Jumat, 25 Sepember 2020 | 18:56 WIB

Ketua HP2B, Iwan Suhermawan “Kami Tunggu Apa Mau Mereka”

foto

 

Ketua HP2B, Iwan Suhermawan “Kami Tunggu Apa Mau Mereka”.

www.transaktual.com

Ketika Pengelola yang lama habis masanya (PT Atanaka Persada Permai....red), timbul gejolak dilingkungan Pemko Bandung,  Polemik mengenai pengelolaan Pasar Baru Bandung terjawab sudah. Pasar yang habis masa pengelolaannya oleh PT Atanaka Persada Permai (APP) pada 29 Desember 2018 itu akan diambil alih pemerintah.

"Dikembalikan dulu ke kita. Baru nanti pengelolaan oleh PD Pasar atau ditenderkan lagi, itu nanti tidak ada masalah," ujar Wali Kota Bandung Oded M Danial kepada wartawan, ketika itu  Rabu (5/12/2018).

Selanjutnya Pasar Baru dikelola PD Pasar (Bermartabat...red), sayang perjalanan pengelolaan Pasar Baru menjadi kurang maksimal, dan Menurut Ketua Himpunan Pedagang Pasar Baru (HP2B), Kang Iwan Sehermawan mengatakan bahwa sekarang Pasar Baru Bandung sudah di ambang Kehancuran Total, semua akibat ketidak becusan dan Kebrengsekan PD Pasar dalam mengelola.

“Ingat Musibah Pendemi Covid-19 jangan di jadikan Alasan karena sebelum Ada Musibah pun Pasar Baru Bandung sudah hancur-hancuran, Omongan dan janji Walikota dan Jajaran direksi PD Pasar dulu sudah sangat jelas, jejak digital memang kejam kita sekarang akan menagih dan meminta Tangung Jawab Hukum dan Moral dari Walikota dan Andri Salman, Lalu apakah kami akan membiarkan? Oh tidak semua akan kami minta pertangung jawaban” Ujar Iwan dengan wajah berang..

Pemkot Bandung Ambil Alih Pengelolaan Pasar Baru.

Ketika dulu, selesai pengelola lama dan diambil alih Pemkot Bandung, Oded berharap pengelolaan pasar yang menjadi salah satu tujuan wisata belanja bagi turis lokal dan mancanegara itu bisa lebih baik serta menguntungkan bagi pendapatan Pemkot Bandung.

Sementara itu PJ Dirut PD Pasar Bermartabat Kota Bandung Andri Salman sudah menyiapkan Rp 9 miliar untuk Pasar Baru. Uang tersebut nantinya akan digunakan sebagai asuransi, perbaikan elektrik hingga fisik yang tidak dilakukan oleh pengelola sebelumnya.

"Jadi alokasi yang Rp 9 miliar itu saya alokasikan untuk cadangan Pasar Baru, bisi ninggalkeun barang butuh. Sekarang kita genjot untuk memperbaiki detail plafon, surat menyurat, eskalator aya bohak minta diperbaiki dan lain-lain," katanya.

Menurut Andri, waktu itu, ada beberapa hal yang membuat alih kelola dilakukan. Di antaranya pengelola lama melanggar kesepakatan dengan menjual lorong tempat pameran menjadi toko. Padahal lorong tersebut adalah jalur evakuasi kebakaran.

"Itu harta karun Pemkot. Kalau pendapatan operasionalnya habis untuk bulanan gaji dan PD Pasar. Tapi untuk penjualan aset milik Pemkot dan itu transparan," ujar Andri.

Mantan Pejabat PD Pasar Kota Bandung Dihukum Penjara 3 Tahun, Divonis Bersalah Lakukan Korupsi.

Perjalanan panjang kembali muncul, tatkala PJ Dirut PD Pasar Kota Bandung, Andri Salman tersandung masalah dan divonis bersalah karena melakukan tindak pidana korupsi Pasal 8 Undang-undang Pemberantasan Korupsi. 

Vonis dari majelis hakim dibacakan pada sidang di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Kelas I A Khusus Bandung pada Senin (4/5/2020) beberapa bula lalu.

"Menjatuhkan pidana penjara selama tiga tahun dan denda Rp 150 juta subsidair 2 bulan penjara," bunyi amar putusan Majelis Hakim yang diketuai Daryanto, Selasa (5/5/2020).

Dalam kasus ini, Andri Salman bersalah menyalahgunakan deposito PD Pasar Bertabat tahun anggaran 2017. Vonis hakim lebih rendah dari tuntutan jaksa yang menuntu agar Andri Salman dituntut 4 tahun dan pidana denda Rp 150 juta. 

"Kami dari tim jaksa menyatakan pikir-pikir untuk banding atas putusan 3 tahun tersebut," ujar Kasi Pidsus Kejari Kota Bandung, Iwan Arto Kusumo, Selasa (5/5/2020).

