Sabtu, 15 Desember 2018 | 06:25 WIB

Gempa dan tsunami Palu - Donggala : Bantuan internasional berdatangan

foto

TB Koko Asmara

Gempa dan tsunami Palu - Donggala : Bantuan internasional berdatangan.

www.transaktual.com

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho sebelumnya mengungkapkan enam kebutuhan bantuan untuk menanggulangi bencana. Di antaranya, transportasi udara, tenda, alat pengolahan air, generator, field hospital (rumah sakit lapangan), dan fogging.

Namun kini, kebutuhan rumah sakit lapangan, tenaga medis dan fogging, tidak lagi menjadi prioritas. Bantuan internasional difokuskan pada transportasi, pengelahan air (water treatment), genset untuk kebutuhan listrik, dan tenda.

"Beberapa negara yang menawarkan tim SAR dan tenaga medis sudah diputus untuk tidak difasilitasi. Jadi mereka menawarkan tenaga-tenaga SAR untuk mencari korban, tapi tidak sesuai dengan kebutuhan pemerintah Indonesia. Sehingga, tidak difasilitasi," ujar Sutopo dalam konferensi pers yang digelar Rabu (03/10).

Sebelumnya, Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan bantuan luar negeri untuk bencana di Sulteng akan difokuskan dalam dua hal, yakni rehabilitasi dan rekonstruksi, sama seperti yang dilakukan saat penanganan bencana tsunami di Aceh pada 2004 lalu.

"Kita lebih memfokuskan bantuan asing untuk rehabilitasi dan rekonstruksi," kata Jusuf Kalla di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, Selasa (03/10).

Untuk bantuan asing yang bersifat tanggap darurat, Kalla mengatakan pemerintah Indonesia masih menerimanya selama itu memenuhi kebutuhan.

Sutopo dari BNPB mengungkapkan, hingga kini sudah ada 29 negara dan empat badan kemanusiaan yang menawarkan bantuan, namun hanya 17 negara yang sesuai dengan kebutuhan pemerintah Indonesia yang sudah ditetapkan.

"Kita pilah apa yang ditawarkan oleh mereka, tetap dalam hal ini enam kebutuhan utama, dalam hal ini transportasi udara, pesawat dalam hal ini, water treatment, genset, rumah sakit lapangan, tenaga medis dan fogging," kata Sutopo.

"Dari 29 negara yang disortir tadi, hanya 17 yang menawarkan sesuai kebutuhan kita," imbuhnya. Negara-negara itu antara lain AS, Perancis, Ceko, Swiss, Norwegia, Hungaria, Turki, Uni Eropa, Australia, Korea Selatan, Arab Saudi, Qatar, Selandia Baru, Singapura, Thailand, Jepang, India, dan Cina.

Lebih jauh dia mengungkapkan, empat negara sudah menawarkan bantuan pesawat angkut Hercules C-130 untuk mengangkut bantuan kemanusiaan, yakni dua pesawat dari Singapura, satu pesawat dari Korea Selatan dan satu pesawat dari pemerintah Inggris.

Adapun Jepang selain menawarkan bantuan pesawat Hercules C-130, negara itu pula menawarkan helicopter MI-17. "Kita juga mengingat kapasitas bandara untuk menampung pesawat besar Hercules tadi hanya tujuh, jadi saat ini dirasa cukup," kata Sutopo.

Dua pesawat Hercules C-130 yang membawa bantuan kemanusiaan dari Singapura sudah terparkir di hangar C Bandara Haji Muhammad Sulaiman, Sepinggan, Balikpapan, Kalimantan Timur.

Dua pesawat yang mengangkut bantuan kemanusiaan ini dijadwalkan akan bertolak ke Bandara Mutiara Sis-Al Jufri, Palu, Sulawesi Tengah, pada Rabu (03/10) siang.

Dua pesawat Hercules dari Singapura sudah tiba pada Selasa (02/10) petang di Balikpapan, namun jadwal keberangkatan masih menunggu antri jalur transportasi udara mengingat landasan pacu apron di Bandara Palu terbatas.

