Minggu, 25 Oktober 2020 | 12:47 WIB

Penasihat Hukum Sebut Dokter Helmy Alami Gangguan Jiwa

foto

 

Sidang pembunuhan dokter Lety, JPU tolak keberatan kuasa hukum Helmy, Penggilingan, Jakarta Timur, Kamis (12/4/2018).

JAKARTA – www.transaktual.com

Dokter Ryan Helmy, yang didakwa telah menembak mati istrinya yaitu dokter Lety, disebut kuasa hukumnya sempat depresi dan tidak ingin mendajukan eksepsi. Helmy disebut mengalami gangguan jiwa dan ingin mati saja.

Hal itu dikemukakan Eko Novriansyah Putra, salah satu anggota tim penasihat hukum Helmy, kepada wartawan di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Timur, Kamis (12/4/2018).

"Kondisi dia (Helmy) memang tidak stabil, kalau lagi depresi dan obsesinya datang, dia rentan," kata Eko.

Eko mencontohkan, selesai sidang pertama Helmy terguncang dan tidak mau mengajukan eksepsi terhadap dakwaan yang dilayangkan JPU.

"Ngga mau eksepsi dia, malah nggomong biar cepet saja, karena kalau sidang teringat almarhumah, mati ajalah ngga apa-apa," kata Eko mengulang perkataan Helmy.

 Helmy juga dua kali mencabut kuasa hukum untuk pendampingan proses pengadilan.

"Kuasa hukum kami sempat dicabut dua kali oleh dia," ujar Eko.

Soal penolakan jaksa atas eksepsi terdakwa, Eko mengatakan pihak tetap pada nota keberatan tersebut. Menurut dia, klienya memang mengalami gangguan jiwa.

"Memang fakta penembakan ada pelaku juga dia (Helmy) tapi di sini masalahnya bukan itu, kami tidak alibi bahwa dia tidak bisa bertanggung jawab karena faktor kejiwaan, kami hanya minta kenapa tidak memeriksa orang yang dianggap tahu tentang masalah Helmy," paparnya.

Menurut Eko, ada fakta dan bukti kliennya mengalami ganguan jiwa. Jauh sebelum peristiwa penembakan, kliennya sudah bertemu dengan saksi yang merupakan ahli kejiwaan. Terdakwa, konsultasi dan diberikan obat untuk menangani masalah kejiwaannya.

"Masalahnya kenapa saksi yang menyatakan Helmy bermasalah tidak dipanggil. Ini sama saja hak dari terdakwan diabaikan," ujar Eko.

Helmy menembak mati Lety, istrinya, di klinik Azzahra, Jalan Dewi Sartika, Jakarta Timur, pada 9 November 2017. Helmi kesal lantaran tidak ingin diceraikan Lety.