Senin, 28 Sepember 2020 | 09:37 WIB

Lanjutan Kasus Investasi Bodong Monang Saragih, Hakim Panggil Tiga Pelapor Terkait Surat Perdamaian

foto

 

Lanjutan Kasus Penipuan Investasi Monang Saragih, Hakim Panggil Tiga Pelapor Terkait Surat Perdamaian.

www.transaktual.com

Lanjutan Kasus penipuan berkedok investasi di Koperasi Jasa Hukum dengan terdakwa Monang Saragih kembali disidangkan di Pengadilan Negeri Bandung, Kamis, 5 Desember 2019.

Dalam sidang tersebut Monang menyampaikan nota pembelaan atas tuntutan jaksa yang dibacakan sendiri di depan persidangan.

Dalam sidang sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum Angga Insana Husri menuntut Monang Saragih dengan tuntutan 3 tahun dan 6 bulan penjara. Monang dinilai telah menggelar pasal 378 KUHP tentang penipuan.

Dalam persidangan, Kamis, 5 Desember 2019, seusai Monang Saragih membacakan pledoinya, hakim ketua Toga Napitupulu memanggil tiga kordinator pelapor yakni Erick, Jayusman dan Shinta.

Hakim saat itu memperlihatkan adanya perdamaian antara pelapor dan pihak terdakwa. Perdamaian tersebut dibuat setelah penyidik menetapkan tersangka terhadap Monang Saragih.

Usai sidang, Erick menuturkan kepada wartawan, pemanggilan kordinator terkait adanya surat perdamaian yang saat ini dipegang oleh majelis hakim.

"Hakim memperlihatkan surat pencabutan perkara dan perdamaian. Saat itu kami mengiyakannya karena kami melakukan perdamaian pada waktu penyidikan di Polda," ujarnya.

Erick menjelaskan, pihaknya melakukan perdamaian karena Monang Saragih saat itu sudah memberikan jaminan aset berupa sertifikat kepada kordinator pelapor.

Kasus Penipuan Investasi Monang Saragih, Hakim Panggil Tiga Pelapor Terkait Surat Perdamaian. "Sertifikat aset Monang Saragih diberikan setelah Monang ditahan," ujarnya. Erick juga mengaku ditanya hakim terkait aset tersebut untuk segera di jual, begitu juga jaksa meminta aset itu segera dijual untuk segera dibagikan.

"Saya jelaskan, bahwa aset tersebut belum ditawarkan untuk dijual karena perlu ada kepastian hukum terlebih dahulu apakah sertipikat itu benar benar bersih tidak bermasalah," katanya.

Dari itulah, Erick mengaku sudah berkonsultasi ke notaris hingga saat ini hak kuasa untuk mejual sudah ada di tangan kami. "Minggu depan juga akan segera kami tawarkan karena kami dan korban lainnya butuh uang," ujarnya.

Kalau aset itu dijual, cukuup untuk mengembalikan modal dan simpanan para korban.

Seperti diketahui sebelumnya Monang Saragih dituntut 3 tahun penjara karena terdakwa telah melakukan penipuan atas nama koperasi jasa hukum dengan jumlah korban sebanyak 152 orang.

Kopjaskum yang berlokasi di Suropati Core, Jalan Surapati, Kota Bandung, yang juga merupakan kantor radio Mora FM, dipimpin Monang Saragih.

Investasi yang ditarik dari para korban mulai dari Rp 15 juta sampai 60 juta. Dari investasi tersebut, terdakwa menjanjikan bagi hasil, misal untuk investasi 15 juta dijanjikan dalam jangka tiga tahun dapat 55 juta dengan diberikan per 6 bulan.

Akan tetapi pada kenyataannya, uang bagi hasil itu tidak juga diberikan. Bahkan, ketika ditagih beberapa kali, tetap saja tidak juga dikembalikan seperti yang dijanjikan.

Setelah ditelusuri, usaha kebun jabon dan kesemek pun tidak ada. Dalam melakukan akal bulusnya, terdakwa menyebarluaskan investasi tersebut melalui radio Mora FM milik Monang Saragih, dan juga menyebarkan brosur.

Karena itulah, para anggota koperasi Kopjaskum yang merasa tertipu melaporkan kasus tersebut ke Polda Jabar.

Pelaporan tersebut dikordinir oleh tiga orang yang juga menjadi korban, yakni Erik Victora, Jayusman, dan Sinta Sundayani Farida dengan total keseluruhan pelapor 152 orang.

(Yedi/transakt)