Minggu, 25 Oktober 2020 | 11:46 WIB

LPPM Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto bekerja sama dengan BI Gelar 2 Workshop

foto

 

LPPM Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto bekerja sama dengan Bank Indonesia menggelar 2 (dua) workshop berkaitan dengan jaminan halal.

Banyumas-www.transaktual.com

Halal Center, Puslit Pangan Gizi dan Kesehatan, LPPM Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto bekerja sama dengan Bank Indonesia menggelar 2 (dua) workshop berkaitan dengan jaminan halal. Workshop Pertama dengan tema “Halal Sebagai Kesalehan dan Peran Halal Center untuk Akselerasi Halal” digelar pada hari Sabtu, 03 Oktober 2020. Sedangkan Workshop Kedua dengan tema “Akselerasi Halal bagi UMKM” dilaksanakan pada hari Sabtu 17 Oktober 2020, ungkap Tim Promosi Unsoed Ir.Alief Einstein,M.Hum.

Ketua Panitia Workshop Lis Safitri,MPd. memaparkan bahwa kesadaran mengkonsumsi pangan halal telah meningkat dalam beberapa tahun ini. Peningkatan tersebut tidak hanya terjadi di kalangan Muslim, melainkan di kalangan non-Muslim juga, dengan motif menjadikan makanan halal sebagai salah satu alternatif food safety. Di Indonesia, kesadaran halal tidak hanya berlaku pada pangan, tetapi menyentuh hal-hal di luar pangan, termasuk kosmetik dan produk pakaian. Meskipun kesadaran tersebut bersifat semu, karena pada dasarnya masyarakat relatif mudah memilah produk non-halal berdasarkan informasi yang didapat, ketimbang memilah makanan halal dengan melihat label halal atau komposisi.

Di sisi lain, industri halal menjadi tren bagi Muslim menengah. Hal ini kerap menjadi pangsa pasar yang tidak dapat diabaikan oleh pelaku industri yang menjadikan label halal untuk menarik minat konsumen. Komodifikasi agama semacam ini bisa dengan mudah kita temukan di berbagai aspek kebutuhan manusia, bukan hanya pada pangan tetapi juga sandang dan papan.

A. Tujuan
Anggota Tim Halal Center Unsoed Lis Safitri,M.Pd. menjelaskan bahwa workshop ini dilaksanakan dengan tujuan untuk:
1. Meningkatkan kesadaran untuk mengkonsumsi pangan halal bagi masyarakat Muslim
2. Kesadaran untuk memproduksi pangan halal bagi pelaku UMKM
3. Kesadaran UMKM untuk memperoleh jaminan halal

B. Workshop Pertama
1. Peserta Workshop Pertama :
Dosen PAI Fakultas Peternakan Unsoed Lis Safitri,M.Pd. mengatakan bahwa pada workshop pertama Sabtu 03102020 telah hadir 250 peserta dari seluruh wilayah Indonesia yang terdiri dari akademisi, pelaku usaha, MUI, mahasiswa, dan masyarakat umum.
2. Narasumber dan Ringkasan Materi :
Lis Safitri,M.Pd. yang juga moderator workshop pertama, menjelaskan ada 3 narasumber berikut ringkasan materi dari masing-masing narasumber pada workshop pertama :

a. Prof. Dr. Abdul Mustaqim, M.Ag. (guru besar Ilmu al-Quran UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta) dengan topik “Halal antara kesalehan dan komodifikasi Agama”

Ringkasan Materi :
Mengkonsumsi pangan halal merupakan ajaran agama yang bukan hanya diserukan bagi orang yang beriman tetapi bagi seluruh umat manusia. Selain memenuhi tujuan agama (maqashid syariat) berupa hifz nafs (menjaga diri) mengkonsumsi pangan halal juga dapat memberikan ketenangan spiritual, psikologis, dan jasmani. Setidaknya ada 3 aspek kehalalan yang harus dipenuhi, yaitu halal dari segi dzatnya, halal dari cara mendapatkannya, serta halal dari segi pengolahannya.

Kehalalan merupakan kesalehan agama tetapi bisa menjadi komodifikasi agama juga. Terkait dengan sertifikasi halal memang diperbolehkan lembaga pemberi sertifikat menarik biaya selama 1) adanya rasionalitas biaya yang ditarik, 2) jumlah yang wajar, 3) akuntabilitas dalam pelaporan biaya tersebut. Jaminan Halal akan menjadi komodifikasi agama apabila tidak memenuhi ketiga hal tersebut. Selama ini MUI dinilai tidak transparan dalam pelaporan biaya sertifikasi halal. Ini yang menjadi kritik bagi MUI.

b. Assoc. Prof. Zulfan Tadjoeddin, Ph.D. (Muslim di Australia, Dosen Western Sydney University) dengan topik “Pengalaman Akses Halal di Indonesia dan Australia”

Ringkasan Materi :
Sebagai seorang Muslim yang hidup di Australia tidak pernah kesulitan mengakses pangan halal. Pangan halal dapat ditemukan di restoran India atau Turki. Selain itu, banyak juga makanan yang telah bersertifikasi halal. Di Australia konsep halal adalah konsep yang sesuai dengan yang dinyatakan agama. Berbeda dengan di Indonesia, belakangan makna halal menjadi meluas dan mengomersialisasi agama. Contohnya adalah kerudung, pakaian, dan kulkas berlogo halal. Zulfan memandang skeptis terhadap fenomena tersebut, baginya hal itu tidak lebih dari usaha produsen untuk menggaet pangsa pasar karena dapat menjual produk “halal”. Kritik tersebut ditujukan bagi masyarakat yang hanya memandang halal dari segi dzat, sementara alfa dalam aspek tata cara mendapatkannya. Bagaimana kalau saya membeli kulkas halal dengan uang hasil penipuan?.

c. Prof. Dr.Rifda Naufalin,M.Si (Ketua LPPM Unsoed) dengan topik “Peran Halal Center LPPM Unsoed untuk Akselerasi halal”.

Ringkasan Materi :
Halal Center, Puslit Pangan Gizi dan Kesehatan, LPPM Unsoed memiliki program untuk pelatihan sistem jaminan halal khususnya bagi UMKM. Saat ini sertifikat halal tidak lagi dikeluarkan oleh MUI, melainkan oleh BPJPH Kemenag RI. Meski demikian, pada pelaksanaannya tetap melibatkan MUI sebagai lembaga pemeriksa serta komisi fatwa yang akan menentukan.kehalalan atau ketidakhalalan produk yang didaftarkan.

C. Workshop Kedua
*"Akselerasi Halal bagi UMKM"

Narasumber 1 : M. Lutfi Hamid, Sekretaris BPJPH
"Upaya pemerintah dalam akselerasi sertifikasi halal UMKM"

Narasumber 2: Diana Yumanita Deputi Direktur Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia
"Peran BI dalam mendorong industri halal di Indonesia"

Narasumber 3 : Adhi S Lukman, Ketua GAPMMI
"Prospek dan tantangan industri halal dalam pengembangan UMKM"

Moderator: Hety Handayani H
Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed)

Diki/transakt.