Sutopo mengungkapkan, Balikpapan akan dijadikan entry point (pintu masuk) bagi pesawat yang membawa bantuan internasional. "Dukungan keimigrasian juga telah disiapkan," ujarnya.

Petugas BNPB dan Kementerian Luar Negeri pula akan ditempatkan untuk memfasilitasi bantuan internasional dan posko secara berkala memberikan laporan secara berkala kepada Menkopolhukam yang ditunjuk Presiden Joko Widodo sebagai koordinator satgas tanggap darurat bencana Sulawesi Tengah.

Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Wiranto mengungkapkan dengan kondisi terkini Bandara Mutiara Sis-Al Jufri di Palu, pesawat Hercules C-130 memang ideal karena bobotnya berat dan bisa mendarat dan lepas landas di landasan pacu yang pendek.

Bandara Mutiara Sis-Al Jufri sejatinya memiliki landasan pacu sepanjang 2.500 meter, namun hanya 2.000 meter yang bisa digunakan lantaran sisanya rusak akibat gempa.

"Hanya pesawat angkut berat jenis itu lah yang bisa mendarat karena runway yang sepanjang 2.500 meter, sekitar 200 meter di ujung cracked, sehingga yang bisa efektif dipakai hanya 2.000 meter. Dan pesawat C-130 lah yang sangat mampu untuk bisa melakukan short landing dan short take off," jelas Wiranto dalam konferensi pers Selasa (02/10).

Menurut Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara, Marsekal Pertama Novyan Samyoga, kedatangan bantuan internasional dipusatkan di bandara Balikpapan, mengingat bandara Mutiara Aljufri, palu yang tidak memungkinkan menampung pesawat bantuan berukuran besar.

Bantuan internasional yang tiba di Balikpapan, akan diangkut menggunakan pesawat TNI AU yang ukurannya lebih kecil. Setidaknya, bantuan yang sudah tiba berupa makanan, kebutuhan pokok dan perlengkapan pengungsian.

"Memang diarahkan bantuan yang sangat dibutuhkan, seperti makanan dan sebagaimana dan tentunya peralatan. Namun untuk medik tidak karena kaitannya nanti dengan regulasi dan sebagainya. Namun yang lebih penting saat ini adalah logistic dan peralatan," papar

Sementara, bantuan dalam bentuk uang akan diberikan langsung kepada pemerintah Indonesia yang diwakili oleh BNPB, disesuaikan dengan peraturan yang berlaku.

Menurut rilis BNPB, Korea Selatan akan menyumbang senilai US$1 juta, Cina melalui Palang Merah Cina akan menyumbang sebesar US$200 juta, dan AHA center akan mengirimkan Tim ERAT ke Palu. Adapun Uni Eropa telah menggelontorkan bantuan kemanusiaan darurat senilai 1,5 juta euro atau Rp25 miliar.

Komisaris untuk Bantuan Kemanusiaan dan Manajemen Krisis Uni Eropa, Christos Stylianides mengatakan bantuan ini diberikan sebagai aksi solidaritas Uni Eropa terhadap korban bencana.

Hak atas foto Getty Images Image caption Bandara Palu mulai beroperasi, utamanya untuk bantuan kemanusiaan, dan buat mengangkut para penyints, khususnya yang mengalami luka. Namun begitu banyak warga memenuhi bandara untuk bisa terbang keluar Palu, dengan pesawat Hercules milik militer.

"Kami bertindak cepat untuk menyalurkan bantuan darurat kepada mereka yang paling terkena dampak di Indonesia. Bantuan kami akan membantu yang paling rentan dan membantu menyediakan pasokan penting seperti makanan, tempat tinggal, air dan sanitasi serta persediaan medis," ujar Sytlianides dalam keterangan tertulisnya.

Selain itu, Uni Eropa juga mengirim seorang ahli kemanusiaan ke daerah tersebut untuk membantu mengoordinasikan upaya bantuan Uni Eropa dan telah mengaktifkan layanan pemetaan satelit Copernicus darurat Uni Eropa.

(transakt)