Minggu, 24 Januari 2021 | 10:04 WIB

Humas Rumah Sakit Umum Mutiasari Enggan beri Komentar Terkait Limbah

foto

 

Humas Rumah Sakit Umum Mutiasari Enggan beri Komentar Terkait Limbah.

tranakrual com

Duri Bengkalis, kehadiran rumah sakit sangat di butuhkan oleh masyarakat ramai.tetapi rumah sakit tersebut tidak lah menyalahi aturan yang berlaku bagi masyarakat.

Ketika di konfirmasi melalui awak media tranakrual.com, humas salah satu rumah sakit Mutiasari ( Titin) enggan memberikan komentar terkait limbah dan incenerator untuk pembakaran limbah B3 RS. Mutiasari.

Dimana humas rumah sakit tersebut mengatakan kepada awak media, "ini bukan wewenang saya pak.." Dan humas tersebut (Titin) langsung meminta surat tugas dari awak media.

Di katakan Titin selaku humas, bahwa limbah B3 dari rumah sakit Mutiasari, ada kerja sama dengan pihak ketiga. juga masalah AMDAL bisa bapak tanya sama DLH kabupaten Bengkalis.

Di samping memberikan keterangan mengenai limbah dan AMDAL,Titin selaku humas menghubungi 'dr Yusup sebagai salah satu bagian pengurusan limbah dan AMDAL- RS nya.

Dari pantauan transaktual com, terhadap rumah sakit Mutiasari seakan ada kemungkinan menutupi kegiatan yang berlangsung di lingkungan nya tersebut, dan pihak Media akan terus menanyakan masalah limbah B3 ini kepada pihak ketiga yang disebut oleh Humas Titin tersebut.

Salah seorang warga setempat, sempat menyampaikan kepada awak media, bahwa pernah rumah sakit tersebut membuang limbah nya tidak sesuai mekanisme yang mengacu kepada peraturan menteri kesehatan.

Setelah di tanya mengenai pembuangan limbah yang pernah di lakukan rumah sakit Mutiasari,itu juga di akui oleh humas. Sangat di sayangkan akan kinerja dari rumah sakit Mutiasari tersebut,sampai menanyakan surat tugas awak media dan untuk tidak menaikan pemberitaan.

Perlu di sampai kan kepada dinas terkait kabupaten Bengkalis yaitu DLH, jangan hanya menerima berkas berupa kertas,tampai melakukan cross check di lapangan.

Hal ini menjadi masalah tersendiri karena limbah medis yang dibuang begitu saja dapat membawa dampak bagi kesehatan. Limbah medis yang diduga terkait dengan penanganan wabah Covid-19 seperti masker, sarung tangan, dan tisu ditemukan tercecer di tempat pembuangan akhir (TPA).

Bagaimana seharusnya pengelolaan limbah medis di masa pandemi virus corona seperti saat ini?

Manajer Kampanye Perkotaan dan Energi Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Dwi Sawung mengatakan, limbah medis yang melimpah antara lain alat pelindung diri (APD).

Menurut dia, penanganan sampah medis tersebut sebenarnya tidak sulit. Pihak rumah sakit dapat memilah dan melakukan disinfeksi terhadap sampah medis tersebut. "Dipilah dulu. Bisa didisinfeksi dengan berbagai cara baru dicacah supaya nggak disalahgunakan," kata Dwi, Setelah itu, limbah medis tersebut dapat dibuang ke TPA atau didaur ulang.

Untuk mengoptimalkan upaya penyehatan lingkungan Rumah Sakit dari pencemaran limbah yang dihasilkannya maka Rumah Sakit harus mempunyai fasilitas pengelolaan limbah sendiri yang ditetapkan KepMenkes RI No. 1204/Menkes/SK/X/2004 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit yaitu:

  1. Fasilitas Pengelolaan Limbah padat — Setiap Rumah sakit harus melakukan reduksi limbah dimulai dari sumber dan harus mengelola dan mengawasi penggunaan bahan kimia yang berbahaya, beracun dan setiap peralatan yang digunakan dalam pengelolaan limbah medis mulai dari pengumpulan, pengangkutan, dan pemusnahan harus melalui sertifikasi dari pihak yang berwenang.
  2. Fasilitas Pengolahan Limbah Cair — Limbah cair harus dikumpulkan dalam container yang sesuai dengan karakteristik bahan kimia dan radiologi, volume, dan prosedur penanganan dan penyimpanannya. Rumah sakit harus memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah sendiri.

Limbah dari pelayanan kesehatan seperti rumah sakit dapat diklasifikasikan dalam beberapa kategori utama, yaitu limbah umum, limbah patologis (jaringan tubuh), limbah radioaktif, limbah kimiawi, limbah berpotensi menular (infectious), benda-benda tajam, limbah farmasi, limbah sitotoksik, dan kontainer dalam tekanan. Dari sekian banyak jenis limbah klinis tersebut, maka yang membutuhkan sangat perhatian khusus adalah limbah yang dapat menyebabkan penyakit menular (infectious waste) atau limbah biomedis. Limbah ini biasanya hanya 10 – 15 % dari seluruh volume limbah kegiatan pelayanan kesehatan. Jenis dari limbah ini secara spesifik adalah:

  • Limbah human anatomical: jaringan tubuh manusia, organ, bagian-bagian tubuh, tetapi tidak termasuk gigi, rambut dan muka.
  • Limbah tubuh hewan: jaringan-jaringan tubuh, organ, bangkai, darah, bagian terkontaminasi dengan darah, dan sebagainya, tetapi tidak termasuk gigi, bulu, kuku.
  • Limbah laboratorium mikrobiologi: jaringan tubuh, stok hewan atau mikroorganisme, vaksin, atau bahan atau peralatan laboratorium yang berkontak dengan bahan- bahan tersebut.
  • Limbah darah dan cairan manusia atau bahan/peralatan yang terkontaminasi dengannya. Tidak termasuk dalam kategori ini adalah urin dan tinja.
  • Limbah-limbah benda tajam seperti jarum suntik, gunting, pecahan kaca dan sebagainya.

Sampai berita ini di muat di media siber online transaktual.com,belum ada tanggapan yang pasti terkait limbah Rumah Sakit Umum Mutiasari.

(Jack's.transaktual)