepada warga Desa Sadasari, pemerintah desa dan seluruh umat Islam di seluruh tanah air,’’ tutur salah seorang pelaku azan,  didampingi enam orang rekannya saat membacakan surat pernyataan maaf di video tersebut.
 
Menurut dia, dalam video yang telah dibuat sebelumnya itu mungkin sudah berbau SARA dan isu agama. Namun, mereka memastikan tidak ada tendensi apapun saat membuat video tersebut.
 
‘’Kami tidak bermaksud mefitnah, menuduh ataupun menyerang pihak manapun. Jika ada pihak yang risih dan merasa tidak nyaman dengan video kami itu, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya dari lubuk hati yang paling dalam dan kami mengaku bersalah,’’ tuturnya.
 
Mereka pun mengaku khilaf dan berjanji tidak mengulangi hal serupa. ‘’Kami berharap agar semua pihak dan umat Islam secara umum  dapat menerima permohonan maaf kami,’’ kata.

Diki/transakt.