Dalam dakwaan jaksa penuntut umum, kasus ini bermula saat Andri Salman meminta seluruh bilyet deposito senilai Rp 2,5 miliar kepada bendahara pengeluaran PD Pasar pada 2017. 

"Surat -surat berharga itu disimpan di brankas terdakwa dengan alasan untuk mempermudah pengelolaan‎," ujar jaksa penuntut umum Kejari Bandung, Gani Alamsyah di sidang dakwaan.

Kata jaksa, setelah surat berharga disimpan, Andri Salman kemudian muncul niat untuk berbisnis garam karena saat itu Kota Bandung sedang mengalami krisis garam. 

"Untuk bisnis garam itu, Andri Salman mengajak Jajang Hariadi selaku Direktur Fast Media Internusa untuk kerjasama pengadaan garam yang diberi nama Garam Juara, sebanyak 400 ton," katanya. 

Untuk bisnis garam seberat 400 ton itu, Andri menyerahkan uang Rp 1,1 M sebelum garam diterima di gudang yang disediakan terdakwa. Uang untuk bisnis garam itu, menggunakan surat berharga yang dikuasai terdakwa. 

"Surat bilyet deposito itu diserahkan ke BPR Harta Insan Karimah Parahyangan Bandung dan digunakan sebagai jaminan pembiayaan untuk pembayaran pembelian garam antara Andri Salman dengan PT Fast Media Internusa," ujarnya. 

Setelah menggadaikan surat deposito itu, BPR HIK Parahyangan B‎andung kemudian mencairkan dana pembiayaan pada PT Fast Media Internusa pada Bank Syariah Mandiri senilai Rp 2,4 M dalam dua tahap. Tahap pertama 26 April 2017 senilai Rp 1,4 M.

"Uang Rp 1,4 M itu digunakan untuk pembayaran pembelian garam seberat 400 ton senilai Rp 1,1 M. Sisanya Rp 300 juta, tetap berada di rekening Fast Media Internusa," katanya. 

Adapun pencairan tahap kedua senilai Rp 1 M pada 10 Mei 2017 ke rekening PT Fast Media Internusa. Meski ditransfer ke perusahaan itu, akun dan password dikuasai terdakwa. 

"Karena menguasai akun rekening dan password, Andri Salman menggunakan uang itu untuk dana talangan pengadaan kendaraan operasional direksi senilai Rp 300 juta. Lalu operasional direktur utama dan operasional PD Pasar Rp 250 juta."Sisanya Rp 750 juta untuk membayar utang PT Fast Media Internusa ke BPR HIK dan operasional gudang distribusi garam," katanya. 

Belakangan diketahui, rangkaian perbuatan Andri Salman itu bertentangan dengan Pasal 34 ayat 2 Perda Nomor 2 Tahun 20w2 tentang PD Pasar Bermartabat Kota Bandung. 

"Perbuatan terdakwa diatur di Pasal 8 Undang-undang Pemberantasan Tipikor. Ancaman minimal 3 tahun paling lama 15 tahun," ujar jaksa.

Pupus Sudah Harapan, Sudah Jatuh Tertimpa Tangga.

Punah sudah harapan untuk melangkah lebih maju, sementara para pedagang yang bedagang di Pasar Baru, mulai mengeluh dengan sangat berkurang para Pembeli yang datang, ditambah lagi kondisi Pandemi Virus, dan yang paling menjengkelkan Plt Direktur Utama PD Pasar yang mempermainkan Deposito untuk berdagang Garam Juara, tanpa diketahui Pengurus lainnya.

“Ini sudah seperti Jatuh tertimpa tangga, para Pedagang Sulit, apalagi mau diambil alih Pemkot Bandung, dalam kondisi yang porak poranda begini” Sambung Kang Iwan Suhermawan dengan wajah marah.

Keluhan Para Pedagang :

Gucci Laweh Gucaylaw, : Seharusnya apa yg di sampaikan 2 tahun yg lalu seharusnya bisa di pertanggung jawabkan..janji pengelolaan yg akan lebih baik dari pengelola lama mana ??? omong kosong semua ..kini pasar baru hancur semua ...kami pedagang pasar baru bersusah payah dengan proses yg panjang, membangun kepercayaan konsumen ...kini hancur semua akibat pengelolaan yg asal asalan ...

Dean Tea,: Ternyata walikota dan PD Pasar tidak peka atau tidak gaul terhadap eksistensi pasar baru yang menjadi salah satu target pendatang ke kota Bandung ini, apakah walikota sengaja atau tidak becus memilih orang untuk mengurus pasar pasar di kota Bandung.

“Kita tunggu saja apa maunya mereka (Pemkot Bandung....red), yang pasti kami beserta jajaran Pengurus Himpunan Pedagang Pasar Baru, dan Seluruh Anggota HP2B, tidak tinggal diam begitu saja, kami juga minta pertanggungjawaban PD Pasar,” Ujar Kang Iwan Suhermawan pada transaktual online.

(transaktual)