Selasa, 29 Sepember 2020 | 09:57 WIB

Satreskrim Polres Cimahi Sudah Memanggil Bendahara Umum KONI KBB, Diduga Dana Koni Jadi Bancakan

foto

www.transaktual.com

Anggaran Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Bandung Barat (KBB) sebesar Rp 10 miliar diduga menjadi bahan bancakan atau dijadikan ajang bagi-bagi kue. Anggaran yang bersumber dari dana hibah APBD KBB Tahun Anggaran 2020 itu diduga disalahgunakan dan saat ini tengah diselidiki Satreskrim Polres Cimahi.

Satreskrim Polres Cimahi bahkan sudah memanggil dan memeriksa Bendahara Umum KONI KBB, Ade Suratman. Polres Cimahi bahkan menyatakan tidak menutup kemungkinan akan memanggil pihak lain selain Bendahara Umum KONI KBB.

Permasalahan bermula saat pengurus cabor yang menuntut pencairan dana pembinaan atlet tahap kedua mengetahui bahwa kas atau anggaran KONI KBB sudah kosong. Padahal, dana pembinaan yang direalisasikan atau dicairkan baru sekitar Rp 3 miliar.

Artinya ada anggaran sebesar Rp 7 miliar yang belum jelas pertanggungjawabannya. Lalu ke mana sebenarnya anggaran sebesar Rp 7 miliar yang belum diterima pengurus cabor, para atlet dan pelatih tersebut?

Ada dokumen yang diduga merupakan catatan laporan keuangan Bendahara Umum KONI KBB. Dalam laporan tersebut diketahui terdapat beberapa laporan pengeluaran yang tidak biasa alias tidak lazim. Bahkan jika dicermati lebih jauh, dokumen tersebut isinya “sangat mencengangkan”.

Catatan laporan keuangan penggunaan dana KONI KBB (foto:istimewa)

Catatan laporan keuangan kas KONI KBB yang diduga disampaikan oleh Bendahara Umum KONI KBB tersebut pada bagian awal memuat jumlah dana hibah yang diterima KONI KBB dari Pemkab Bandung Barat yaitu sebesar Rp 10 miliar.

Kemudian pada poin kedua, laporan keuangan itu menyebutkan bahwa Bendahara KONI KBB mengeluarkan anggaran untuk pembayaran pembinaan prestasi (Binpres) cabor dan insentif khusus atlet Tahap 1 sebanyak dua kali yakni masing-masing sebesar Rp 825 juta dan Rp 970 juta.

Selain itu, Bendahara KONI KBB juga mencairkan anggaran sebesar Rp 1,2 miliar untuk dana operasional KONI dan cabor. Hanya saja, ketiga mata anggaran pengeluaran itu tidak dijelaskan kapan waktu pencairannya dan siapa atau pihak mana yang menerima anggaran tersebut.

Jika ketiga pengeluaran ini dijumlahkan, maka Bendahara KONI KBB telah mengeluarkan anggaran sebesar hampir Rp 2,995 miliar. Lalu bagaimana dengan sisa anggarannya yang mencapai Rp 7 miliar lebih? Hal ini yang justru lebih mencengangkan dalam pelaporannya dan bisa membuat geleng-geleng kepala siapa yang membacanya.

Laporan penggunaan keuangan tersebut memuat penggunaan dana KONI KBB yang tampak secara kasat mata menjelaskan bahwa anggaran dicairkan oleh beberapa pihak yang bukan kapasitas dan tupoksinya. Seolah anggaran yang bersumber dari duit rakyat itu menjadi ajang bancakan dan bagi-bagi kue.

Dalam laporan keuangan tersebut, sisa kas anggaran KONI dijelaskan lebih rinci. Laporan sisa kas menjelaskan mengenai besaran anggaran yang dicairkan dan siapa yang menerima anggaran tersebut. Namun sebagian tidak dijelaskan untuk kepentingan apa anggaran tersebut dicairkan.

Salah satu yang layak menjadi sorotan dalam laporan pengeluaran tersebut yaitu adanya pengambilan dana tunai oleh Ketua Umum KONI KBB, Rian Firmansyah. Namun, tidak dijelaskan untuk kepentingan apa Ketum KONI KBB mengambil anggaran KONI KBB tersebut.

