Kamis, 16 Agustus 2018 | 22:28 WIB

May Day (Peringatan Hari Buruh), Presiden Jokowi Pilih Berkegiatan di Bogor

foto

 

Ilustrasi, Presiden Jokowi di Istana Bogor beberapa waktu lalu..(viva).

Transaktual.com

Puluhan ribu orang akan melakukan aksi demo di depan Istana Merdeka, Jakarta, saat peringatan Hari Buruh 1 Mei 2018. Salah satu yang menjadi sorotan terkait Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 20 tahun 2018 tentang tenaga kerja asing (TKA).

Walau ada aksi buruh di beberapa titik lokasi, termasuk Istana, Presiden Joko Widodo tetap beraktivitas seperti biasa. Namun tidak dilakukan di Istana Merdeka, Jakarta, melainkan di Istana Bogor.

Aktivitas Presiden Jokowi di Istana Bogor besok, yang bertepatan dengan Hari Buruh Internasional atau may day, adalah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Bogor mengenai Islam Wasathiyah. Dijadwalkan berlangsung sekitar pukul 10.30 WIB.

Rencananya, kegiatan itu akan dihadiri 100 ulama dan cendekiawan muslim dari berbagai negara termasuk Indonesia.

"Dari Inggris, dari Amerika, dari Kanada, Australia. Bahkan Presiden dari komunitas Jepang, Presiden dari Korean Muslim Federation, bahkan Presiden CIA (China Islam Association) datang," kata Staf Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerja Sama Antar Agama dan Peradaban, Din Syamsuddin, di Istana Negara, Jakarta, Senin, 30 April 2018.

Din mengatakan, diharapkan dari KTT Bogor ini nantinya, disimpulkan kesepakatan-kesepakatan tentang cara hidup Islam yang wasathiyah. Menurutnya, ini bisa menjadi solusi dalam problem peradaban dunia saat ini.

"Kami akan keluar dengan satu pesan tersebut, Bogor message," kata mantan Ketum Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu.

KTT Bogor ini juga diharapkan bisa memberi pesan kepada umat Islam tentang pentingnya pemahaman Islam yang wasathiyah. Yakni Islam yang memberi jalan tengah, tidak gampang mengkafirkan orang, tetapi memberi solusi dan mengedepankan musyawarah dalam setiap penyelesaian masalahnya.

"Jangan terjebak dalam radikalisme, fundamentalisme, ekstrimisme. Tapi marilah kita kembali ke sebuah wawasan yang sentral dalam Islam dan keluar kita ingin usulkan kepada dunia wasathiah Islam dapat dipertimbangkan untuk menjadi solusi bagi krisis peradaban dunia dewasa ini," tutur Din Syamsudin.

(ren/transaktual)