Sabtu, 21 Sepember 2019 | 22:28 WIB

Instalasi Pengolahan Air Minum Cikalong Diharapkan Rampung Tahun Ini

foto

 

Instalasi Pengolahan Air Minum Cikalong Diharapkan Rampung Tahun Ini.

www.transaktual.com

Sejumlah anggota DPRD Kota Bandung dari Komisi A, B, C dan D, melakukan rapat kerja dan kunjungan lapangan ke kantor PDAM Tirtawening Kota Bandung, Jalan Badaksinga, Selasa, 21 Mei 2019. Salah satu masalah yang jadi sorotan yakni pembangunan Instalasi Pengolahan Air Minum (IPAM) Cikalong yang kini terhenti.

DPRD Kota Bandung berharap PDAM Tirtawening bisa menyelesaikan pembangunan tahun ini. Dalam upaya melanjutkan sisa pekerjaan, PDAM Tirtawening dan kontraktor disarankan pun lebih teliti soal menghitung Rencana Anggaran Biaya (RAB) sehingga pekerjaan rampung bisa tepat waktu.

“Tadi kata direksi sendiri harusnya enam bulan (selesai). Setelah (proyek kembali dilanjutkan) ini harus selesai. Kalau wajar memang bisa ditolerir, insyaallah akan coba menyelesaikan tahun ini agar enggak jadi mangkrak,” ujar Ketua Komisi B DPRD Kota Bandung, Nenden Sukaesih.

Seperti diberitakan sebelumnya, proyek IPAM dalam Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Cikalong harus terhenti dan menyisakan 23% pekerjaan akibat pihak kontraktor yang tidak mampu menyelesaikan pekerjaan. PDAM Tirtawening Kota Bandung memasukkan nama kontraktor pemenang lelang PT Karaga Indonusa Pratama (KIP) ke dalam daftar hitam perusahaan.

Sampai saat ini progress pengerjaannya baru 77%. Ternyata sampai waktu ditetapkan pihak ketiga tidak bisa memenuhi kewajibannya. Proyek IPAM Cikalong senilai Rp 63 miliar dijadwalkan selesai selama satu tahun sejak Januari 2018 hingga Januari 2019.

Nenden mengatakan, Komisi B akan mendalami permasalahan terkait terhentinya pembangunan tersebut. Saat ini tengah dicari kontraktor lain untuk meneruskan pekerjaan yang masih tersisa.

Apakah memang ada kesalahan RAB sehingga terjadi (pembangunan terhenti) yang seharusnya tidak terjadi? Kita belum selidiki apa kekurangannya,” ujar Nenden.

PDAM Tirtawening pun sudah memanggil konsultan untuk melakukan pemeriksaan proyek yang telah dilakukan. DPRD Kota Bandung juga meminta PDAM Tirtawening mencermati perusahaan yang akan mengikuti lelang pekerjaan lanjutan.

Kita juga kan hanya melihat secara global, kalau detailnya ada yang lebih mengerti masalah pembangunan ini, harus diawasi oleh pengawas yang lebih kompeten disitu,” ujarnya.

Direktur Utama PDAM Tirtawening Kota Bandung Sonny Salimi mengaku mengundang DPRD Kota Bandung sebagai pertanggungjawaban moral PDAM. Sudah seharusnya PDAM melaporkan kucuran dana yang tidak sedikit dalam penyertaan modal untuk digunakan pembangunan itu.

“Penyertaan modal yang dikucurkan telah dilaksanakan untuk pembangunan SPAM Gedebage. Kita juga sampaikan kendala teknis dan nonteknis sehingga bukan hanya dukungan finansial tetapi secara sosial kepada masyarakat juga bisa dipublikasikan, sehingga semua bisa berjalan maksimal,” katanya.

Pelaksanaan pekerjaan itu, kata Sonny, ditempuh dengan tahapan yang transparan. Begitu juga dengan pelaksanaan lelang IPAM Cikalong yang telah dijalankan sesuai prosedur dan pelaksaannya melalui lelang terbuka oleh ULP (Unit Layanan Pengadaan).

“Kami begitu transparan dari awal kami sampaikan rencana kerja. Setiap tahun kami pun selalu melaporkan (hasil kerja). Dewan pahami itu, kami selalu terbuka,” ujarnya.

Kebutuhan air Bandung Timur.

Rencananya, IPAM Cikalong merupakan salah satu sumber untuk memenuhi kebutuhan air di wilayah timur Kota Bandung. Seharusnya proyek untuk mengairi 50.000 rumah di wilayah Gedebage itu tinggal menjalani uji coba pengolahan.

Sonny mengatakan, 77% pekerjaan yang sudah dibangun oleh pihak ketiga adalah instalasi bak prasedimentasi, pipa transmisi yang sudah tersambung ke inti instalasi, dan sebagian instalasi pengolahan air.

Sedangkan yang belum selesai yaitu instalasi pengolahan air dan gedung kantor. Dengan pekerjaan yang tidak sesuai perjanjian, PDAM Tirtawening hanya membayar 65% dari nilai proyek sebesar Rp 63 miliar kepada pihak ketiga yang mengerjakan proyek itu. 

“Yang dibayar baru dua termin. Penyelesaian termin terakhir kita akan melibatkan BPKP untuk mengevaluasi hasil pekerjaan yang telah dilakukan,” tuturnya.

Sonny menargetkan, IPAM Cikalong yang mampu mengolah 700 liter air per detik ini selesai pada tahun 2019. Oleh karena itu, PDAM Tirtawening akan kembali membuka lelang untuk proyek lanjutan pembangunan IPAM Cikalong. Rencananya, lelang akan dibuka setelah Lebaran atau pada Juni 2019.

“Kalau pekerjaan berhenti dari Maret sampai sekarang. Kita akan kembali mulai lelang pekerjaan. Saya berharap masih bisa selesai tahun ini. Kita sedang persiapan lelang satu bulan ke depan. Saya berharap bisa dilakukan setelah Lebaran,” katanya.

Sonny mengatakan, sejak perencanaan seluruh prosedur sudah ditempuh. Bahkan, kata dia, di awal tender proyek yang hanya diminati dua perusahaan lalu proses diulang, pendaftar tidak beranjak dari dua kontraktor peminat.

Alhasil, PT Karaga Indonusa Pratama muncul sebagai pemenang lelang, meskipun pada akhirnya tidak dapat memenuhi kewajibannya sehingga diputus kontrak. Ia menjamin pada proses lelang berikutnya akan tetap sama mengikuti prosedur yang berlaku.

Semua sudah berjalan sesuai prosedur. Proyek pembangunan IPAM Cikalong sudah melalui tender terbuka oleh ULP. Sejak kita mulai perencanaan sudah melibatkan TP4D Kejaksaan Tinggi. Kita juga meng-hire (menyewa) ahli lelang LKPP,” ujar Sonny.

Akibat terhentinya pekerjaan itu, PDAM Tirtawening mengalami kerugian waktu. Jika waktu sesuai target, seharusnya uji coba instalasi pengolahan sudah bisa dilakukan.

Makanya terhentinya proyek ini bukan karena ada pungli atau apapun, karena prosedur sudah semua ditempuh. Ini cuma masalah penyelesaian tidak tepat waktu. Demi hadirnya jaringan PDAM yang lebih luas, saya tidak mau main-main untuk pekerjaan ini,” tuturnya.

(pr/transact)