Minggu, 29 November 2020 | 20:16 WIB

Menyambut Hari Santri Nasional 2020

foto

 

menyambut Hari Santri Nasional 2020.

Banyumas-www.transaktual.com

Dewan Da'wah didirikan pada 27 Februari 1967. Para pendirinya adalah tokoh-tokoh Islam terkemuka di Indonesia, yang juga para pendiri bangsa (founding fathers), seperti Dr. Mohammad Natsir (Perdana Menteri pertama Negara Kesatuan Republik Indonesia), Mr. Mohammad Roem (Menteri Luar Negeri RI, dan penandatangan Perjanjian Roem-Van Roejen), Mr. Sjafroedin Prawiranegara (Presiden Pemerintahan Darurat Republik Indonesia dan Gubernur Bank Indonesia pertama), Prof. Dr. HM Rasjidi (Menteri Agama pertama RI), Mr. Burhanuddin Harahap, Prawoto Mangkusasmito, Prof. Kasman Singodimedjo, KH. Faqih Usman (Mantan Menag), dan KH Hasan Basri (mantan ketua MUI), ungkap Humas Dewan Da'wah Banyumas Ir.H.Alief Einstein,M.Hum.

H. Einstein mengatakan bahwa hingga saat ini Dewan Da'wah yang sudah berusia 53 tahun memiliki perwakilan (Pengurus Wilayah) di 32 provinsi, mengelola 17 kampus da'wah (Sekolah Tinggi Ilmu Da'wah M Natsir dan 16 Akademi Da'wah Indonesia) dengan 600-an kader da’i, dan menempatkan ratusan dai yang tersebar di berbagai pelosok Nusantara. Merekalah yang memakmurkan 700-an Masjid yang didirikan Dewan Da'wah dan masjid yang berafiliasi pada lembaga da'wah ini. Program-program kerja Dewan Da'wah disusun dengan merujuk pada lima misi atau panduan gerak Dewan Da'wah.yaitu Mengokohkan Aqidah, Menegakkan Syariah, Mempererat Ukhuwah, Menjaga NKRI, dan Menggalang Solidaritas Dunia Islam.

1. Dewan Da'wah Banyumas
H. Einstein menjelaskan bahwa Pimpinan Pengurus Pusat Dewan Da'wah di Jakarta terdiri dari dua tokoh nasional di bidang da'wah dan pendidikan yang diamanahi masing-masing Prof.Dr.KH.Didin Hafidhuddin,MSc. sebagai Ketua Dewan Pembina dan Ketua Umum Pengurus Pusat Dewan Da'wah yakni Dr.Adian Husaini. Adapun Ketua Dewan Da'wah Banyumas adalah Prof.Dr.H.Abdul Basit,M.Ag. saat ini sebagai Dekan Fakultas Dakwah IAIN Purwokerto.

H. Einstein menambahkan, Dewan Da'wah Banyumas yang bertekad menjadi lembaga da'wah sebaik mungkin beralamat di Jalan Pelajar Imam Gang Kenanga Pamijen Sokaraja Kabupaten Banyumas, tepat nya di timur Rumah Sakit (RS) Margono, Purwokerto.

Dari strategi Tiga Pilar Da'wah (Kampus, Masjid, dan Pesantren) salah satu tokoh pendiri Dewan Da'wah Dr.Mohammad Natsir, Dewan Da'wah Banyumas memprioritaskan dalam penguatan program da'wahnya yaitu sudah lama didirikannya Masjid Al Ikhlas dan adanya Pondok Pesantren (PP) Cendekia, kata H. Einstein.

Pengurus Takmir Masjid Al-Ikhlas Dewan Da'wah Banyumas sudah bekerja keras menyiapkan program terbaik, di antaranya TPA, TPQ, Kajian Mahasiswa, Kajian Umum untuk jamaah sekitar, Kajian Tahfid Al Quran, Kajian Tahsin Al Quran, Kajian Bahasa Arab, Kajian Bahasa Inggris, Riyadhoh (olahraga) bela diri Mua Tae, kata Ustadz Asgar yang saat ini sedang menyelesaikan S2 di IAIN Purwokerto.

