Minggu, 24 Januari 2021 | 09:51 WIB

LKSN 2020 Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) Tema "Berkarya, Berprestasi, dan Mewujudkan Mimpi"

foto

 

LKSN 2020 Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) Tema "Berkarya, Berprestasi, dan Mewujudkan Mimpi"

BANDUNG, www.transaktual.com

Perasaan bangga diungkapkan Sri Hastuti, juri pembuatan aksesori pesta saat menilai hasil karya peserta Lomba Keterampilan Siswa Nasional (LKSN) Tahun 2020 di Bandung. 

“Saya sangat bangga karena anak berkebutuhan khusus kan anak istimewa, anak yang memiliki kekurangan. Tetapi lihat hasilnya, saya senang sekali,” ungkapnya seperti dilansir  http://kemdikbud.go.id, Selasa (3/11/2020).

Tidak hanya Sri Hastuti, hal yang sama diungkapkan panitia lainnya, Remilasari. Menurutnya, meski di masa pandemi Covid-19 para siswa diharuskan belajar di rumah, namun peserta membuktikan bahwa mereka masih bisa berkarya meskipun di rumah.

Enggak nyangka mereka mampu menghasilkan karya yang luar biasa di rumahnya. Kalau datang, belum tentu kreativitas mereka seperti ini. Mereka benar-benar mengeluarkan keterampilannya dengan memanfaatkan limbah-limbah yang ada sehingga menjadi cantik seperti ini dan memiliki nilai jual,” tuturnya.  

Sebelumnya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) menyelenggarakan LKSN 2020 untuk anak berkebutuhan khusus (ABK) bertema "Berkarya, Berprestasi, dan Mewujudkan Mimpi".

Lomba ini bertujuan menggali potensi peserta didik berkebutuhan khusus bidang non-akademis, khususnya bidang keterampilan untuk mencapai kemandirian setelah menyelesaikan pendidikan khusus.

Sebanyak 306 peserta didik disabilitas tunarungu (B), grahita (C), daksa (D), dan autis jenjang SMPLB dan SMALB dari 34 provinsi telah mengikuti lomba tersebut dengan menerapkan protokol kesehatan. 

Bidang yang dilombakan, antara lain membatik, kriya kayu, tata boga, kecantikan, merangkai bunga, menjahit, teknologi informasi, hantaran, dan kreasi barang bekas. 

Selain kreativitas dan nilai jual, inovasi menjadi kriteria penilaian juri pada perlombaan ini. “Tahun depan, karya yang dibuat harus lebih berinovasi karena kebanyakan hasil karya yang dinilai hampir sama seperti yang ada di pasaran,” pungkas Ni Luh Putu, Praktisi Pimpinan Lembaga Kurus dan Pelatihan (LKP) Cendil, Jawa Tengah.

AF.MH/Transaktual.