Senin, 30 November 2020 | 11:53 WIB

Herry Nurhayat Akui Terima Uang RTH Sebesar 2 M Untuk Urus Perkara Bansos

foto

 

Herry Nurhayat Akui Terima Uang RTH Sebesar 2 M Untuk Urus Perkara Bansos.

Bandung – www.transaktual.com

Merasa Tidak sesuai dengan isi Surat Dakwaan Penuntut Umum KPK No. 40/TUT.01.04/24/ 06/2020 tanggal 04 Juni 2020 nama terdakwa Herry Nurhayat, Rp8.850.000.000,00 (delapan miliar delapan ratus lima puluh juta rupiah), terdakwa mengakui  hanya menerima uang  Rp2.550.000.000,00 (dua miliar lima ratus lima.puluh miliar rupiah) dari Kegiatan Proyek Pembebasan Tanah Untuk Sarana Ruang Terbuka Hijau (RTH).

“Demi Alloh, saya bersumpah, cuma segitu”.ujar Herry Nurhayat di pengadilan negeri Bandung pada sidang lanjutan kasus RTH Kota Bandung.

Hal tersebut diungkapkan Herry Nurhayat dalam keterangannya di hadapan Majelis Hakim Tipikor Bandung hari ini (30/9/2020). Pada sidang dengan agenda pemeriksaan saksi mahkota sekaligus pemeriksaan para terdakwa korupsi Kegiatan Pengadaan Tanah Untuk Sarana RTH tahun 2011-2013 tersebut, Herry Nurhayat yang diposisikan sebagai saksi terhadap terdakwa Tomtom Dabbul Qomar dan Kadar Slamet tersebut, mantan Kepala DPKAD Kota Bandung itu mengungkapkan bahwa semua uang yang didapatnya adalah untuk mengurus perkara Bansos di Pengadilan Tinggi Bandung.

Setelah duduk sebagai Kepala DPKAD dan belum mengerti tentang kegiatan RTH, dirinya didatangi oleh Anggota DPRD Kota Bandung Kadar Slamet yang mengatakan membawa aspirasi dan titipan dari Dewan dalam hal ini Banggar. Namun  pemahaman Herry Nurhayat itu semua aspirasi dan titipan Dewan, termasuk pimpinan dan para Wakil Ketua DPRD Kota Bandung, apabila ada pencairan RTH. Lalu dikonfirmasi kepada Sekda yang merangkap Ketua Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) Kota Bandung, Edi Siswadi. Oleh Sekda dijawab, "iya."

Setelah mulai mengerti tentang RTH, pada 1 Oktober 2012, Kadar Slamet mendatangi Herry Nurhayat di ruangnya untuk meminjam uang Rp 1 miliar untuk uang muka pembebasan tanah (tidak tahu tanah yang mana) Herry lalu menghubungi Pemborong bernama Kiki untuk meminjam. Kemudian Herry menyampaikan kepada Kadar Slamet boleh pinjam tapi minta bunga nya Rp 250 juta. Kadar Slamet setuju dan uang diterimanya dan lalu dikembalikan oleh Dedi Setiadi alias Dedi RT (alm). Dalam hal ini Herry menerima Rp 50 juta. Urusan RTH, Herry mengaku ada beberapa kali bertemu dengan Kadar Slamet.

Tentang proses pembebasan tanah untuk RTH, Herry Nurhayat tidak mengetahuinya. Itu semua diurus oleh Hermawan dan Agus Slamet Firdaus yang sudah berpuluh tahun menguasai urusan tersebut. Herry Nurhayat hanya dilapori secara global, tidak pernah ada rincian. Mereka langsung melaporkan segala sesuatunya ke Sekda, Edi Siswadi. Dirinya hanya menandatangani semua surat yang disodorkan oleh keduanya.

Mengenai terlibatnya Herry Nurhayat memberikan modal kepada Mariady Saputra dalam pembebasan tanah untuk RTH jumlahnya Rp 900 juta dan mendapat keuntungan Rp 100 juta, jadi diterima satu miliar. Untuk proses pembebasannya tanah di Cibiru Herry mengatakan, hanya mengenalkan Mariady Saputra bersama Dedi RT, karena Dedi lebih mengerti. Harganya ditentukan sesuai NJOP dan tidak mengarahkan untuk membeli di bawah NJOP dan dibayar senilai NJOP plus 75%.

Herry Nurhayat mengaku menerima uang dari Kadar Slamet sebesar Rp 1 miliar melalui Pupung Khadijah yang diambilnya di Bank Bjb. Uang tersebut untuk diserahkan kepada Wali Kota Bandung, Dada Rosada. "Uang dari RTH. Mungkin sudah bagiannya Pak Dada," ujar Herry. Diakui olehnya, menerima uang dari Dedi RT sebesar Rp 75 juta. 

Penerimaan lainnya adalah dari Dadang Suganda alias Demang. Pengusaha dan tuan tanah itu dikenalnya saat akan ada pencairan. Ketika itu juga, Herry menceritakan ada beban untuk perkara Bansos. Sesudah pencairan, Herry mengaku menerima Rp 250 juta, lalu dimasukkan ke dalam mobil di Jalan Trunojoyo Kota Bandung.

Ada lagi uang diterima Herry Nurhayat dari Demang pada Desember 2012. Sebelumnya Herry telepon ke Demang karena membutuhkan uang Rp 2 miliar segera untuk keperluan di Pengadilan Tinggi Bandung atas perintah Dada Rosada. "Apakah itu pinjam atau apa, Pak Dadang bantu saya," kata Herry sambil terisak. Uang diterima dalam bentuk cek lalu dititipkan ke adik iparnya. Jadi total yang diterima Rp 2,550 miliar. Adapun tuduhan menerima uang Rp 2,5 miliar dari Kadar Slamet melalui Trisno, "itu ngarang, cuma Rp 1,250 miliar waktu  pengembalian pinjaman Kadar Slamet," bantah Herry.

Sesuai dengan data persidangan bahwa Herry Nurhayat, menitipkan dana sebesar dua milyar kepada Aat Safaat (mantan anggota Dewan Kota Bandung..red), dan oleh Aat dana sebagian besar sudah dikembalikan pada Herry Nurhayat, tetapi selanjutnya menurut Aat di persidangan bahwa ada dana dari Herry Nurhayat sebesar 250 juta, diserahkan kepada Dedi Supandi (koordinator camat...red, Kadisdik Jabar, PJS Walikota Depok...red), tetapi ketika Dedi dipanggil sebagai Saksi dipersidangan membantah hal tersebut.

Menurut Aat bahwa dana sebesar 250 juta yang diserahkan kepada Dedi Supandi, atas spengetahuan Harry Nurhayat adalah untuk pengurusan kasus Dana Hibah Bansos, dan dedi Supandi disuruh melaksanakan pengumpulan dana kepada setiap Camat di Kota Bandung, dengan total 2 Milyar, tetapi Dedi tidak menyanggupinya dan menghindar ketemu dengan Herry Nurhayat.

 

(Y CHS/transakt).