2. Pondok Pesantren CENDEKIA
Lokasi PP CENDEKIA sekitar 200 meter dari Fakultas Kedokteran Unsoed dan 100 meter dari RS Margono, untuk itu dari 25 santri yang menetap, mayoritas santri yakni mahasiswa Fakultas Kedokteran Unsoed dan ada juga santri yang sudah bekerja sebagai apoteker, perawat, bahkan dokter. Sedangkan yang sudah lulus dari pondok ada 8 santri.

Ustadz Syahid Asgar,S.S., Al Hafidz (ust.Asgar) selaku Direktur (Mudirul Am) Pondok Pesantren (PP) Cendikia menyatakan akan berusaha semaksimal mungkin untuk memajukan Pondok Pesantren Cendikia menjadi Pondok Pesantren teladan, di antaranya pelajaran yang diajarkan untuk para santri meliputi Islamic Studies (aqidah, akhlaq, dan muamalah), ada juga lughoh (Bahasa Arab dan Bahasa Inggris), serta Tahfidzul Qur'an. Selanjutnya untuk santri yang akan mengajarkan ilmu yang sudah dia dapat di pesantren, misalnya.menjadi imam di masjid, maka para santri umumnya sudah membekali dirinya dengan menghafal Al-Qur'an ada yang sudah hafal 1 juz sampai ada juga yang sudah hafal 30 juz.

Bentuk pengabdian pada masyarakat yang di gelar santri-santri Pondok Pesantren Cendekia antara lain baksos seperti bedah rumah, pembagian sembako untuk terdampak ekonomi karena Covid-19, dan kerja bakti di lingkungan RT dan RW, setiap bulan santri Insya Allah pasti ikut, kata Ustad Asgar.

Dalam rangka menyambut Hari Santri Nasional 2020 berikut kesan dan pesan dari 2 santri PP CENDEKIA. Keduanya mahasiswa Fakultas Kedokteran Unsoed :

Rudi Margono mengatakan : "Hari santri bagi kami adalah sebagai bentuk penghargaan juga reminder bahwa kita dulu pernah mempunyai andil besar untuk bangsa ini, bersama para kyai, ustadz, dan santrinya. Kita turut memperjuangkan kemerdekaan melawan penjajah di Nusantara. Hari santri juga mengingatkan kita untuk selalu memperbaiki diri, lebih baik dari hari-hari sebelumnya, mempersiapkan generasi untuk menyongsong kebangkitan islam, mulai dari diri kita sendiri sekalipun dengan hal-hal yang paling kecil, merapikan tempat tidur, membersihkan pondok, selalu tersenyum pada orang lain misalnya. Kami di pondok selaku mahasiswa juga, mendapatkan hal-hal yang tidak didapatkan apabila kami tinggal di tempat lain. Selain kami harus ngaji, kami juga berusaha bangun tepat waktu, membersihkan pondok, yang menurut saya hal kecil ini mempunyai andil dalam pembentukan karakter kita dalam menjadikan mahasiswa yang seimbang antara urusan dunia dan akhirat. Semoga hari santri ini jadi momentum tidak hanya bagi santri tetapi seluruh warga Indonesia untuk selalu menjadikan hari harinya lebih baik, dan bermanfaat bagi sesama".

Hari Santri menurut Amar Bindillah akan menjadi pengingat bagi kita semua, bahwasannya santri adalah sosok penuntut dan pengembara ilmu, yang rela pergi jauh untuk mencari keberkahan dan ridho-Nya, dan sosok yang punya peran penting bagi bangsa ini, dulu, sekarang, maupun nanti ".

Diki/transakt.