Rabu, 24 Oktober 2018 | 05:07 WIB

FESTIVAL TARI SERAMPANG DUABELAS 2018 di ANJUNGAN SUMUT 4-5 Agustus 2018

foto

www.transaktual.com

Adalah hal yang menggembirakan, dan harus dicatat sebagai peristiwa kebudayaan yang penting, bahwa pada tahun 2014, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI telah menetapkan Tari Serampang Duabelas sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia. Disusul tahun berikutnya, 2015, Sauti, sebagai pencipta tari Serampang Duabelas, dianugerahi pula penghargaan kebudayaan berupa Tanda Kehormatan Satyalancana Kebudayaan dari Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, karena jasanya dalam pengembangan dan pewarisan budaya Melayu.

Berawal dari enam tahun lalu, Anjungan Sumatera Utara TMII bekerjasama dengan Lembaga Pengembangan Kebudayaan Melayu (LPKM) Sumatera Timur, dan Komunitas Seniman Tradisi (KOSENTRA) Sumatera Utara, menyelenggarakan kegiatan fenomenal pemecahan rekor menggelar tari Serampang Duabelas selama 12 jam nonstop, sejak pukul 12 siang hingga 12 malam, pada tanggal 12 bulan 12 tahun 2012, oleh 12 pasang penari, dengan iringan 12 penabuh gendang.

Berikutnya, pada tahun 2013, Anjungan Sumatera Utara TMII memulai penyelenggaraan Festival Tari Serampang Duabelas se-Jakarta, yang berlanjut pada tahun 2014, 2016, dan 2017, dengan skala Nusantara. Peserta berdatangan tidak hanya dari sanggar-sanggar tari yang ada di berbagai Kabupaten dan Kota di Sumatera Utara, tapi juga dari Jakarta, Riau, Jambi, Kepulauan Riau, Yogyakarta, dll.

Tari Serampang Duabelas adalah tari Melayu yang digubah oleh Sauti, seorang maestro tari Melayu modern yang berasal dari Perbaungan (Serdang Bedagai). Tari ini adalah salah satu dari sembilan koreografi termashur karya Sauti. Diramu dari berbagai ragam gerak dan musik Spanyol, Portugis, Persia, dan sebagainya, berbasis khazanah adat, seni budaya, dan prikehidupan keseharian masyarakat Melayu pada masanya, di kawasan Deli dan Serdang. Dan dipentaskan pertama kali di Medan, pada tahun 1938.

Sepuluh tahun setelah proklamasi, Presiden Soekarno, yang tertarik dengan rentak dinamis tari yang bercerita tentang resam pergaulan muda-mudi Melayu ini, kemudian menampilkannya di Istana Negara dan Istana Bogor, menyambut tamu-tamu negara. Rombongan kesenian dari Medan yang dipimpin oleh Sauti, diundang secara khusus oleh Presiden yang cinta seni ini. Lebih dari itu, beliau juga mengangkat tari Serampang Duabelas menjadi bagian dari diplomasi kebudayaan pemerintah Republik Indonesia, dan dipertunjukkan di Moskowa, Beijing, dan negara-negara Eropa Timur pada kurun tahun 1950-an. Tidak hanya itu, Bung Karno pun mencanangkan tari Serampang Duabelas sebagai ‘tari nasional’, dan kemudian diajarkan di seluruh sekolah di Indonesia. Dengan segera, tari pergaulan yang indah ini pun menyebar, bahkan sampai ke Malaysia, dan Singapura.

Pada tahun 1959 secara nasional diselenggarakan Sayembara Tari Serampang Duabelas yang pertama di Jakarta. Untuk yang kedua, pada tahun 1960, sayembara diselenggarakan di Surabaya. Dan Medan, pada tahun 1963, mendapat giliran menjadi kota penyelenggara Sayembara Tari Serampang Duabelas yang ketiga.

Perobahan situasi sosial-politik pasca 1965, sempat menyurutkan perkembangan tari Serampang Duabelas, namun tidak sampai berhenti. Pengajaran masih berlangsung di sekolah-sekolah dan sanggar di berbagai tempat di Indonesia. Beberapa daerah di Sumatera Utara sesekali ada juga menyelenggarakan perlombaan, tapi hanya bersifat lokal.

Berpuluh tahun, sayembara atau perlombaan yang bersifat nasional sudah tidak lagi dibuat.

Bertolak dari latar kesejarahan yang panjang tersebut, serta terdorong oleh tanggungjawab untuk mengenalkan dan merayakan kembali karya tari Sauti yang telah menjadi ikon kesenian Melayu tersebut, maka Anjungan Sumatera Utara yang berkedudukan di Taman Mini “Indonesia Indah” (TMII) Jakarta, menganggap penting untuk melanjutkan kembali tradisi penyelenggaraan sayembara tari Serampang Duabelas - yang pada tahun 2017, dan 2018 ini, dilaksanakan bekerja sama dengan Komunitas Ronggeng Deli. Dengan tujuan, agar buah karya jenial Sauti yang telah melintasi zaman dan benua, serta memberi warna yang kuat bagi khazanah seni tari Indonesia itu tidak hilang dan terlupakan. Dan lebih penting lagi, dari spirit festival ini, diharapkan terlahir pula penciptaan karya-karya tari baru dari para Sauti muda, para koreografer Melayu yang cerdas dan kreatif.

Festival Tari Serampang Duabelas se-Nusantara Ke-4 Tahun 2018 ini, akan diselenggarakan selama dua hari, sejak pagi hiingga malam hari, Sabtu dan Minggu, tanggal 4 dan 5 Agustus 2018, di Anjungan Sumatera Utara TMII. Peserta yang tercatat akan hadir, hampir dari semua Kabupaten dan Kota di Sumatera Utara, serta dari sejumlah Sanggar Tari di Jabodetabek, Pekanbaru, Kepulauan Meranti, Siak, Lingga, Palembang, Bengkulu, Bandung, Yogyakarta, dan beberapa kota lainnya.

Festival dirayakan dengan pameran foto, manuskrip, dan pelbagai data kesejarahan Tari Serampang Duabelas, pemutaran film pendek, diskusi, dan ditutup dengan Konser Teatrikal Komunitas Ronggeng Deli.

(Tatan Daniel/Transaktual).