Rabu, 24 Oktober 2018 | 06:35 WIB

Kadis PUPR KBB, Dkk Keukeuh Mungkir Memberi Uang Untuk Paslon Elin - Maman

foto

 

Kadis PUPR KBB, Dkk Keukeuh Mungkir Memberi Uang Untuk Paslon Elin - Maman.

www.transaktual.com

Keterangan Adyoto dan Weti Lembanawati bahkan H. Abubakar tentang adanya pemberian uang dari Kadis PUPR, Anugrah dan atau melalui Bendaharanya, Erni sebesar Rp50 juta tetap disangkal oleh keduanya. Dalam hal ini Penuntut Umum masih menunggu keterangan ahli yang akan hadir pada sidang minggu depan. 

Saat dikonfirmasi wartawan usai sidang 6/8/3018), salah satu Penuntut Umum, Budi Nugraha mengatakan keheranannya. " Ada apa dengan saksi tersebut. Kami telah berulangkali menanyakan kepada saksi (Anugrah) tapi tetap tidak mengakui telah memberikan. Padahal sudah dikonfrontir dengan para saksi yang lain terutama Weti dan Adyoto. Ini mempersulit persidangan dan menghalang-halangi,  ingat kasus Miryam ? Ini sama, " katanya.

Ditambahkan olehnya,  Semua hal yang timbul di persidangan akan kami laporkan dulu, Nanti baru ketahuan sikap kami, ujar Budi Nugraha. 

Mungkirnya Kepala Dinas PUPR KBB di persidangan sebanyak 2 (dua) kali, telah menjadi catatan Penuntut Umum KPK. Menurut Majelis Hakim, terserah saja apakah catatan tersebut diteruskan. Terserah Pak Jaksa, ujar Ketua Majelis Hakim. 

Dalam persidangan , saat dicecar oleh Ketua Majelis Hakim, Fuad Muhammadi, SH.,MH, Anugrah tetap mungkir. Meski Penuntut Umum telah memaparkan adanya kontak melalui hubungan telepon seluler antara dirinya dengan Adyoto, Kadis PUPR dan Bendaharanya tetap pada keterangannya bahwa tidak ada pemberian uang untuk paslon Elin - Maman. 

Sebelum nya dalam persidangan 30 - 7 - 2018 lalu keterangan Kepala Dinas PUPR KBB, Anugrah  menyangkal telah memberikan uang kepada mantan Bupati Abubakar melalui Adiyoto. Padahal dalam Surat dakwaan Asep Hikayat, Anugrah menyerahkan uang tak kurang dari Rp50.000.000,-.

Demikian juga Ida Nurhamida, Kadis Perikanan dan Peternakan KBB itu tidak mengetahui atau menitipkan sesuatu. Padahal menurut Aang Nugraha, ada Rp65.000.000,- yang dititipkan melalui Rahman yang menggunakan ransel warna hitam.

Sementara itu menurut Heru Budi Purnomo, Sesdis Pertanian dan Peternakan KBB itu menyatakan, kalau mau ketemu Aang, silakan saja, katanya kepada Rahman. Berulangkali baik Hakim maupun Penuntut Umum berupaya memberi pengertian dan mengancam agar memberikan keterangan yang benar, tapi para saksi pemberi tetap pada keterangannya sesuai dengan yang ada dalam BAP.

"Jangan kaget kalau nanti ada proses lanjutannya, kata Hakim anggota Rojai S. Irawan, SH. " juga Jangan kaget kalau nanti ada proses hukum," kata Hakim kepada para saksi terutama Kadis PUPR dan Kadis Pertanian dan Peternakan itu. Dalam hal ini PU (Penuntut Umum) KPK, Budi Nugraha mengancam para saksi yang diduga memberi keterangan tidak benar. Tak tangggung-tanggung, Budi menyebut Pasal  UU  dengan ancaman pidana.

( Y CHS/transakt).