Senin, 25 Maret 2019 | 18:51 WIB

Kasus Meikarta, Nama James Riyadi Disebut Lagi, KPK Ajukan Banding Vonis Bos Meikarta

foto

 

Kasus Meikarta, Nama James Riyadi Disebut Lagi, KPK Ajukan Banding Vonis Bos Meikarta.

www.transaktual.com

Kembali Nama bos besar Lippo, James Riyadi, disebut dalam persidangan kasus suap Meikarta terhadap jajaran pejabat Pemerintah Kabupaten Bekasi. Persidangan itu tengah digelar di Pengadilan Negeri Bandung, Jalan LLRE Martadinata Kota Bandung, Rabu (13/3).

Nama James terdengar kala persidangan membahas soal kunjungan Toto Bartholomeus, Presiden Direktur Lippo Cikarang, mengunjungi rumah Bupati Bekasi Neneng Hassanah Yasin, pada Januari 2018. Toto tidak sendiri, melainkan bersama James dan Kepala Divisi Land Acquisition and Permit PT Lippo Cikarang, Edi Dwi Soesianto (Edi Soes).

Pertemuan itu diduga bermuatan rencana kerjasama jahat antara pengembang Meikarta dan Pemkab Bekasi.

Pada dakwaan JPU menyebutkan bahwa ;

1. Jaksa sebut Toto inisiator pertemuan tersebut.

Dalam dakwaan, Jaksa mengatakan bahwa Toto merupakan inisiator dari pertemuan itu. Sementara Edi diduga hanya dimintai tolong oleh Toto untuk menemaninya mengunjungi rumah dinas bupati.

Namun, Toto membantah telah menjadi inisiator dari pertemuan itu. Bahkan, ia menjelaskan hari itu tidak berencana untuk bertemu Neneng.

"Jadi waktu itu saya di akhir masa jabatan. Pak Edi Soes bilang, coba dong kenalan (dengan Bupati Neneng) apa salahnya. Saya bilang, kalau enggak perlu, buat apa? Disampaikan kebetulan ada event melahirkan, kalau tidak baru melahirkan ya mungkin tidak bertemu."

"Pak Edi kasih tahu ke saya kalau ibu melahirkan, ya sudah kita ketemu saja," ujar Toto, dalam persidangan sebagai saksi atas terdakwa para pejabat Bekasi, di PN Bandung, Jalan LLRE Martadinata, Kota Bandung, Rabu (13/3).

KPK Ajukan Banding Vonis Bos Meikarta, Keputusan itu Merespons Putusan Bos Meikarta.

Selasa (5/3) lalu, Hakim menjatuhkan vonis pada empat terdakwa kasus penyuapan Meikarta terhadap pejabat Pemerintah Kabupaten Bekasi. Dari keempat terdakwa, hanya satu yang mengajukan banding. Dia adalah Billy Sindoro, pimpinan Meikarta yang dinilai sebagai otak penyuapan dan divonis 3 tahun 6 bulan penjara dengan denda Rp100 juta subsider 2 bulan penjara.

Banding yang diajukan Billy tak membuat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) diam. Jaksa KPK, I Wayan Riyana, pada Selasa (12/3) resmi mengajukan banding untuk terdakwa Billy Sindoro.

1. KPK hanya banding terdakwa Billy.

Dari empat terdakwa, KPK hanya akan mengajukan banding untuk Billy Sindoro saja. Hal tersebut merupakan sikap KPK dalam merespons Billy yang juga mengajukan banding.

“Kalau mereka menerima, kami menerima (Tidak mengajukan banding) juga,” kata I Wayan, kepada awak pers di Pengadilan Negeri Bandung, Jalan LLRE Martadinata, Kota Bandung, Selasa (12/3).

2. Banding tidak menyasar lama hukuman Billy.

Sebenarnya, I Wayan tak keberatan dengan hukuman 3 tahun 6 bulan penjara plus denda Rp100 juta subside 2 bulan penjara. Soalnya, kata I Wayan, vonis tersebut sudah dua per tiga dari yang dituntut KPK. Sebelumnya, KPK menuntut Billy dengan hukuman 5 tahun penjara.

“Pertimbangannya kalau kami tidak banding, agar kami bisa melakukan kasasi jika putusannya tidak memuaskan JPU (Jaksa Penuntut Umum),” kata dia

3. Vonis Billy Paling berat.

Ucapan Billy Sindoro terbata-bata ketika menjawab pertanyaan IDN Times soal sikapnya yang tak mau mengakui perbuatan suap terhadap Bupati Bekasi, Neneng Hassanah dan kolega pejabat Pemkab Bekasi.

Bos Meikarta yang diduga menjadi otak teknis suap tersebut baru saja menerima vonis penjara 3 tahun 6 bulan dengan denda Rp100 juta subsider 2 bulan oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Bandung, Jalan LLRE Martadinata Kota Bandung, Selasa (5/3).

"Bukan soal mau mengakui atau tidak. Saya mengacu pada fakta persidangan saja," kata Billy, Selasa (5/3), sambil bergegas meninggalkan ruang sidang.

Dibanding tiga terdakwa lainnya, vonis untuk Billy menjadi yang paling berat. Terdakwa Konsultan Meikarta, Henry Jasmen divonis 3 tahun penjara dengan denda Rp50 juta subsider 1 bulan penjara. Sementara dua konsultan lainnya, Fitradjaja Purnama dan Taryudi divonis 1 tahun penjara dengan denda Rp50 juta subsider 1 bulan penjara.

4. Billy hormati keputusan hakim.

Menurut Kuasa hukum Billy Sindoro, Ervin Lubis, ia dan kliennya akan berdiskusi secara internal terkait putusan majelis hakim terhadap Billy.

"Terkait putusan, kami menghormati yang sudah menjadi keputusan dari majelis hakim. Namun kami juga memiliki beberapa pertimbangan yang mungkin akan kami diskusikan secara internal dengan Pak Billy mengenai beberapa poin-poin dari pertimbangan majelis hakim," kata Ervin, kepada awak pers usai persidangan di PN Bandung, Jalan LLRE Martadinata Kota Bandung, Selasa (5/3). Yang lalu.

5. Mengacu pada fakta persidangan.

Ervin tetap bersikukuh terhadap fakta-fakta yang muncul di persidangan, di mana dalam pandangannya, menguatkan posisi kliennya tidak terlibat dalam proses penyuapan. Memang, sebagian besar saksi yang dihadirkan dalam persidangan tidak menyebut nama Billy, terutama pejabat-pejabat Pemerintah Kabupaten Bekasi dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Namun, berkaca pada Berita Acara Pemeriksaan (BAP), Billy disebut sebagai orang yang mengatur penyuapan Meikarta pada Pemerintah Kabupaten Bekasi. Sementara tiga terdakwa lainnya, yakni Henry Jasmen, Taryudi, dan Fitra Djaja Purnama (Konsultan Lippo Group), adalah orang-orang yang dititah Billy.

Dalam rangkuman kisah suap Meikarta, peran Billy dapat dianggap sebagai doenpleger alias orang yang menyuruh melakukan. Artinya, bukan Billy sendiri yang melakukan tindak pidana melainkan dibantu para eksekutor.

"Tentunya kami tetap berpegangan pada pasal 185 KUHAP bagaimana fakta-fakta yang terungkap di persidangan ‎merupakan alat bukti yang sah," tuturnya.

(transakt)