Sabtu, 21 Sepember 2019 | 22:11 WIB

Beberapa proyek Besar di Jawa Barat Terancam Gagal dan Mangkrak

foto

 

PENGEMBANGAN Situ Rawakalong tampaknya akan sulit tepat waktu.*/DOK. PR.

www.transaktual.com

Perencanaan yang kurang matang akan menyebabkan beberapa proyek terancam gagal. Setidaknya hal itu dapat terjadi terhadap Situ Rawakalong di Kota Depok dan Water Break di Kab. Pangandaran. 

Menurut Wakil Ketua Komisi IV DPRD Provinsi Jabar Daddy Rohanady, beberapa kendala penyelesaian proyek itu harus segera diselesaikan.

Dalam maketnya, di Situ Rawakalong akan dibuat jogging track, juga plaza. Sayangnya, kata Daddy, sejumlah masalah sudah kelihatan. Misalnya, kondisi eksisting situ yang penuh karamba dan wilayah yang kumuh. Padahal pekerjaan harus segera diselesaikan. 

"Itu semua menunjukkan perencanaan yang belum matang. Bahkan, hingga saat ini, lelang MK di ULP saja terancam gagal," katanya Kamis 23 Mei 2019.

Situ Rawakalong adalah salah satu situ di daerah Kota Depok yang oleh Gubernur Ridwan Kamil akan dikembangkan menjadi destinasi wisata di Jawa Barat. Sektor pariwisata sebagai salah satu sumber utama pendapatan asli daerah (PAD). Pada tahun 2019 ada sejumlah besar anggaran yang dialokasikan dari APBD Provinsi Jabar untuk membenahi situ tersebut. 

"Penanganannya terancam gagal. Bagaimana mungkin sukses kalau di lokasi yang sama sedang dilakukan pekerjaan pengerukan oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS)," ujar Daddy.

Dari kondisi yang ada, memang agak mustahil pengembangan Situ Rawakalong yang direncanakan menelan biaya Rp 30 miliar tersebut bisa terwujud tepat waktu.

"Sangat tidak mungkin dua pekerjaan dilakukan bersamaan di lokasi yang sama. Karena BBWS sedang melakukan pengerukan situ tersebut, padahal UPTD harus melakukan pembangunan di atasnya," ucapnya. Daddy mengatakan hal serupa terjadi di Kab. Pangandaran. Proyek Water Break tersebut, kata Daddy, direncanakan kurang matang.

Uji coba.

Proyek lainnya yang jadi sorotan adalah Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Lulut Nambo, Kabupaten Bogor. Pihaknya meminta diuji coba lebih dulu, sebelum diaktifkan pada 2020. TPPAS Lulut Nambo diperkirakan mampu menampung sekitar 1.600 ton sampah tiap harinya. Namun, hal itu perlu diperlihatkan lebih dulu.

"Oleh karena itu, kami mengharapkan adanya uji coba lebih dulu. Untuk melihat kemampuan TPPAS menampung sampah sebanyak itu," ujarnya.

Apalagi sampah ini akan diolah lebih lanjut menjadi energi baru. Daddy mengatakan uji coba dapat dilakukan satu sampai dua bulan sebelum resmi dioperasikan. "Dengan mencobanya selama satu dua bulan, kita bisa lihat seberapa efektif," katanya.

Daddy menyebutkan sampah, masih menjadi persoalan serius di tiap daerah. Ditambah lagi, tidak semua daerah memiliki tempat pembuangan akhir sampah. Sehingga sampah terus menumpuk. Kalau pun ada tempat pembuangan akhir, sampah belum sepenuhnya diolah. Daddy menyebutkan sulit menyelesaikan masalah sampah bila tidak memiliki teknologinya.

Akan tetapi, dikatakan Daddy, TPPAS Lulut Nambo telah menggunakan teknologi Mechanical Biological Treatment (MBT) yang mampu mengubah sampah menjadi refuse derived fuel (RDF) atau pengganti batu bara. Bahkan menurut Daddy, Lulut Nambo menjadi pengolahan sampah modern pertama di Indonesia. "Mungkin daerah lain bila melihat Lulut Nambo berhasil akan menirunya," kata dia.

Daddy mengatakan pemerintah provinsi Jawa Barat telah menjalin kerja sama dengan PT Jabar Bersih Lestari (PT JBL) sebagai pemenang lelang proyek pengolahan sampah regional. Nilai investasi proyek tersebut menembus 46 juta dolar AS atau sekitar Rp 600 miliar.

Pr/transact)