Rabu, 23 Januari 2019 | 04:50 WIB

Fahmi, Penyuap Mantan Kalapas Sukamiskin Bandung Didakwa Beri Uang dan Barang

foto

 

Fahmi, Penyuap Mantan Kalapas Sukamiskin Bandung Didakwa Beri Uang dan Barang.

BANDUNG –  www.transaktual.com

Fahmi Darmawansyah (47) yang merupakan salah satu Penyuap mantan Kalapas Sukamiskin, Wahid Husen (54) kembali dihadapkan ke Pengadilan Tipikor Bandung (12/12/2018). Warga binaan itu didakwa bersama-sama dengan Andri Rahmat didakwa memberi sesuatu kepada Wahid Husen yang dilakukan secara berlanjut.

Tim PU KPK (Penuntut Umum pada Komisi Pemberantasan Korupsi) yang terdiri dari Ikhsan Fernandi Z, Kresno Anto Wibowo, Dian Hamisena, M. Takdir Suhan dan Trimulyono Hendardi mendakwa Fahmi telah memberi sesuatu berupa 1unit mobil jenis double Cabin 4x4 merk Mitsubishi Triton, sepasang sepatu boot, sepasang sandal merk Kenzo, 1 buah tas cluth bag merk Louis Vuitton dan uang dengan jumlah Rp39.500.000,- kepada Wahid Husen selaku Kalapas Sukamiskin.

Dalam Surat Dakwaan No. 114/TUT.01.04/24/11/2018 atas nama terdakwa Fahmi Darmawansyah menyebutkan, bahwa terdakwa sejak bulan Juni 2017 menjadi Warga Binaan (Narapidana) di Lapas klas 1 Sukamiskin Bandung yang menjalani hukuman penjara selama 2 tahun 8 bulan berdasarkan Putusan Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat No. 42/PID.SUS/TPK/2017/PN/JKT.PST dalam kasus Tipikor pemberian suap kepada pejabat Bakamla (Badan Keamanan Laut).

Terdakwa yang menempati kamar (sel) no.11Blok Timur Atas dan memiliki Tamping (Tahanan Pendamping) Aldi Candra dan Andri Rahmat yang bertugas sebagai asisten pribadi terdakwa untuk membersihkan kamar, membelikan makanan, memijat dan mengurus kepentingan pribadi lainnya dengan diberikan gaji oleh terdakwa masing-masing sebesar Rp1.500.000,- setiap bulannya. Andri Rahmat adalah Napi yang menjalani hukuman selama 17 tahun atas kasus pidana umum/pembunuhan.

Adapun keadaaan sel yang ditempati oleh terdakwa dilengkapi berbagai fasilitas di luar standar kamar Lapas yang seharusnya, antara lain dilengkapi televisi berikut jaringan TV Kabel, AC, Kulkas kecil, tempat tidur spring bed, furniture dan dekorasi interior HPL (High Pressure Laminated), terdakwa juga diperbolehkan menggunakan telepon genggam (HP) di dalam Lapas.

Berbagai fasilitas tersebut diketahui oleh Wahid Husen selaku Kalapas Sukamiskin yang menggantikan pejabat sebelumnya yaitu Dedi Handoko sejak bulan Maret 2018. Wahid Husen membiarkan hal tersebut terus berlangsung, bahkan terdakwa dan Andri Rahmat diberikan kepercayaan untuk berbinis mengelola kebutuhan para Napi seperti merenovasi kamar (sel) dan jasa pembuatan saung. Selain itu terdakwa diperbolehkan membangun sendiri saung dan kebun Herbal di dalam areal Lapas serta membangun ruangan berukuran 2 x 3 meter persegi yang dilengkapi dengan tempat tidur untuk keperluan melakukan hubungan badan suami - istri, baik itu dipergunakan terdakwa saat dikunjungi istrinya maupun disewakan terdakwa kepada Napi lain dengan tarif Rp650.000,- sehingga terdakwa mendapatkan keuntungan yang dikelola Andri Rahmat.

Selain memperoleh fasilitas istimewa, Fahmi juga mendapatkan kemudahan dari Wahid Husen dalam bentuk ijin berobat ke luar Lapas seperti melakukan cek kesehatan secara rutin di RS. Hermina Arcamanik ataupun di RS Hermina Pasteur. Pelaksanaan ijin berobat biasanya dilakukan pada hari Kamis namun setelah berobat terdakwa tidak langsung kembali ke Lapas melainkan mampir ke rumah kontrakannya di Perum Permata Arcamanik Blok F No. 15 - 16 Sukamiskin Pacuan Kuda Bandung dan baru kembali pada hari Senin. Segala keperluan untuk pelaksanaan ijin berobat terdakwa ke luar Lapas tersebut disiapkan oleh Andri Rahmat termasuk pengurusan biaya sopir mobil ambulance.

Tentang pemberian mobil jenis Double Cabin 4 x 4 merk Mitsubishi Triton warna hitam, terdakwa menyuruh istri nya Inneke Koesherawati untuk mencarikannya. Inneke lalu meminta bantuan Deni Marchtin (adik iparnya) untuk mencarinya. Pada 19 Juli 2018 terdakwa memberitahu Andri Rahmat permintaan Kalapas. Wahid Husen lalu menyuruh agar mobil diantar ke rumahnya di jalan Tirtawangi Utara No. 3 Bojongsoang Kabupaten Bandung. Mobil diantar oleh Ike Rahmawaty (adik ipar) terdakwa dan diserahkan langsung kepada Wahid Husen.

Pemberian terdakwa selanjutnya adalah sepasang sendal merk Kenzo untuk istri Wahid Husen. Pada bulan Juli 2018, terdakwa melalui Andri Rahmat memberikan 1 tas cluth bag merk Vuitton untuk Wahid Husen yang diterima melalui Hendry Saputra. Tas tersebut nantinya akan diberikan Wahid Husen kepada Sri Puguh Budi Utami (Dirjen Pemasyarakatan Kemenkumham) sebagai kado ulang tahun.

Perbuatan terdakwa merupakan tindak pidana korupsi sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Dakwaan Primair  dalam Pasal 5 ayat (1)  huruf b/Subsidair Pasal 13 UU No. 31 Tahun 1999 Tentang PTPK Sebagaimana telah Diubah dengan UU No. 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan UU No. 31 Tahun 2001 Tentang PTPK jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana jo. Pasal 64 ayat (1) KUHPidana. Sidang yang diketuai Daryanto, SH., MH tersebut akan dilanjutkan seminggu lagi dengan agenda pemeriksaan para saksi.

(Y CHS/transaktual).