Kamis, 22 Oktober 2020 | 13:26 WIB

Menurut Hakim, Kadar Slamet Pembohong Ulung, Pada Sidang Kasus RTH Kota Bandung

foto

 

Menurut Hakim, Kadar Slamet Pembohong Ulung, Pada Sidang Kasus RTH Kota Bandung.

www.transaktual.com

Ternyata Kadar Slamet yang selama ini, berbicara santun, kadangkala memjawab dengan suara perlahan, terbongkar sudah, didalam persidangan yang memakan waktu panjang dan sampai tengah malam, Hakim menilai, Meski tidak ada namanya dalam berkas  pencairan sebagai pihak pemilik tanah/Kuasa Jual,  "Setiap (mau) pencairan, saya ditelepon dan ketemu dengan Pak Herry (Nurhayat)," terang Kadar Slamet. Hakim sebut bahwa  Kadar Slamet pembohong ulung.

Ucapan tersebut dikemukakan Kadar Slamet (59) dalam sidang lanjutan perkara korupsi Pengadaan Tanah Untuk Sarana Ruang Terbuka Hijau (RTH) hari ini (07/10/2020). Kadar yang tampil sebagai saksi terhadap Herry Nurhayat mengatakan bahwa, keterangan-keterangan sudah disampaikan dalam BAP, dan tetap pada keterangan, "apa yang saya sampaikan secara hukum, saya bertanggungjawab," tegasnya.

Dipaparkan oleh mantan Anggota DPRD Kota Bandung dari Partai Demokrat itu, bahwa dirinya ketemu pertama dengan Herry Nurhayat (sesudah jadi Kepala Dinas Pengelolaan Aset Daerah/DPKAD Kota Bandung) saat bareng mau sholat ke Masjid di Pemkot Bandung. Saat itu yang dibicarakan keinginan/penjajakan untuk ikut pembebasan tanah untuk RTH. Pertemuan kedua adalah di kantor DPKAD. Waktu itu (lupa tanggalnya), menyampaikan akan ada pencairan uang RTH dan yang ketiga, setiap mau pencairan, ditelepon oleh Herry Nurhayat. "Pak Herry yang telepon saya," kata Kadar. "Tolong datang," ucapnya menirukan isi telepon dari Herry Nurhayat. Adapun kepentingan Kadar Slamet  menemui Herry Nurhayat adalah untuk membuat komitmen. Diakuinya Kadar bahwa saat bertemu, tidak ada nego (negosiasi).

Pada saat Herry ikut menjadi pemodal awal pembebasan tanah untuk Sarana RTH, Herry menyerahkan uang Rp 750 juta kepada Kadar Slamet (sebagai pinjaman) yang diterima Dedi Setiadi, dan dikembalikan Rp 1,7 m. Demikian juga dengan pencairan-pencairan lainnya dari pembebasan di Mandalajati tahap I dan II, Cibiru I dan II, Herry selalu mendapat bagian. Semua pemberian dari Kadar ke Herry disesuaikan (tercantum dalam BAP Kadar Slamet).

Dikatakan Kadar bahwa uang disampaikan melalui orang kepercayaannya yaitu Dedi Setiadi (Dedi RT), Dodo atau Ucok dan tidak ada komplain dari Herry, artinya semua uang sampai ditangan Herry termasuk yang diterima Pupung di Bank Bjb.

Siapa Dedi Setiadi, pasti semua kenal dengan Dedi RT. "Dia sebagai Sekpri, dikatakan  kerja di saya boleh, dikenal di Pemkot sudara saya," bebernya. n-keterangan yang disampaikan oleh Kadar Slamet dikatakan semua bohong oleh Herry Nurhayat. Masalahnya Kadar Slamet itu sudah berpengalaman dengan tahun kemarinnya (2011) sebelum Herry menjabat Kepala DPKAD Kota Bandung. "Yang datang itu orang-orangnya Pak Kadar," sebut Herry. Bahkan Anggota Majelis Hakim, Femina, SH., MH mengatakan Kadar Slamet "pembohong ulung." Hakim Femina mengingatkan, "Secara moral punya konsekwensi dihadapan Allah, karena sudah disumpah. Disini saudara-saudara bisa berbohong, itu berdosa sekali. Menyangkal boleh, tapi ingat konsekuensinya. Dalam perkara ini tidak cukup keterangan dari saudara saja, tapi ada keterangan yang lain yang akan dipertimbangkankan," tegas Hakim Femina.

 

(Y CHS/transakt).