Laporan keuangan tersebut menyebutkan bahwa Ketua KONI KBB Rian Firmansyah melakukan pengambilan dana KONI KBB sebanyak tiga kali dalam bentuk uang tunai dan sekali melalui cek tunai. Dana yang dicairkan putra Bupati KBB Aa Umbara itu pun tidak main-main jumlahnya.

Rian pertama kali diketahui melakukan pencairan atau mengambil dana tunai sebesar Rp 600 juta dari Bendahara. Kemudian, Ketua KONI KBB kembali mengambil dana tunai sebesar Rp 900 juta. Untuk ketiga kalinya, Rian yang juga anggota DPR RI kembali mengambil dana tunai sebesar Rp 1 miliar dari Bendahara Umum KONI.

“Diambil oleh Ketum sebesar Rp 1 miliar tunai,” sebut laporan keuangan tersebut. Selanjutnya, laporan keuangan tersebut juga menyebut bahwa Ketua Umum KONI KBB juga kembali melakukan pengambilan uang dari Bendahara. Kali ini, putra sulung orang nomor satu di KBB itu mengambil uang dalam bentuk cek tunai. Tidak dijelaskan kapan Rian mencairkan dana tersebut.

Selain putra Bupati, laporan tersebut juga menyebutkan pihak lain yang mengambil anggaran KONI KBB. Salah satunya adalah adik Bupati KBB, Usep Sukarna. Laporan itu menyebut bahwa Usep mengambil uang sebesar Rp 1,5 miliar untuk membayar PT IJI terkait Porkab KBB 2020.

Kemudian laporan keuangan tersebut juga menyebut bahwa Usep kembali mengambil dana KONI KBB sebesar Rp 700 juta. Namun peruntukannya agak janggal, yakni tertulis untuk bantuan Covid-19. Tidak dijelaskan secara rinci, apa maksud untuk Covid-19 tersebut.

Selain Rian dan Usep, pihak lain yang tertulis ikut mencairkan dan mengambil dana KONI KBB adalah Sekretaris Umum KONI KBB, Lili Supriatna. Lili disebut mengambil anggaran sebesar Rp 1,5 miliar dalam bentuk cek tunai.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa uang yang diambil Sekretaris KONI KBB tersebut digunakan untuk pembayaran dana talangan pinjaman Porda Bogor 2018. Disebutkan, anggaran yang dicairkan Lili tersebut kemudian dibayarkan kepada seseorang bernama Fajar sebesar Rp 820 juta.

“Sedangkan sisanya belum ada konfirmasi dari Sekum ke Bendahara,” tulis laporan tersebut.

Ketua KONI KBB, Rian Firmansyah (tengah) berfoto bersama Pengurus KONI Kabupaten Bandung Barat (KBB) periode 2019-2023 (foto:istimewa)

Selain pengambilan uang secara tunai maupun cek oleh beberapa orang di atas, Bendahara KONI KBB juga menyebut bahwa terdapat pembayaran piutang kegiatan 2018 kepada seseorang bernama Ani sebesar Rp 700 juta. Selain itu, ada pembayaran piutang 2018 kepada Dadan sebesar Rp 650 juta.

Belum diketahui piutang apa yang dimiliki KONI KBB pada tahun 2018. Namun diduga terkait kegiatan Porda Bogor 2018.

Selain itu, masih ada laporan keuangan yang juga agak janggal. Pertama yaitu pembayaran ke Komite Sekolah sebesar Rp 200 juta. Lalu Wakil Bendahara KONI KBB Enjang menerima anggaran sebesar Rp 300 juta plus 25 juta.

Kemudian, Bendahara Umum KONI KBB Ade juga menerima dana sebesar Rp 100 juta plus Rp 75 juta. Namun tidak dijelaskan untuk kepentingan apa Bendahara dan Wakil Bendahara menerima uang tersebut.

BandungKita.id sudah berusaha menghubungi Bendahara Umum KONI KBB, Ade Suratman untuk mengkonfirmasi laporan keuangan yang memuat rincian penggunaan anggaran KONI KBB tersebut. Namun Ade tidak mengangkat telepon BandungKita.id meski sebelumnya BandungKita.id sudah mengirim pesan singkat terlebih dahulu.

Upaya konfirmasi melalui pesan WhatsApp pun tidak ditanggapi oleh Ade. Ade sama sekali tidak membalas apalagi merespon pesan WhatsApp yang dikirim BandungKita.id meski WhatsApp-nya dalam keadaan online.

(Bandung kita/transaktual)