Rabu, 24 Oktober 2018 | 05:32 WIB

Jadi Tersangka, Ratna Sarumpaet Diperiksa di Polda Metro Jaya Jakarta

foto

 

Jadi Tersangka, Ratna Sarumpaet Diperiksa di Polda Metro Jaya Jakarta.

Jakarta – www.transaktual.com

Rumah Ratna Sarumpaet digeledah. Ratna yang kini menyandang status tersangka hoax ini dinyatakan pengacaranya bersikap kooperatif terhadap penyidik yang memproses kasusnya. Pengacara Ratna, Insank Nasrudin, berbicara di dekat rumah Ratna yang telah digeledah, di Jalan Kampung Melayu Kecil V/24, Bukitduri, Jakarta Selatan, Jumat (5/10/2018). Dia berharap Ratna tak ditahan oleh polisi.

"Tapi harapan kami sebagai kuasa hukum, (Ratna) tidak dilakukan penahanan. Karena Ibu Ratna Sarumpaet kami nilai sangat kooperatif," kata Insank. Polisi telah menggeledah rumah Ratna selama dua jam. Polisi membawa pelbagai barang, antara lain laptop, kartu-kartu ATM, nota bukti transaksi, hingga buku tabungan.

Kini Ratna dibawa kembali ke Markas Polda Metro Jaya. Dia tidak tahu hal apa gerangan yang akan ditanyakan petugas ke Ratna. Yang jelas, Ratna dinilainya sudah habis tenaga malam ini. "Tadi kesepakatan, kami akan minta (pemeriksaan dilakukan besok pagi saja) karena Bu Ratna ini sangat keletihan. Sangat letih sehingga mungkin besok pagi (diperiksanya)," kata Insank.

Pencegahan Ratna Sarumpaet diduga terkait UU ITE.  

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Argo Yuwono menerangkan, dalam penetapan tersangka Ratna Sarumpaet, penyidik sudah mengamankan sejumlah barang bukti.

"Barang bukti berupa bill dari struk ATM debit yang dilakukan oleh Ibu Ratna Sarumpaet waktu pembayaran di rumah sakit," ujarnya di Polda Metro Jaya, Jakarta Pusat, Kamis (4/10/2018).

Kemudian, kata Argo, ada buku catatan operator operasi sudah diamankan. "Jadi kita mempunyai bukti-bukti yang banyak," tambahnya. Lebih lanjut, Argo memastikan penyidik telah melakukan pemeriksaan terhadap beberapa orang saksi.

"Kami juga memeriksa saksi Direktur Rumah Sakit Bina Estetika," ujar Argo. Pada tingkatan bawah, Argo menerangkan, perawat rumah sakit tersebut juga turut dimintai keterangan. "Selanjutnya adalah dokter yang merawat (Ratna) pun sudah kami lakukan pemeriksaan," pungkasnya.

Seperti diketahui, nama Ratna Sarumpaet tengah ramai diperbincangkan publik. Sebelumnya Ratna Sarumpaet diketahui oleh pihak Kepolisian menyalahgunakan dana bantuan untuk musibah kapal di Danau Toba, Sumatera Utara untuk kepentingan operasi sedot lemak pipi kiri pada 21 September 2018.

Kemudian Ratna diketahui mengaku melakukan kebohongan telah dianiaya seseorang setelah hasil operasinya memberi efek lebam di wajah. Hal tersebut lantaran dia menceritakan terkait kondisi wajahnya yang lebam, yang awalnya diduga dianiaya pada tanggal 21 September 2018 di Bandung.

Namun, pada akhirnya, Ratna mengakui bahwa dirinya memberitakan sesuatu yang bohong, bahwa tidak ada penganiayaan terhadapnya, melainkan efek dari operasi wajah yang dilakukannya di RS Bina Estetika pada tanggal yang sama.

Ratna Sarumpaet Tersangka Hoax, Dengan Pasal yang Disangkakan.

Penyidik Polda Metro Jaya menetapkan Ratna Sarumpaet sebagai tersangka hoax penganiayaan. Ratna disangkakan dengan UU Peraturan Hukum Pidana dan UU ITE.

"UU Nomor 1 Tahun 1946 dan Pasal 28 ayat 2 UU ITE," kata Kasubdit Jatanras AKBP Jerry Siagian saat dimintai konfirmasi, Kamis (4/10/2018).

Ratna menjadi tersangka setelah polisi menerima laporan soal hoax penganiayaan. Ratna memang mengakui kebohongannya setelah polisi membeberkan fakta-fakta dugaan isu penganiayaan.

Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto sebelumnya menyebut ada sejumlah laporan yang diterima Polda Metro Jaya dan Bareskrim Polri soal hoax penganiayaan Ratna Sarumpaet. Setyo menyebut penyebar hoax bisa dijerat dengan Pasal 14 dan 15 UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana atau UU ITE.

"Nanti kita tahu si A peran apa, si B peran apa, si C peran apa. Tentang ancaman hukumannya, kita bisa gunakan ancaman Pasal 14 dan 15 UU Nomor 1 Tahun 1946. Jabarannya, kalau dia buat keonaran atau membuat kegaduhan dengan menyebarkan berita hoax, ancamannya 10 tahun. Atau kita bisa gunakan juga dengan UU ITE kalau dia menyebarluaskan dengan teknologi," kata Setyo kepada wartawan di Amos Cozy Hotel, Jl Melawai, Jakarta Selatan, Kamis (4/10).

(fdn/fjp/transakt)